Berbahagialah al-Ghuroba’
April 5th, 2010
Author: Abu Mushlih
Imam Muslim meriwayatkan di dalam Shahihnya dari jalan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam datang dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali menjadi asing sebagaimana kedatangannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR. Muslim [145] dalam Kitab al-Iman.Syarh Muslim, 1/234).
an-Nawawi rahimahullah menukil keterangan al-Harawi bahwa makna orang-orang yang asing adalah : orang-orang yang berhijrah meninggalkan negeri/daerah mereka karena kecintaan mereka kepada Allah ta’ala (Syarh Muslim, 1/235). Keterangan al-Harawi di atas dilandaskan pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Shahihnya dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan ia akan kembali menjadi asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing.” Ada yang bertanya, “Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang asing?”. Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang memisahkan diri dari kabilah-kabilah [mereka].” (HR. Ibnu Majah [3978] dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibni Majah [8/488] namun tanpa tambahan ‘ada yang bertanya, dan seterusnya’, as-Syamilah).
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari Abdullah bin Amr bin al-’Ash radhiyallahu’anhu, dia mengatakan; Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara dan ketika itu kami berada di sisi beliau, “Beruntunglah orang-orang yang asing.” Kemudian ada yang menanyakan, “Siapakah yang dimaksud orang-orang yang asing itu wahai Rasulullah?”. Maka beliau menjawab, “Orang-orang salih yang hidup di tengah-tengah orang-orang yang jelek lagi banyak [jumlahnya]. Orang yang mendurhakai mereka lebih banyak daripada orang yang menaati mereka.” (HR. Ahmad 6362 [13/400], disahihkan al-Albani dalam Shahih w a Dha’if al-Jami’ 7368 [3/443] as-Syamilah)
Syaikh al-Albani rahimahullah menyebutkan di dalam Silsilah al-Ahadits as-Shahihah penafsiran makna orang-orang yang asing tersebut dengan sanad yang sahih. Diriwayatkan oleh Abu Amr ad-Dani dalam as-Sunan al-Waridah fi al-Fitan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu secara marfu’ -sampai kepada Nabi-, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Islam itu datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing seperti ketika datangnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” Ada yang bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?”. Maka beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang tetap baik [agamanya] tatkala orang-orang lain menjadi rusak.” (as-Shahihah no 1273 [3/267]. as-Syamilah, lihat juga Limadza ikhtartul manhaj salafi, hal. 54).
al-Qari menafsirkan bahwa makna orang-orang yang asing adalah orang-orang yang memperbaiki [memulihkan] ajaran Nabi yang telah dirusak oleh manusia sesudahnya. Beliau berdalil dengan hadits yang diriwayatkan melalui Amr bin Auf al-Muzani radhiyallahu’anhu, demikian dinukilkan oleh al-Mubarakfuri (Tuhfat al-Ahwadzi [6/427] as-Syamilah). Imam Tirmidzi menyebutkan dalam Sunannya hadits tersebut yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Mereka itu adalah orang-orang yang memperbaiki ajaranku yang telah dirusak oleh manusia-manusia sesudah kepergianku.” (HR. Tirmidzi [2554] dari Amr bin Auf al-Muzani radhiyallahu’anhu, namun hadits ini dinyatakan berstatus dha’if jiddan -lemah sekali- oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi [2630] as-Syamilah, lihat pula Limadza ikhtartul manhaj salafi, hal. 53 oleh Syaikh Salim al-Hilali).
al-Mubarakfuri menjelaskan makna ‘ memperbaiki ajaranku yang telah dirusak oleh manusia-manusia’ yaitu : “Mereka mengamalkan ajaran/sunnah tersebut dan mereka menampakkannya sekuat kemampuan mereka.” (Tuhfat al-Ahwadzi [6/428] as-Syamilah). al-Mubarakfuri juga menjelaskan bahwa hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi di atas bersatus lemah dikarenakan terdapat seorang periwayat yang bernama Katsir bin Abdullah bin Amr bin Auf al-Muzani. al-Mubarakfuri berkata, “Katsir ini adalah periwayat yang lemah menurut banyak ulama ahli hadits, bahkan menurut mayoritas mereka. Sampai-sampai Ibnu Abdi al-Barr mengatakan, ‘Orang ini telah disepakati akan kedha’ifannya’.” Maka keterangan beliau ini menyanggah at-Tirmidzi yang menghasankan hadits di atas (lihat Tuhfat al-Ahwadzi [6/428] as-Syamilah).
Syaikh Salim al-Hilali hafizhahullah berkata, “…tidak ada riwayat yang sah mengenai penafsiran [Nabi] tentang makna al-Ghuraba’ (orang-orang asing) selain dua tafsiran yang marfu’ yaitu : [1] Orang-orang yang [tetap] baik tatkala masyarakat telah diliputi kerusakan. [2] Orang-orang salih yang hidup di tengah-tengah banyak orang yang buruk [agamanya], akibatnya orang yang menentang mereka lebih banyak daripada yang mengikuti mereka.” (Limadza ikhtartul manhaj salafi, hal. 55).
