Di Telaga.......Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,"Telagaku itu sepanjang perjalanan sebulan dan sudut-sudutnya sama. Airnya lebih putih dari susu, aromanya lebih harum dari kasturi, dan pundi-pundinya bagai bintang-bintang di langit. Siapa yang minum dari telaga itu tidak akan haus selamanya." (HR. Bukhari-Muslim)
Kamis, Februari 17, 2011
Laksana Bidadari dalam Hati Suami 2 (Menjaga Pandangan)
Laksana Bidadari dalam Hati Suami 2 (Menjaga Pandangan)
Berkulit Mulus dan Bertubuh Molek
Allah Ta’ala berfirman,
كَأَنَّهُنَّ الْيَاقُوتُ وَالْمَرْجَانُ
“Seakan – akan para bidadari itu permata yaqut dan marjan” (Qs. Ar-Rahman: 58)
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Salah satu wanita surga, sungguh dapat dilihat putih betisnya dari balik tujuh puluh pakaian. Hal ini karena Allah berfirman, “Mereka bagaikan Yaqut dan Marjan.” Beliau melanjutkan, “Yaqut adalah batu. Kalau saja kawat dimasukkan ke dalamnya, kemudian kamu menjernihkanny, pasti kamu bisa melihat kawat dari balik batu tersebut.” (Hr. At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban, di dalam Al Jami’)
Pada masa modern seperti ini industri kaca, kristal, batu mulia sudah lah maju dengan pesatnya, dan dalam ayat tersebut Allah menggambarkan keadaan bidadari laksana dua jenis batu mulia yang menunjukkan keelokan mereka yang memikat, kemurnian Yaqut dan keputihan Marjan. Sudah selayaknya makhluk seperti bidadari ini diciptakan dari zat yang murni, jernih, lembut, sesuai dengan kemolekan dan kecantikan yang sungguh sangat menakjubkan. Dengan gambaran seperti itu tentulah lelaki penghuni surga dibuat terkesima melihat betapa berkilau dan bersinarnya tubuh bidadari.
Diriwayatkan dari Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Masing – masing dari mereka mendapatkan dua orang istri (bidadari) yang tulang kedua kaki mereka dapat terlihat dari balik daging mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketebalan daging yang transparan pada bidadari menunjukkan kekhususan dan perbedaan antara daging bidadari dan daging wanita dunia. Bagaimana tidak?daging bidadari yang transparan itu menunjukkan betapa bening daging tubuh bidadari. Disebutkan juga bahwa tubuh yang transparan itu bercampur dengan warna putih hingga membuat tubuhnya menjadi putih, bening, indah, dan cantik jelita. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
كَأَنَّهُنَّ بَيْضٌ مَكْنُونٌ
“Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik.” (Qs. Ash-Shaffat: 49)
Orang Arab mengenal telur yang tersimpan dengan baik itu adalah telur burung unta yang terpendam dalam pasir. Warnanya putih dan tidak ada yang melebihi putihnya. Ciri yang transparan dan bening ini dilukiskan dalam Al-Qur’an dengan ungkapan Yaqut, Marjan, Al-Lu’lu Al-Maknuun, Baidhun Maknuun.
Tidak Liar Pandangannya
Allah Ta’ala berfirman,
فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ
“Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan dan menundukkan pandangannya.” (Qs. Ar-Rahman: 56)
وَعِنْدَهُمْ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ عِينٌ
“Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang sopan dan menundukkan pandangannya dan matanya jelita.” (Qs. Ash-Shaffat: 48)
وَعِنْدَهُمْ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ أَتْرَابٌ
“Dan pada sisi mereka ada bidadari-bidadari yang menundukkan pandangannya dan sebaya umurnya.” (Qs. Shad: 52)
Wanita dunia yang menyakiti suaminya dengan memandang lelaki selain suaminya, dan menikmati pandangan tersebut menunjukkan kekurangan dan kehinaannya. Maka Allah pun mengganti wanita yang demikian dengan bidadari-bidadari yang sempurna lagi istimewa bagi hambaNya yang shalih, yang mana bidadari-bidadari tersebut hanya menujukan pandangannya terhadap suami-suami mereka. Terdapat point penting yang bisa kita ambil dari sini, yakni:
1.Ayat ini menjelaskan tentang keutamaan bidadari yang menunjukkan pandangannya hanya bagi suaminya. Mereka terbiasa untuk tidak melihat ke lelaki lain kendatipun mereka memiliki mata jelita, dan satu-satunya pemandangan yang mereka lihat hanyalah suami-suami mereka. Ya, karena di mata mereka…suami merekalah yang paling tampan.
Saudariku…ingin kubertanya padamu, sudahkah engkau menunjukkan pandangan penuh kasih sayang, kerinduan dan cinta hanya bagi suamimu? Bagaimana dengan keadaan suami dalam pandangan matamu, wahai saudariku?
2.Ayat ini menjelaskan bahwa para bidadari itu sangat mencintai suami mereka. Bahkan mereka “menutup mata” kepada lelaki lain untuk selama-selamanya. Pandangan, hati, cinta, bahkan dirinya hanya ditujukan bagi suami mereka. Hal tersebut tidak mungkin dilakukan kecuali oleh orang yang hidup dengan penuh rasa cinta yang mendalam kepada Sang Suami, seperti kedalaman cinta Qais pada Laila. Karena cinta yang mendalam dapat menjadikan seseorang hanya melihat kepada orang yang ia cintai.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung..” (Qs. An-Nuur: 31)
Dan alangkah indahnya perkataan penyair,
“Segala peristiwa berawal dari pandangan mata
Jilatan api bermula dari setitik bara
Berapa banyak pandangan yang membelah hati
Laksana anak panah yang melesat dari tali”
Mata ibarat duta, sedangkan hati sebagai rajanya. Betapa banyak cinta itu bermula, hanya karena pandangan mata yang sungguh sangat menggoda yang lambat laun bergerak menjalar dan mengakar di dalam dada. Maka, jika kau biarkan matamu memandang liar kepada lelaki yang tiada halal bagimu, yakinkah engkau masih mampu mempertahankan sebentuk cinta dalam hati bagi suamimu?!
