Laman

Selasa, Januari 11, 2011

Wahai Sahabat

Wahai Sahabat....mari
Tinggalkan Ma'siat
Segera Bertaubat
Taat kepada Allah
di setiap saat sehingga akhir hayat
semoga selamat dunia & akhirat
Ust. Ahmad Tukiran Maulina......Umbulharjo Cangkringan

Rabu, Januari 05, 2011

Donasi Buletin at-Tauhid

Posted on January 4, 2011 by Abu Mushlih


Dengan Rp.20 ribu setiap bulan,


anda bisa mendakwahi 30 orang setiap Jum’at…


Untuk memurnikan Aqidah dan mengamalkan Sunnah…


Keistimewaan Media


Buletin at-Tauhid merupakan media dakwah yang sangat efektif karena:

1.Isi artikel bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah


2.Panjang artikel tidak terlalu pendek sehingga bisa memberikan pemahaman yang lebih jelas, serta tidak terlalu panjang sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk membacanya


3.Dibagikan secara gratis kepada jama’ah


4.Terbit minimal sebanyak 22 rim (11000 eksemplar) setiap Jum’at


5.Disebarkan setiap hari Jum’at di masjid-masjid dimana kaum muslimin senantiasa mengunjunginya dalam rangka menjalankan ibadah sholat Jum’at


6.Disebarkan di 70 masjid lebih di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya (menerima pemesanan luar kota, biaya kirim ditanggung pemesan)


7.Bisa diakses dengan internet melalui web buletin.muslim.or.id


Pembaca Buletin:


Buletin at-Tauhid dibaca oleh berbagai lapisan masyarakat, mencakup:


1.Pejabat Pemerintahan


2.Dosen


3.Mahasiswa


4.Pelajar


5.Karyawan


6.Ibu Rumah Tangga


7.Masyarakat umum


Tema Pembahasan:


Buletin at-Tauhid mengangkat berbagai tema menarik, di antaranya:


1.Tafsir


2.Hadits


3.Fiqih


4.Aqidah dan Manhaj


5.Akhlak dan Adab


6.Problematika Kontemporer


7.Penyucian Jiwa/Tazkiyatun Nafs


Besar Donasi Bulanan


Donasi penerbitan buletin at-Tauhid tidak harus menyita banyak uang anda. Satu bendel buletin yang dibagikan kepada jama’ah terdiri dari 30 eksemplar. Biaya per 30 eksemplar hanya Rp.5.000,-. Contoh:


1.30 eksemplar buletin per pekan, Rp.20.000


2.60 eksemplar buletin per pekan, Rp.40.000


3.600 eksemplar buletin per pekan, Rp.400.000


Rekening Donasi


Bank BNI Syari’ah no rek. 011 9707 754 a.n. Syarif Mustaqim.


Bagi yang sudah mengirimkan donasi harap konfirmasi via sms ke nomor 0852 9210 0098 dengan format: tanggal transfer_nama_alamat_besar donasi_buletin


Update laporan donasi bisa dilihat di:


www.buletin.muslim.or.id


www.ypia.or.id


http://muslim.or.id/dari-redaksi/donasi-buletin-at-tauhid.html

Selasa, Januari 04, 2011

Bencana Membawa ‘Berkah’


Sebelum meletusnya Merapi......

Selepas Merapi....
Posted on January 3, 2011 by Abu Mushlih


Berkah, atau dalam ungkapan yang lebih lugas diartikan dengan kebaikan yang melimpah dan menetap. Berkah adalah milik Allah, yang ditetapkan ada pada sebagian individu, benda, tempat maupun waktu. Individu misalnya jasad Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Benda misalnya air zamzam. Tempat misalnya di Masjidil Haram. Waktu misalnya tanggal 9 Dzulhijjah di padang Arafah, Lailatul Qadar, dsb. Tidak boleh memastikan berkah ada pada sesuatu kecuali berdasarkan dalil. Sebab berkah adalah milik Allah, bukan hak milik kita.


Apabila dikatakan bahwa bencana Merapi ini membawa berkah, benarkah demikian? Sebagian orang menerjemahkan berkah itu dalam bentuk pasir yang melimpah. Sebagian lagi menafsirkannya dengan pemasukan retribusi kawasan wisata ‘bencana’ dan uang parkir yang terkumpul begitu banyak. Namun, terkadang orang lupa bahwa ternyata ada perkara lain yang lebih berarti bagi kehidupan mereka; yaitu kesadaran untuk kembali kepada Allah dan ajaran-Nya, bertaubat dan kembali taat kepada-Nya. Walau sayangnya hal ini tidak diperoleh semua orang. Hanya orang-orang yang dikehendaki Allah saja yang bisa menikmatinya.