Imam at-Tirmidzi membawakan hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang suatu masa ketika itu orang yang tetap bersabar di antara mereka di atas ajaran agamanya bagaikan orang yang sedang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi [2260] disahihkan al-Albani dalam Shahih wa Dha’is Sunan at-Tirmidzi [5/260], as-Shahihah no 957. as-Syamilah).
Semoga Allah menjadikan kita termasuk al-Ghuroba’.. Allahumma amin.
http://www.abumushlih.com/
Di Telaga.......Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,"Telagaku itu sepanjang perjalanan sebulan dan sudut-sudutnya sama. Airnya lebih putih dari susu, aromanya lebih harum dari kasturi, dan pundi-pundinya bagai bintang-bintang di langit. Siapa yang minum dari telaga itu tidak akan haus selamanya." (HR. Bukhari-Muslim)
Senin, April 05, 2010
City Square.....Johor Bahru Malaysia Jln2 Makan2
Tanggal 3 April 2010
Ana, zauji tersayang dan putri2 yang dimanjakan
menuju ke negeri di semberang tambak iaitu Johor Bahru. Selalunya kami menikmati makanan barat di sana kerna setiap kedai yang mempunyai sijil halal dan pekerjanya merupakan orang Islam.....
Restaurant Kenny Rogers Roasters....
Menu.....
Orginal Grill Chicken...
Cold pasta....
Potato garlic parsley.....
Brown sauce......
Restaurant Secret Recipe......
Chocolate Indulgence Cake......
Restaurant Sedap Corner......
Meehoon Tomyam......
Tea tarik Es.......
Sabtu, April 03, 2010
Ikhwan yang Tidak Terkenal Itu…
Ikhwan yang Tidak Terkenal Itu…
Saat itu, ia adalah seorang ikhwan yang tidak terkenal, dan memang tidak ingin terkenal. Sebagai mahasiswa baru, kami sama-sama masuk di satu wisma. Kami sama-sama satu angkatan, bedanya beliau mahasiswa ekstensi yang melanjutkan program S1 seusai lulus program diploma.
Saya lebih “sedikit” dahulu belajar dasar-dasar bahasa Arab daripada beliau. Saya ingat betul ketika saya sudah lebih paham “dasar-dasar” kaidah nahwu, ia justru baru belajar jenis-jenis kata, ism, fi’l, dan huruf. Satu hal memberikan faidah bagi saya dari beliau adalah “keikhlasan”.
Saya teringat saat itu teman-teman berniat mengadakan daurah Aqidah dan Manhaj Islam, untuk mengisi liburan kampus UGM. Pamflet kajian pun selesai dicetak. Melihat itu, kawan saya berencana menyebarkan pamflet tersebut di wilayah luar batas ringroad utara Yogyakarta.
Kemudian, di suatu malam, kulihat ia bersiap-siap berangkat. Tidak tanggung-tanggung, ia mengambil sekitar 80 pamflet beserta lem-nya. Inilah yang sedikit membedakan dengan ikhwan saat ini (termasuk koreksi bagi saya) yang malas menyebarkan pamflet informasi dakwah meskipun sekadar tiga atau lima buah.
Sampai larut malam, ia belum pulang. Qaddarullah, menjelang sepertiga malam terakhir Allah menurunkan hujan. Dini hari sebelum shubuh baru kudengar suara motor pertanda dirinya telah pulang. Saat kulihat dirinya, tubuhnya gemetar. Ia basah kusup diguyur gerimis pagi yang memang sangat dingin ketika itu. Ia pulang sampai dini hari karena ternyata dia terjebak hujan sehingga terpaksa mampir di masjid. Qaddarullah wa ma syafa’al kunci motor terjatuh di selokan di masjid yang tertutupi besi sehingga ia kesulitan mengambil kunci. Ketika kantuk menyerang, ia pun terpaksa tidur beberapa saat di lantai masjid, dan walhamdulillah kunci bisa diambil kembali setelah usaha yang cukup lama.
Tidak kusangka, setelah matahari pagi bersinar, ternyata ia masih bersemangat menghabiskan sisa pamflet yang belum tersebar, dan jumlahnya cukup banyak karena hujan menghalanginya untuk menghabiskan pamflet malam itu juga. Masya Allah. Ia tidak peduli apakah ada ikhwan-ikhwan lain yang melihat usahanya itu atau tidak. Ia berkata kepada saya bahwa akan berusaha mencari masjid di gang-gang yang masih memungkinkan ditempeli pamflet. Ia bukanlah orang asli jogja. Maka, mencari masjid di gang-gang sudah membutuhkan waktu tersendiri.