Bersambung insyaallah
***
Artikel muslimah.or.id
Penulis: Fatihdaya Khairani
Murajaah: Ust. Ammi Nur Baits
Maraji’:
1.Tamasya ke Surga, Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, Darul Falah, Jakarta.
2.Panduan Lengkap Nikah (Dari “A” sampai “Z”), Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdirrazzak, Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan ke-4, Bogor, 2006.
3.Bersanding Dengan Bidadari di Surga, Dr.Muhamamd bin Ibrahim An-Naim, Daar An Naba’, Cetakan Pertama, Surakarta, 2007.
4.Mengintip Indahnya Surga, Syaikh Mahir Ahmad Ash-Shufi, Aqwam, Cetakan Pertama, Solo, 2008.
5.Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, Darul falah, Cetakan ke-11, Jakarta, 2003.
6.Majelis Bulan Ramadhan, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, Pustaka Imam Syafi’i, Cetakan ke-2, Jakarta, 2007.
7.Bidadari Surga Agar Engkau Lebih Mulia Darinya, ‘Itisham Ahmad Sharraf, IBS, Cetakan ke-3, Bandung 2008
Laksana Bidadari dalam Hati Suami 1 (Berhias Untuk Suami)
Laksana Bidadari dalam Hati Suami 1 (Berhias Untuk Suami)
Saudariku,
Pada saatnya nanti kan tiba, engkau akan menjadi istri -Insya Allah-
Atau bahkan sekarang ini pun engkau sudah menjadi istri. Dan sudah barang tentu engkau pasti ingin menjadi wanita shalihah lagi berakhlak karimah. Ciri khas wanita shalihah yaitu wanita yang selalu berusaha merebut hati, mencari cinta suami, selalu mengharap ridha suaminya agar mendulang pahala, demi meretas jalan menuju Al-Firdaus Al-A’la…di sanalah, dia akan berharap bisa menjadi “permaisuri” suaminya ketika di dunia.
Lalu, lewat jalan manakah hati seorang lelaki akan terebut…dan ridhanya pun menyambut, sehingga dua jiwa dalam satu cinta akan bertaut?
Saudariku…Bunga-bunga cinta suami dapat mekar bersemi,
Harum semerbak mewangi di taman hati,
Jika ia senantiasa disirami
Manis ucapan, santun perkataan, lembut perlakuan, dan baiknya pergaulan seorang wanita akan menjadi siraman yang dapat menumbuhkan benih-benih cinta di hati sanubari sang suami. Dan bukan hal yang mustahil, karena akhlakmulah, duhai wanita…hati suami pun akan mencinta.
Agar memiliki akhlak wanita yang mulia, seorang wanita seyogyanya berkiblat pada figur wanita abadi nan sempurna. Sosoknya banyak digambarkan dengan parasnya yang sungguh sangat cantik jelita. Kiranya engkau pun tahu…karena dia adalah…bidadari surga.
Bidadari surga teramat istimewa, wanita yang Allah ciptakan dengan penuh kesempurnaan yang didambakan pria. Dengan segala keistimewaan yang ada dalam dirinya, kiranya itu menjadi tantangan bagi wanita dunia untuk bisa berusaha menyamai karakteristik bidadari surga. Menyinggung soal karakteristik, tentunya wanita dunia tidak akan mampu bersaing dengan bidadari dalam urusan fisik, dan yang bisa kita contoh adalah ciri khas akhlaknya. Baiklah, mari kita bersama-sama telusuri tabiat yang khas dari bidadari surga.
Cantik Parasnya, Baik Akhlaknya, dan Harum Bau Tubuhnya
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati bidadari dengan keelokan dan kecantikan yang sungguh sempurna, sebagaimana yang tergambar dalam ayat berikut,
وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ
” Dan Kami pasangkan mereka dengan bidadari – bidadari yang cantik dan bermata jelita. ” (Qs. Ath-Thur: 20) – bagian yg berwarna sebaiknya dibuang, agar sesuai dg terjemahannya
Huur ( حور) adalah bentuk jamak dari kata haura (حوراء ) yaitu wanita muda usia yang cantik mempesona, kulitnya mulus dan biji matanya sangat hitam.
Hasan berkata, “Al-Haura (الحوراء )adalah wanita yang bagian putih matanya amat putih dan biji matanya sangat hitam.”
Zaid bin Aslamberkata, “Al-Haura adalah wanita yang matanya amat putih bersih dan indah.”
Muqatilberkata, “Al-Huur adalah wanita yang wajahnya putih bersih.”
Mujahid berkata, “Al-Huur Al-’Iin (الحور العين ) adalah wanita yang matanya sangat putih dan sumsum tulang betisnya terlihat dari balik pakaiannya. Orang bisa melihat wajahnya dari dada mereka karena dada mereka laksana cermin.”