Buktinya, ada juga da’i/penceramah di antara mereka yang menolak anggapan bahwa musibah datang karena kemaksiatan manusia. Musibah ini sekedar peristiwa alam yang telah ditakdirkan Allah. Jadi tidak ada sangkut-pautnya dengan dosa…, demikian dalam pandangannya. Hal itu jelas bertentangan dengan dalil-dalil yang ada dan fakta yang terbaca. Memang, tidak ada orang yang senang jika dirinya disalahkan. Namun kesadaran terhadap kekurangan dan kesalahan diri adalah pintu kebaikan yang harus dibuka lebar dan bukannya dikunci rapat-rapat.


Lebih dari sekali, kami melihat di antara pengungsi korban Merapi ini orang-orang yang baru mengenal sholat setelah musibah ini. Sebelumnya mereka tidak mengenal apa itu sholat, bagaimana caranya, apa bacaannya, padahal mereka mengaku muslim sebagaimana kita. Maka wajar sekali jika banyak anak-anak yang terlantar pendidikan agamanya, lha wong orang tuanya saja tidak pernah sholat. Allahul musta’an.


Masjid di pengungsian pun diisi oleh para jama’ah yang haus akan bimbingan dan motivasi. Mengapa mereka demikian? Banyak hal yang telah hilang dari mereka, tempat tinggal, fasilitas hidup, pekerjaan, dan yang paling mengenaskan apabila yang hilang adalah harapan dan cita-cita. Itulah yang mendorong alam bawah sadar mereka untuk kembali mendekat kepada Allah, memulangkan segala permasalahan kepada-Nya dan berharap kemurahan serta ampunan dari-Nya atas keteledoran di masa sebelumnya.


Bencana ini, seberat dan sepilu apapun, kami tak sanggup untuk menggambarkannya. Cukuplah kiranya anda renungkan bagaimana perasaan dan beban yang dialami oleh sebuah keluarga -bapak, ibu beserta anak-anaknya yang masih harus mengenyam pendidikan di sekolah- tatkala mereka kehilangan rumah yang selama ini mereka tinggali, tempat menjalin kasih sayang dan merenda masa depan… kini itu semua telah lenyap dari kehidupan mereka tanpa sebongkah batu-bata pun yang tersisa, tanpa atap yang menaungi mereka dari teriknya panas matahari dan guyuran hujan lebat… Hidup di pengungsian…, menanti berkah dan karunia dari Allah…, mengetuk pintu taubat dan berusaha untuk kembali kepada-Nya.


Adakah yang peduli dan masih bersemangat untuk membantu mereka? Ataukah berita duka ini telah hilang dan dihanyutkan oleh berita ‘kekalahan’ Tim Nasional kita? Apakah kekalahan sebuah tim sepak bola yang hanya berjumlah 11 orang bisa melupakan bangsa ini dari bencana yang menimpa ribuan warga lereng Merapi yang telah kehilangan 2000 rumah mereka? Masih adakah orang-orang berakal yang mau membantu saudaranya..? Sesungguhnya hanya kepada Allah kami berharap, dan hanya kepada-Nya kami memohon pertolongan. Wallahu waliyyut taufiq.


Bantuan dapat disalurkan melalui:


Rekening BNI UGM Yogyakarta


Nomor rekening 0125792540 a.n. Devi Novianti


Rekening Bank Syari’ah Mandiri Cabang 094 Kaliurang Yogyakarta


Nomor rekening 0947008920 a.n. Ginanjar Indrajati Bintoro


Rekening Bank Mandiri Cabang Yogyakarta Gedung Magister 13705


Nomor rekening 137-00-065.4879-2 a.n. Bintoro


Rekening BCA


Nomor rekening 0130537146 a.n. Hanif Nur Fauzi


Bagi anda yang telah berpartisipasi, harap mengkonfirmasikan diri kepada kami melalui sms dengan format sebagai berikut:


Nama/Alamat/TanggalKirim/JumlahUang/RekeningTujuan/Merapi


Ke nomor :


0852 5205 2345 (Wiwit Hardi P.)


atau


0856 4305 2159 (Nizamul Adli)


YM: ypiapeduli@yahoo.com


Atas partisipasi dan perhatian anda kami ucapkan jazaakumullahu khairaan.