Seorang penyair berkata,
Mata yang sangat hitam di ujungnya telah membunuh kita
Lalu tak menghidupkan kita lagi
Menaklukkan orang yang punya akal hingga tak bergerak
Dan mereka ialah makhluk Allah yang paling indah pada manusia
Benarlah memang, karena wanita juga akan tampak terlihat lebih menawan jika ia bermata indah, dengan kelopak mata yang lebar, berbiji mata hitam dikelilingi warna putih lagi bersih.
فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ
“Di dalam surga – surga ada bidadari – bidadari yang baik – baik lagi cantik – cantik.”. (Qs. Ar-Rahman: 70)
Khairaatun ( خَيْرَاتٌ ) adalah jamak dari kata khairatun, sedangkan hisaan adalah bentuk jamak dari hasanatun ( حسنة). Maksudnya, bidadari – bidadari tersebut baik akhlaknya dan cantik wajahnya. Beruntunglah seorang pria yang diberi anugrah wanita secantik akhlak bidadari surga. Perhatikan dan tanyakan pada diri kita…
Apakah kita sudah sepenuhnya memenuhi hak-hak suami, memuliakannya dengan sepenuh hati dan segenap jiwa? Apakah kita sudah berterima kasih atas kebaikannya? Pernahkah kita menyakitinya dengan sadar atau tidak??
Duhai istri…Suami yang beriman merupakan orang yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan marah jika engkau menghina dan menyakiti lelaki yang memiliki kedudukan yang mulia di sisiNya. Sebagai gantinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menugaskan para bidadari untuk menjunjung kemuliaan suami-suami mereka di dunia ketika para istri menyakiti mereka - sekalipun sedikit - di dunia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya ketika di dunia, melainkan istri suami tersebut yang berasal dari kalangan bidadari akan berkata, ‘Jangan sakiti dia! Semoga Allah mencelakakanmu, sebab dia berada bersamamu hanya seperti orang asing yang akan meninggalkanmu untuk menemui kami.” (Hr. Tirmidzi dan Ahmad. Menurut Imam Tirmidzi, ini hadits hasan)
Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu’anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sekiranya ada seorang wanita penghuni surga, yang menampakkan dirinya ke bumi, niscaya ia akan menerangi kedua ufuknya serta memenuhinya dengan semerbak aroma. Kerudungnya benar-benar lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (Hr. Bukhari)
Saudariku, sebagaimana kita ketahui…kecantikan paras wanita dunia seperti kita sangatlah minim jika dibandingkan kecantikan paras bidadari surga. Kita niscaya tidak akan mampu menandingi kecantikan mereka, namun apakah kita harus bersedih? Sama sekali tidak!
Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang beraneka rupa, sebagai tanda dari kehendak dan kekuasaanNya. Maka terimalah apapun yang telah Ia karuniakan bagimu, karena itu yang terbaik untukmu. Meskipun wajah kurang cantik dan fisik kurang menarik, janganlah takut untuk tidak dicinta. Berhiaslah dan percantiklah dirimu dengan hal – hal yang Allah halalkan, karena istri shalihah bukan hanya yang tekun beribadah saja, namun seorang istri yang bisa menyenangkan hati suami ketika suami memandangnya.
Saudariku… Dan apakah kau lupa, fitrahmu sebagai wanita yang tentu suka akan perhiasan? Perhiasan terkait dengan makna keindahan, sehingga seorang perempuan shalihah senantiasa menjaga daya tarik dirinya bagi suaminya… karena wanita adalah salah satu sumber kebahagiaan lelaki. Apabila seorang istri senantiasa melanggengkan berhias dan mempercantik diri di hadapan suami, itu akan menjadi hal yang menambah keintiman hubungannya dengan suami. Sang Suami pun tentu akan semakin cinta pada istri pujaan hatinya insyaallah.
Bagi saudari-saudariku pada umumnya serta saudara-saudaraku pada khususnya, enak dipandang dan menyenangkan hati bukan berarti harus cantik sekali bukan? Dan berhias pun tidak harus menggunakan aksesori yang terlalu mahal . Lalu bagaimana jika Allah menentukan engkau mendampingi lelaki yang secara materi belum mampu “madep mantep“? (baca: hanya cukup untuk membiayai kebutuhan pokok)
Aku ingatkan engkau pada nasihat para pendahulu kita kepada putrinya…
Abul Aswad berkata pada putrinya, “Janganlah engkau cemburu, dan sebaik-baik perhiasan adalah celak. Pakailah wewangian, dan sebaik – baik wewangian adalah menyempurnakan wudhu.”
Ketika Al-Farafisah bin Al-Ahash membawa putrinya, Nailah, kepad Amirul Mukminin ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, dan Beliau telah menikahinya, maka ayahnya menasihatinya dengan ucapannya, “Wahai putriku, engkau didahulukan atas para wanita dari kaum wanita Quraisy yang lebih mampu untuk berdandan darimu, maka peliharalah dariku dua hal ini: bercelaklah dan mandilah, sehingga aromamu adalah aroma bejana yang terguyur hujan.”
Memang tubuhmupun dicipta tiada bercahaya dan harum mewangi laksana bidadari, namun engkau tentu bisa memakai wewangian yang disukai suamimu ketika engkau berada di kediamanmu bersamanya, dengan begitu penampilanmu tambah terlihat menawan dipandang mata.
Bersambung insyaallah
***
Artikel muslimah.or.id
Penulis: Fatihdaya Khairani
Murajaah: Ust. Ammi Nur Baits
Maraji’:
1.Tamasya ke Surga, Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, Darul Falah, Jakarta.
2.Panduan Lengkap Nikah (Dari “A” sampai “Z”), Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdirrazzak, Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan ke-4, Bogor, 2006.
3.Bersanding Dengan Bidadari di Surga, Dr.Muhamamd bin Ibrahim An-Naim, Daar An Naba’, Cetakan Pertama, Surakarta, 2007.
4.Mengintip Indahnya Surga, Syaikh Mahir Ahmad Ash-Shufi, Aqwam, Cetakan Pertama, Solo, 2008.
5.Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, Darul falah, Cetakan ke-11, Jakarta, 2003.
6.Majelis Bulan Ramadhan, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, Pustaka Imam Syafi’i, Cetakan ke-2, Jakarta, 2007.
7.Bidadari Surga Agar Engkau Lebih Mulia Darinya, ‘Itisham Ahmad Sharraf, IBS, Cetakan ke-3, Bandung 2008.
.
Saudariku,
Pada saatnya nanti kan tiba, engkau akan menjadi istri -Insya Allah-
Atau bahkan sekarang ini pun engkau sudah menjadi istri. Dan sudah barang tentu engkau pasti ingin menjadi wanita shalihah lagi berakhlak karimah. Ciri khas wanita shalihah yaitu wanita yang selalu berusaha merebut hati, mencari cinta suami, selalu mengharap ridha suaminya agar mendulang pahala, demi meretas jalan menuju Al-Firdaus Al-A’la…di sanalah, dia akan berharap bisa menjadi “permaisuri” suaminya ketika di dunia.
Lalu, lewat jalan manakah hati seorang lelaki akan terebut…dan ridhanya pun menyambut, sehingga dua jiwa dalam satu cinta akan bertaut?
Saudariku…Bunga-bunga cinta suami dapat mekar bersemi,
Harum semerbak mewangi di taman hati,
Jika ia senantiasa disirami
Manis ucapan, santun perkataan, lembut perlakuan, dan baiknya pergaulan seorang wanita akan menjadi siraman yang dapat menumbuhkan benih-benih cinta di hati sanubari sang suami. Dan bukan hal yang mustahil, karena akhlakmulah, duhai wanita…hati suami pun akan mencinta.
Agar memiliki akhlak wanita yang mulia, seorang wanita seyogyanya berkiblat pada figur wanita abadi nan sempurna. Sosoknya banyak digambarkan dengan parasnya yang sungguh sangat cantik jelita. Kiranya engkau pun tahu…karena dia adalah…bidadari surga.
Bidadari surga teramat istimewa, wanita yang Allah ciptakan dengan penuh kesempurnaan yang didambakan pria. Dengan segala keistimewaan yang ada dalam dirinya, kiranya itu menjadi tantangan bagi wanita dunia untuk bisa berusaha menyamai karakteristik bidadari surga. Menyinggung soal karakteristik, tentunya wanita dunia tidak akan mampu bersaing dengan bidadari dalam urusan fisik, dan yang bisa kita contoh adalah ciri khas akhlaknya. Baiklah, mari kita bersama-sama telusuri tabiat yang khas dari bidadari surga.
Cantik Parasnya, Baik Akhlaknya, dan Harum Bau Tubuhnya
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati bidadari dengan keelokan dan kecantikan yang sungguh sempurna, sebagaimana yang tergambar dalam ayat berikut,
وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ
” Dan Kami pasangkan mereka dengan bidadari – bidadari yang cantik dan bermata jelita. ” (Qs. Ath-Thur: 20) – bagian yg berwarna sebaiknya dibuang, agar sesuai dg terjemahannya
Huur ( حور) adalah bentuk jamak dari kata haura (حوراء ) yaitu wanita muda usia yang cantik mempesona, kulitnya mulus dan biji matanya sangat hitam.
Hasan berkata, “Al-Haura (الحوراء )adalah wanita yang bagian putih matanya amat putih dan biji matanya sangat hitam.”
Zaid bin Aslamberkata, “Al-Haura adalah wanita yang matanya amat putih bersih dan indah.”
Muqatilberkata, “Al-Huur adalah wanita yang wajahnya putih bersih.”
Mujahid berkata, “Al-Huur Al-’Iin (الحور العين ) adalah wanita yang matanya sangat putih dan sumsum tulang betisnya terlihat dari balik pakaiannya. Orang bisa melihat wajahnya dari dada mereka karena dada mereka laksana cermin.”
Seorang penyair berkata,
Mata yang sangat hitam di ujungnya telah membunuh kita
Lalu tak menghidupkan kita lagi
Menaklukkan orang yang punya akal hingga tak bergerak
Dan mereka ialah makhluk Allah yang paling indah pada manusia
Benarlah memang, karena wanita juga akan tampak terlihat lebih menawan jika ia bermata indah, dengan kelopak mata yang lebar, berbiji mata hitam dikelilingi warna putih lagi bersih.
فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ
“Di dalam surga – surga ada bidadari – bidadari yang baik – baik lagi cantik – cantik.”. (Qs. Ar-Rahman: 70)
Khairaatun ( خَيْرَاتٌ ) adalah jamak dari kata khairatun, sedangkan hisaan adalah bentuk jamak dari hasanatun ( حسنة). Maksudnya, bidadari – bidadari tersebut baik akhlaknya dan cantik wajahnya. Beruntunglah seorang pria yang diberi anugrah wanita secantik akhlak bidadari surga. Perhatikan dan tanyakan pada diri kita…
Apakah kita sudah sepenuhnya memenuhi hak-hak suami, memuliakannya dengan sepenuh hati dan segenap jiwa? Apakah kita sudah berterima kasih atas kebaikannya? Pernahkah kita menyakitinya dengan sadar atau tidak??