Laporan Donasi dan Perkembangan Kegiatan bisa dilihat di website:


www.muslim.or.id


www.ypia.or.id

Sabtu, Desember 25, 2010

Wanita Bisu, Tuli, Buta dan Lumpuh Itu Adalah Ibunda Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit

Seorang lelaki yang saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat sebuah apel jatuh ke luar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah terbitlah air liur Tsabit, terlebih-lebih di hari yang sangat panas dan di tengah rasa lapar dan haus yang mendera. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang terlihat sangat lezat itu. Akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah apel itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya.


Maka ia segera pergi ke dalam kebun buah-buahan itu dengan maksud hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah apel yang telah terlanjur dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja ia berkata, “Aku sudah memakan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya”. Orang itu menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku hanya khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya”.


Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, “Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini.” Pengurus kebun itu memberitahukan, “Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam”.


Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orangtua itu, “Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah sudah memperingatkan kita lewat sabdanya : “Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka.”


Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba disana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata, “Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu sudikah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu ?” Lelaki tua yang ada di hadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, “Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat.” Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya, “Apa syarat itu tuan?” Orang itu menjawab, “Engkau harus mengawini putriku !”


Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, “Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang jatuh ke luar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu ?” Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, “Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang gadis yang lumpuh !”


Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan semacam itu patut dia persunting sebagai isteri gara-gara ia memakan setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, “Selain syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan !”


Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, “Aku akan menerima pinangannya dan perkawinannya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ‘Alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta’ala”. Maka pernikahanpun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum?.”


Tak dinyana sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi menjadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu, dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya.


Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. “Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada di hadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula”, kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berpikir mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya ?


Setelah Tsabit duduk disamping istrinya, dia bertanya, “Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta. Mengapa ?” Wanita itu kemudian berkata, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah”. Tsabit bertanya lagi, “Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa?” Wanita itu menjawab, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah. Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan?” tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata, “aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya mengunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta’ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta’ala”.


Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat saleh dan wanita yang akan memelihara dirinya dan melindungi hak-haknya sebagai suami dengan baik. Dengan bangga ia berkata tentang istrinya, “Ketika kulihat wajahnya?Subhanallah, dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap”.


Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik rupawan itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke penjuru dunia. Itulah Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit.


Artikel: abuthalhah.wordpress.com dipublikasi ulang oleh moslemsunnah.wordpress.com


__________________________________________________________
foto ini milik peribadi....foto puteri ana di masjid ba'da Asar..... Mersing Johor Malaysia.....

Kamis, Desember 16, 2010

Tentara Pun Bersujud Kepada-Nya



Beberapa hari ini, musholla peduli bencana Merapi di sebelah utara Stadion Maguwoharjo kedatangan jama’ah yang istimewa. Mereka adalah para tentara, prajurit-prajurit bangsa yang siap siaga mengerahkan tenaganya untuk membantu para pengungsi yang tengah dirundung duka akibat musibah erupsi Merapi. Kehilangan rumah, kehilangan harta, kehilangan sanak saudara, kehilangan usaha, kehilangan ternak, bahkan kehilangan cita-cita… Inilah mendung yang menggelayuti alam pikiran banyak pengungsi.


“Saya mau pulang kemana?”. “Saya mau kerja apa?”. “Saya mau makan apa?”. “Anak saya bagaimana?”. Itulah sebagian tanda tanya besar yang merasuk dalam hati mereka, mengusik pikiran dan terkadang harus memecahkan tangisan dan lelehan air mata… Hanya Allah tempat kami meminta pertolongan dari segala keburukan dan kesusahan yang terpampang di depan mata… Oleh sebab itu wajarlah apabila banyak sekali pihak yang menangkap kesedihan mereka dan mewujudkannya dalam berbagai bentuk kepedulian dan bantuan. Dan para tentara itu, saya rasa juga memiliki empati yanag dalam terhadap penderitaan yang sedang dialami oleh saudara-saudara mereka. Tidak tanggung-tanggung, Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) hari ini datang ke Maguwo meninjau kinerja anak buahnya dalam menjalankan tugas-tugas mereka dalam program rehabilitasi dan recovery pasca bencana ini. Sesuatu yang layak untuk dihargai dan mendapatkan perhatian dari anak-anak negeri.