Duhai istri…Suami yang beriman merupakan orang yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan marah jika engkau menghina dan menyakiti lelaki yang memiliki kedudukan yang mulia di sisiNya. Sebagai gantinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menugaskan para bidadari untuk menjunjung kemuliaan suami-suami mereka di dunia ketika para istri menyakiti mereka - sekalipun sedikit - di dunia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya ketika di dunia, melainkan istri suami tersebut yang berasal dari kalangan bidadari akan berkata, ‘Jangan sakiti dia! Semoga Allah mencelakakanmu, sebab dia berada bersamamu hanya seperti orang asing yang akan meninggalkanmu untuk menemui kami.” (Hr. Tirmidzi dan Ahmad. Menurut Imam Tirmidzi, ini hadits hasan)
Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu’anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sekiranya ada seorang wanita penghuni surga, yang menampakkan dirinya ke bumi, niscaya ia akan menerangi kedua ufuknya serta memenuhinya dengan semerbak aroma. Kerudungnya benar-benar lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (Hr. Bukhari)
Saudariku, sebagaimana kita ketahui…kecantikan paras wanita dunia seperti kita sangatlah minim jika dibandingkan kecantikan paras bidadari surga. Kita niscaya tidak akan mampu menandingi kecantikan mereka, namun apakah kita harus bersedih? Sama sekali tidak!
Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang beraneka rupa, sebagai tanda dari kehendak dan kekuasaanNya. Maka terimalah apapun yang telah Ia karuniakan bagimu, karena itu yang terbaik untukmu. Meskipun wajah kurang cantik dan fisik kurang menarik, janganlah takut untuk tidak dicinta. Berhiaslah dan percantiklah dirimu dengan hal – hal yang Allah halalkan, karena istri shalihah bukan hanya yang tekun beribadah saja, namun seorang istri yang bisa menyenangkan hati suami ketika suami memandangnya.
Saudariku… Dan apakah kau lupa, fitrahmu sebagai wanita yang tentu suka akan perhiasan? Perhiasan terkait dengan makna keindahan, sehingga seorang perempuan shalihah senantiasa menjaga daya tarik dirinya bagi suaminya… karena wanita adalah salah satu sumber kebahagiaan lelaki. Apabila seorang istri senantiasa melanggengkan berhias dan mempercantik diri di hadapan suami, itu akan menjadi hal yang menambah keintiman hubungannya dengan suami. Sang Suami pun tentu akan semakin cinta pada istri pujaan hatinya insyaallah.
Bagi saudari-saudariku pada umumnya serta saudara-saudaraku pada khususnya, enak dipandang dan menyenangkan hati bukan berarti harus cantik sekali bukan? Dan berhias pun tidak harus menggunakan aksesori yang terlalu mahal . Lalu bagaimana jika Allah menentukan engkau mendampingi lelaki yang secara materi belum mampu “madep mantep“? (baca: hanya cukup untuk membiayai kebutuhan pokok)
Aku ingatkan engkau pada nasihat para pendahulu kita kepada putrinya…
Abul Aswad berkata pada putrinya, “Janganlah engkau cemburu, dan sebaik-baik perhiasan adalah celak. Pakailah wewangian, dan sebaik – baik wewangian adalah menyempurnakan wudhu.”
Ketika Al-Farafisah bin Al-Ahash membawa putrinya, Nailah, kepad Amirul Mukminin ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, dan Beliau telah menikahinya, maka ayahnya menasihatinya dengan ucapannya, “Wahai putriku, engkau didahulukan atas para wanita dari kaum wanita Quraisy yang lebih mampu untuk berdandan darimu, maka peliharalah dariku dua hal ini: bercelaklah dan mandilah, sehingga aromamu adalah aroma bejana yang terguyur hujan.”
Memang tubuhmupun dicipta tiada bercahaya dan harum mewangi laksana bidadari, namun engkau tentu bisa memakai wewangian yang disukai suamimu ketika engkau berada di kediamanmu bersamanya, dengan begitu penampilanmu tambah terlihat menawan dipandang mata.
Bersambung insyaallah
***
Artikel muslimah.or.id
Penulis: Fatihdaya Khairani
Murajaah: Ust. Ammi Nur Baits
Maraji’:
1.Tamasya ke Surga, Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, Darul Falah, Jakarta.
2.Panduan Lengkap Nikah (Dari “A” sampai “Z”), Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdirrazzak, Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan ke-4, Bogor, 2006.
3.Bersanding Dengan Bidadari di Surga, Dr.Muhamamd bin Ibrahim An-Naim, Daar An Naba’, Cetakan Pertama, Surakarta, 2007.
4.Mengintip Indahnya Surga, Syaikh Mahir Ahmad Ash-Shufi, Aqwam, Cetakan Pertama, Solo, 2008.
5.Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, Darul falah, Cetakan ke-11, Jakarta, 2003.
6.Majelis Bulan Ramadhan, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, Pustaka Imam Syafi’i, Cetakan ke-2, Jakarta, 2007.
7.Bidadari Surga Agar Engkau Lebih Mulia Darinya, ‘Itisham Ahmad Sharraf, IBS, Cetakan ke-3, Bandung 2008.
.
Senin, Januari 17, 2011
Balutilah diri dengan Qona'ah.....
Dalam perjalanan pulang dari Cangkringan......terlihat seorang ibu sedang mengorek-ngorek tanah dengan ranting kayu......sementara anak2 nya sedang bermain-main......diri ini berkata apa yang dicari oleh ibu itu......sewaktu mobil lewat dan mendekat ke arahnya......terlihat hasil carian ibu itu.....piring, mangkuk dan perkakas dapur yang lain......saban hari kita makan diatas piring yang berhias cantik.....di gubuk yang nyaman dan indah.....akan tetapi ibu ini.....habis gubuknya runtuh ke bumi.....tapi beliau tetap berusaha mencari apa yang tersisa dari gubuknya......melihatnya berkaca mata.....sedangkan sewaktu di kawasan puncak......pengunjung dihiburkan dengan lagu dari pembesar suara.....makanan dijual......permaian anak2......deraian ketawa dan bergaya menggambil gambar kerna kawasan itu sudah menjadi tempat wisata yang populer di Jogja masa kini......
“Lihatlah orang yang dibawah kalian dan janganlah melihat orang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian untuk tidak memandang hina nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kalian.” (Diriwayatkan Muslim dan At-Tirmidzy)
Ini hasil pencarian ibu itu.....
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari (bahaya) rasa gundah gulana dan kesedihan, (rasa) lemah dan malas, (rasa) bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penguasaan orang lain.”
“Ya Allah, jadikanlah aku merasa qona’ah (merasa cukup, puas, rela) terhadap apa yang telah engkau rizkikan kepadaku, dan berikanlah berkah kepadaku di dalamnya, dan jadikanlah bagiku semua yang hilang dariku dengan lebih baik.”
Mereka memerlukan sentuhan kasih dari kita......
Bantuan dapat disalurkan ke:
Rekening BNI UGM Yogyakarta
Nomor rekening 0125792540 a.n. Devi Novianti
Rekening Bank Syari’ah Mandiri Cabang 094 Kaliurang Yogyakarta
Nomor rekening 0947008920 a.n. Ginanjar Indrajati Bintoro
Rekening Bank Mandiri Cabang Yogyakarta Gedung Magister 13705
Nomor rekening 137-00-065.4879-2 a.n. Bintoro
Rekening BCA
Nomor rekening 0130537146 a.n. Hanif Nur Fauzi
Bagi anda yang telah berpartisipasi, harap mengkonfirmasikan diri kepada kami melalui sms dengan format sebagai berikut:
Nama/Alamat/TanggalKirim/JumlahUang/RekeningTujuan/Merapi
Ke nomor :
0852 5205 2345 (Wiwit Hardi P.)
atau
0856 4305 2159 (Nizamul Adli)
YM: ypiapeduli@yahoo.com
Atas partisipasi dan perhatian anda kami ucapkan jazaakumullahu khairaan.
Mereka memerlukan sentuhan kasih dari kita......
Bantuan dapat disalurkan ke:
Rekening BNI UGM Yogyakarta
Nomor rekening 0125792540 a.n. Devi Novianti
Rekening Bank Syari’ah Mandiri Cabang 094 Kaliurang Yogyakarta
Nomor rekening 0947008920 a.n. Ginanjar Indrajati Bintoro
Rekening Bank Mandiri Cabang Yogyakarta Gedung Magister 13705
Nomor rekening 137-00-065.4879-2 a.n. Bintoro
Rekening BCA
Nomor rekening 0130537146 a.n. Hanif Nur Fauzi
Bagi anda yang telah berpartisipasi, harap mengkonfirmasikan diri kepada kami melalui sms dengan format sebagai berikut:
Nama/Alamat/TanggalKirim/JumlahUang/RekeningTujuan/Merapi
Ke nomor :
0852 5205 2345 (Wiwit Hardi P.)
atau
0856 4305 2159 (Nizamul Adli)
YM: ypiapeduli@yahoo.com
Atas partisipasi dan perhatian anda kami ucapkan jazaakumullahu khairaan.
Kamis, Januari 13, 2011
Kibarkan Tauhid, Bencana Apapun Yang Melanda!
Bismillah…
Sudah dua bulan, bahkan lebih, sebagian wilayah Jogja, Magelang dan sekitarnya ‘mengerang’ kesakitan akibat deraan musibah yang bertubi-tubi. Erupsi Merapi, awan panas, lahar, hujan abu, pengungsian, banjir lahar dingin, hingga jembatan putus dan tanah longsor bagaikan untaian cobaan yang tak terputus.
Derita Cangkringan
Cangkringan, salah satu kecamatan di Sleman yang paling banyak terdampak bencana ini. Wilayah kecamatan Cangkringan yang terdampak bencana erupsi Merapi ini diantaranya adalah desa Argomulyo, Wukirsari, Umbulharjo, Glagaharjo dan Kepuharjo. Di desa-desa tersebut, anda bisa menyaksikan perkampungan yang telah hilang, reruntuhan rumah, tumpukan material yang membenamkan bangunan, masjid yang rusak dan hilang, jembatan putus, dan sisa-sisa bangkai ternak yang hangus terbakar awan panas. Salah satu contohnya, di dusun Kopeng, Jambu, Petung, dan Kaliadem yang berada di wilayah desa Kepuharjo, akan didapati di sana suasana yang sangat memprihatinkan… Pemukiman yang sudah hancur -bahkan musnah- akibat landaan lahar dan awan panas… Pohon-pohon yang terbakar dan tumbang…Jalan-jalan yang tertutup oleh bebatuan dan pasir ‘muntahan’ Gunung Merapi.