Tatkala waktu sholat Zhuhur tiba, mereka pun berdatangan menghadiri sholat jama’ah dengan seragam mereka yang khas, baju loreng dan sepatu tentara yang kemudian mereka lepas di depan musholla. Mereka ganti sepatu itu dengan sandal jepit yang disediakan di sana -yang bahkan kanan dan kirinya tidak serasi-, melangkah ke tempat wudhu dan bersuci untuk menghadap Rabb langit dan bumi, menunaikan kewajiban sholat 5 waktu, sesuatu yang lebih mereka cintai daripada jabatan yang mereka miliki. Tak lama kemudian, mereka telah larut dalam ibadah agung yang mencerminkan keimanan seorang mukmin di hadapan Rabbnya. Sebuah ibadah -yang kalau dikerjakan dengan sepenuh hati- tentu akan menahan diri pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar…


Selepas sholat dan berdzikir, mereka pun beranjak pergi meninggalkan musholla ini. Namun, di tengah langkah mereka datanglah sosok da’i sederhana yang menawarkan buletin dakwah kepada mereka. Bukan itu saja yang ditawarkannya, akan tetapi buku ushul tsalatsah (tiga landasan utama), hadits arba’in, panduan dzikir dan doa, bahkan tak lupa beberapa butir korma dan air minum pun ditawarkan olehnya. Sungguh, pemandangan yang menyejukkan sekaligus mencerminkan kejernihan sikap seorang da’i. Bukan hanya pengungsi atau korban erupsi merapi yang butuh dakwah, bahkan bapak-bapak tentara ini pun semestinya diperhatikan. Jangan sia-siakan kesempatan ini… “Sungguh, apabila Allah menunjuki seorang saja dengan perantara dirimu, itu jauh lebih baik daripada onta-onta merah.”


Melalui kepedulian semacam inilah, disertai kesadaran yang tertancap kuat di dalam hati, kesabaran dalam menghadapi kesulitan, keinginan yang kuat untuk membantu sesama, segala beban berat dan penderitaan para pengungsi dan korban erupsi -dengan izin Allah- akan sedikit demi sedikit terkurangi. Apalagi mereka adalah saudara kita, yang bersujud kepada Rabb yang sama, mengikuti Nabi yang sama, dan memegang teguh agama yang sama. Walaupun dalam beberapa perkara mereka tergelincir -itupun karena ketidakpahaman mereka-, namun mereka adalah saudara kita, yang barangkali hati mereka jauh lebih bersih daripada hati kita, mereka lebih sabar dan ikhlas daripada kita, bahkan mungkin lebih banyak perjuangan dan pengorbanannya untuk membela agama…


Oleh sebab itulah, kepedulian kita kepada mereka merupakan konsekuensi dari perasaan cinta karena Allah (baca: aqidah) yang tertanam dalam hati setiap mukmin. Laa yu’minu ahadukum hatta yuhibba li akihi maa yuhibbu li nafsihi, “Tidak sempurna keimanan salah seorang di antara kalian sampai dia menyukai kebaikan bagi saudaranya sebagaimana yang dia sukai bagi dirinya sendiri.”


Sekarang, marilah kita bertanya sejauh mana bukti kesempurnaan iman itu ada dan tertancap di dalam hati kita? Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.


Yogyakarta, 8 Muharram 1432 H/ 14 Desember 2010


Bantuan dapat disalurkan ke:


Rekening BNI UGM Yogyakarta


Nomor rekening 0125792540 a.n. Devi Novianti


Rekening Bank Syari’ah Mandiri Cabang 094 Kaliurang Yogyakarta


Nomor rekening 0947008920 a.n. Ginanjar Indrajati Bintoro


Rekening Bank Mandiri Cabang Yogyakarta Gedung Magister 13705


Nomor rekening 137-00-065.4879-2 a.n. Bintoro


Rekening BCA


Nomor rekening 0130537146 a.n. Hanif Nur Fauzi


Bagi anda yang telah berpartisipasi, harap mengkonfirmasikan diri kepada kami melalui sms dengan format sebagai berikut:


Nama/Alamat/TanggalKirim/JumlahUang/RekeningTujuan/Merapi


Ke nomor :


0852 5205 2345 begin_of_the_skype_highlighting 0852 5205 2345 end_of_the_skype_highlighting (Wiwit Hardi P.)


atau


0856 4305 2159 (Nizamul Adli)


YM: ypiapeduli@yahoo.com


Atas partisipasi dan perhatian anda kami ucapkan jazaakumullahu khairaan.


Laporan Pemasukan per 12 Desember 2010


http://muslim.or.id/dari-redaksi/update-12-des-laporan-pemasukan-donasi-tanggap-merapi.html


Profesor Simon Pimpin Rapat Rehabilitasi Masjid Pasca Bencana


http://ypia.or.id/prof-simon-pimpin-rapat-rehabilitasi.html


Susunan Tim Rehabilitasi


http://ypia.or.id/revisi-susunan-panitia-rehabilitasi-dan-recovery-masjid.html