Kepedulian dan Bantuan
Di tengah kondisi semacam ini, berbagai relawan yang tergerak hatinya untuk memberikan bantuan pun datang melakukan sesuatu demi keselamatan dan kelanjutan hidup warga yang tertimpa bencana tersebut. Saat ini, pengungsian masih berlangsung di balai desa dan sekolah-sekolah -meskipun tidak sebanyak ketika di Stadion Maguwoharjo-. Sementara itu, shelter/hunian sementara yang dibangun masih dalam proses pengerjaan. Bantuan dari berbagai pihak berdatangan dalam bentuk sembako, pakaian, kebutuhan rumah tangga, dan lain sebagainya.
Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA) bersama dengan Islamic Centre Bin Bazz (ICBB), Pondok Pesantren Jamilurrahman dan Majelis Ta’lim Al-Furqon Magelang bekerjasama dengan pihak-pihak terkait -pemerintah dan warga setempat- untuk ikut meringankan beban mereka. Di antara kegiatan yang sudah dijalankan dalam proses recovery ini adalah; kerja bakti massal, pengajian rutin, pengajian umum, bantuan logistik, bantuan buku dan alqur’an, temu takmir se kecamatan Cangkringan, bantuan untuk renovasi masjid, dan lain-lain.
Ini semua tentu saja bisa terlaksana dengan pertolongan dari Allah, kemudian juga berkat bantuan dari segenap saudara-saudara kami kaum muslimin dari berbagai penjuru. Hal ini terbukti dengan aliran donasi dari kaum muslimin melalui rekening kami yang sedemikian besar -200 juta lebih- untuk program tanggap bencana ini. Untuk ke depan donasi -dalam bentuk barang atau uang- tetap masih sangat diperlukan. Mengingat kondisi yang masih belum stabil dan ditambah lagi ancaman banjir lahar dingin di bantaran sungai-sungai yang berhulu di lereng Gunung Merapi yang sewaktu-waktu bisa saja menghantam pemukiman.
Semuanya Sudah Ditakdirkan…
Agenda yang rencananya kami lakukan hari ini -Senin, 10 Januari 2011- adalah kerja bakti massal bersama relawan dari Magelang di bawah pimpinan Ust. Muhammad Wujud -hafizhahullah- yang berjumlah sekitar 600 orang. Akan tetapi, karena akses jalan menuju Jogja dari Magelang tertutup akibat banjir lahar dingin yang memutuskan jembatan dan membenamkan sebagian pemukiman, sehingga agenda ini pun ditunda. Semuanya berjalan dengan takdir Allah. Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
Kami pun menyadari, bahwa saudara kami di Magelang membutuhkan bantuan, sebagaimana saudara kami di Cangkringan juga membutuhkan bantuan. Dalam dua-tiga pekan terakhir, ratusan relawan dari Magelang berduyun-duyun ‘menjenguk’ kondisi lereng Merapi dan membersihkan ‘wajah’nya yang tertimbun pasir dan bebatuan. Ini merupakan bukti rasa simpati dan kecintaan yang tertanam di dalam hati mereka kepada saudara-saudaranya. Bukan perjalanan piknik yang sekedar ingin melihat-lihat keadaan dan potret sana-sini untuk disimpan dalam album kenangan.
Yang jelas, proses recovery ini adalah tanggung jawab kita bersama, bukan tugas pemerintah semata. Selain itu, pemulihan pemahaman agama mereka menuju cara beragama yang benar; tauhid dan sunnah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat ini, ini merupakan proyek besar bagi para da’i, relawan, dan dermawan yang ingin mencurahkan segenap kemampuannya di jalan dakwah tauhid yang mulia ini.
Kami tidak tahu, sampai kapan keadaan ini akan berlangsung. Yang jelas, kaum kufar -dengan segala persiapan mereka- telah bergerak dan melebarkan sayap-sayapnya di posko-posko pengungsian. Pintu mana pun akan mereka lalui untuk menggapai tujuan mereka. Apabila kita tidak segera berbuat, bisa jadi bencana kehilangan rumah pada akhirnya akan berubah menjadi bencana kehilangan aqidah, banjir bebatuan pun pada akhirnya akan berubah menjadi banjir kemusyrikan! Allahul musta’aan.
Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Agenda Tim Recovery Merapi YPIA
http://muslim.or.id/dari-redaksi/agenda-kegiatan-recovery-merapi-ypia-bulan-januari-2011.html
Anda Ingin Berpartisipasi?
Bantuan dapat disalurkan ke:
Rekening BNI UGM Yogyakarta
Nomor rekening 0125792540 a.n. Devi Novianti
Rekening Bank Syari’ah Mandiri Cabang 094 Kaliurang Yogyakarta
Nomor rekening 0947008920 a.n. Ginanjar Indrajati Bintoro
Rekening Bank Mandiri Cabang Yogyakarta Gedung Magister 13705
Nomor rekening 137-00-065.4879-2 a.n. Bintoro
Rekening BCA
Nomor rekening 0130537146 a.n. Hanif Nur Fauzi
Bagi anda yang telah berpartisipasi, harap mengkonfirmasikan diri kepada kami melalui sms dengan format sebagai berikut:
Nama/Alamat/TanggalKirim/JumlahUang/RekeningTujuan/Merapi
Ke nomor :
0852 5205 2345 (Wiwit Hardi P.)
atau
0856 4305 2159 (Nizamul Adli)
YM: ypiapeduli@yahoo.com
Atas partisipasi dan perhatian anda kami ucapkan jazaakumullahu khairaan.
www.ypia.or.id
Selasa, Januari 11, 2011
Wahai Sahabat
Wahai Sahabat....mariUst. Ahmad Tukiran Maulina......Umbulharjo Cangkringan
Tinggalkan Ma'siat
Segera Bertaubat
Taat kepada Allah
di setiap saat sehingga akhir hayat
semoga selamat dunia & akhirat
Rabu, Januari 05, 2011
Donasi Buletin at-Tauhid
Posted on January 4, 2011 by Abu Mushlih
Dengan Rp.20 ribu setiap bulan,
anda bisa mendakwahi 30 orang setiap Jum’at…
Untuk memurnikan Aqidah dan mengamalkan Sunnah…
Keistimewaan Media
Buletin at-Tauhid merupakan media dakwah yang sangat efektif karena:
1.Isi artikel bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah
2.Panjang artikel tidak terlalu pendek sehingga bisa memberikan pemahaman yang lebih jelas, serta tidak terlalu panjang sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk membacanya
3.Dibagikan secara gratis kepada jama’ah
4.Terbit minimal sebanyak 22 rim (11000 eksemplar) setiap Jum’at
5.Disebarkan setiap hari Jum’at di masjid-masjid dimana kaum muslimin senantiasa mengunjunginya dalam rangka menjalankan ibadah sholat Jum’at
6.Disebarkan di 70 masjid lebih di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya (menerima pemesanan luar kota, biaya kirim ditanggung pemesan)
7.Bisa diakses dengan internet melalui web buletin.muslim.or.id
Pembaca Buletin:
Buletin at-Tauhid dibaca oleh berbagai lapisan masyarakat, mencakup:
1.Pejabat Pemerintahan
2.Dosen
3.Mahasiswa
4.Pelajar
5.Karyawan
6.Ibu Rumah Tangga
7.Masyarakat umum
Tema Pembahasan:
Buletin at-Tauhid mengangkat berbagai tema menarik, di antaranya:
1.Tafsir
2.Hadits
3.Fiqih
4.Aqidah dan Manhaj
5.Akhlak dan Adab
6.Problematika Kontemporer
7.Penyucian Jiwa/Tazkiyatun Nafs
Besar Donasi Bulanan
Donasi penerbitan buletin at-Tauhid tidak harus menyita banyak uang anda. Satu bendel buletin yang dibagikan kepada jama’ah terdiri dari 30 eksemplar. Biaya per 30 eksemplar hanya Rp.5.000,-. Contoh:
1.30 eksemplar buletin per pekan, Rp.20.000
2.60 eksemplar buletin per pekan, Rp.40.000
3.600 eksemplar buletin per pekan, Rp.400.000
Rekening Donasi
Bank BNI Syari’ah no rek. 011 9707 754 a.n. Syarif Mustaqim.
Bagi yang sudah mengirimkan donasi harap konfirmasi via sms ke nomor 0852 9210 0098 dengan format: tanggal transfer_nama_alamat_besar donasi_buletin
Update laporan donasi bisa dilihat di:
www.buletin.muslim.or.id
www.ypia.or.id
http://muslim.or.id/dari-redaksi/donasi-buletin-at-tauhid.html
Dengan Rp.20 ribu setiap bulan,
anda bisa mendakwahi 30 orang setiap Jum’at…
Untuk memurnikan Aqidah dan mengamalkan Sunnah…
Keistimewaan Media
Buletin at-Tauhid merupakan media dakwah yang sangat efektif karena:
1.Isi artikel bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah
2.Panjang artikel tidak terlalu pendek sehingga bisa memberikan pemahaman yang lebih jelas, serta tidak terlalu panjang sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk membacanya
3.Dibagikan secara gratis kepada jama’ah
4.Terbit minimal sebanyak 22 rim (11000 eksemplar) setiap Jum’at
5.Disebarkan setiap hari Jum’at di masjid-masjid dimana kaum muslimin senantiasa mengunjunginya dalam rangka menjalankan ibadah sholat Jum’at
6.Disebarkan di 70 masjid lebih di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya (menerima pemesanan luar kota, biaya kirim ditanggung pemesan)
7.Bisa diakses dengan internet melalui web buletin.muslim.or.id
Pembaca Buletin:
Buletin at-Tauhid dibaca oleh berbagai lapisan masyarakat, mencakup:
1.Pejabat Pemerintahan
2.Dosen
3.Mahasiswa
4.Pelajar
5.Karyawan
6.Ibu Rumah Tangga
7.Masyarakat umum
Tema Pembahasan:
Buletin at-Tauhid mengangkat berbagai tema menarik, di antaranya:
1.Tafsir
2.Hadits
3.Fiqih
4.Aqidah dan Manhaj
5.Akhlak dan Adab
6.Problematika Kontemporer
7.Penyucian Jiwa/Tazkiyatun Nafs
Besar Donasi Bulanan
Donasi penerbitan buletin at-Tauhid tidak harus menyita banyak uang anda. Satu bendel buletin yang dibagikan kepada jama’ah terdiri dari 30 eksemplar. Biaya per 30 eksemplar hanya Rp.5.000,-. Contoh:
1.30 eksemplar buletin per pekan, Rp.20.000
2.60 eksemplar buletin per pekan, Rp.40.000
3.600 eksemplar buletin per pekan, Rp.400.000
Rekening Donasi
Bank BNI Syari’ah no rek. 011 9707 754 a.n. Syarif Mustaqim.
Bagi yang sudah mengirimkan donasi harap konfirmasi via sms ke nomor 0852 9210 0098 dengan format: tanggal transfer_nama_alamat_besar donasi_buletin
Update laporan donasi bisa dilihat di:
www.buletin.muslim.or.id
www.ypia.or.id
http://muslim.or.id/dari-redaksi/donasi-buletin-at-tauhid.html
Langganan:
Komentar (Atom)