Bagi sebagian orang, menempel pamflet kajian mungkin adalah pekerjaan sepele dan tidak populer. Apalagi dalam jumlah banyak, tidak dibayar, tidak ada orang yang memerhatikan, tidak ada orang yang menyanjung-nyanjungnya. Namun, kulihat ada satu hal yang menjadi pemompa semangat kawan saya itu, “Keikhlasan”. Na’am, ikhlas mengharap wajah Allah, bukan pujian dan sanjungan makhluk, yang menjadi modal utama kekuatan beliau. Itulah yang kulihat secara dzahir, dan tidak bermaksud menganggap suci seorang pun di hadapan Allah.
Liburan tiba, daurah pun jadi dilaksanakan. Kulihat di antara peserta ada kumpulan bapak-bapak yang mengikuti daurah. Ini cukup mencolok karena biasanya peserta daurah liburan adalah para mahasiswa UGM. Ternyata, bapak-bapak tersebut berasal dari daerah penyebaran pamflet kawan saya itu. Mungkin kawan saya tersebut tidak menyadarinya. Namun, saya tidak bisa membayangkan berapa pahala yang mengalir kepada dirinya dari hasil keringatnya menyebarkan pamfet, jika ia menjaga keikhlasannya. Terkadang kita tidak menyadari bahwa dengan sebab pamflet yang kita tempel, barangkali ada orang yang mendapat hidayah setelah membaca pamflet tersebut. Betapa banyak dan betapa mudahnya kesempatan meraih pahala yang Allah berikan kepada kita, namun sering kita tidak menyadarinya.
Ya, menyebar pamflet merupakan pekerjaan tidak populer bagi anak-anak ngaji. Ini tentu berbeda dengan kita yang dalam kepanitiaan, memegang peran sebagai ketua panitia daurah, pemegang nomor informasi / Contact Person, pembawa acara, dan seterusnya yang menjadikan diri ini terkenal. Namun, barangkali yang terkenal ini justru menjadikan hati menjadi kotor karena riya’ dan ujub. Hilanglah keikhlasannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang berakibat waktu dan tenaga yang telah ia curahkan menjadi sia-sia, tidak bernilai di sisi Allah bahkan mendapatkan dosa. Bandingkan dengan pekerjaan menyebarkan pamflet malam-malam. Siapa yang melihat, memerhatikan dan menyanjung-nyanjungnya? Keikhlasan inilah yang sering kita lalaikan.
Waktu berjalan sampai akhirnya ada saat kami harus berpisah. Namun, kabar terakhir yang kudengar dari dirinya adalah ia kini duduk bermajelis dengan ulama di kota nabi, Madinah Al-Munawwarah. Menimba ilmu dengan ulama ahlus sunnah di kota Nabi adalah dambaan setiap penuntut ilmu. Namun, bagaimana ia dengan mudahnya bisa ke sana? Sementara banyak dari kita terkendala masalah izin orang tua, biaya pesawat, ketatnya seleksi masuk Universitas Islam Madinah bagi ikhwan yang melalui jalur pendidikan formal, dan seterusnya… Betapa banyak teman-teman mengurus berkas pendaftaran Universitas Islam Madinah berkali-kali sampai batas umur telah lewat, tetapi panggilan itu tidak tiba jua. Namun, kawanku yang satu ini dengan mudahnya ke Madinah. Bukan dari pondok pesantren, bukan pula dari Madrasah Aliyah, tetapi ia anak Fakultas Teknik yang baru belajar bahasa Arab di tengah-tengah masa kuliah. Aku pun masih ingat dulu ketika masa-masa akhir ia di Jogja, Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad meneleponnya bertanya masalah IT dan dia kaget dan bingung sendiri harus menjawab apa karena masih belum lancar berbicara bahasa Arab. Bagiku, satu hal yang kunilai menjadi sebab ia dapat mengalahkan teman-temannya yang lain adalah satu, “KEIKHLASAN”.
Benar pujian manusia hanya sementara. Setelah itu, mereka akan lupa pada kita. Kalau kita renungkan, sia-sialah amal perbuatan kita kalau ditujukan untuk mengharap pujian manusia. Manusia hanya memuji kita di saat apa yang kita lakukan menyenangkan pandangan mereka. Adapun bila kita tergelincir, mereka akan mencela kita habis-habisan. Hilanglah semua pujian itu yang dulu kita raih. Kita terkadang tidak menyadari bahwa inilah yang membedakan jika kita mengharap wajah Allah. Betapa sering kita tergelincir, dan Allah melihat kita, tetapi Allah malah menutupi aib kita. Namun, terkadang kita memang tidak bisa mengambil hikmah. Allahu musta’an.
Kawan, Jazakallah khair . Cukuplah melihatmu sebagai tambahan faidah bagiku.
Masjid Al-Ashri, 11 Rabi’ul Awal 1431 / 27 Maret 2010, 00:54
http://alashree.wordpress.com/2010/03/27/ikhwan-yang-tidak-terkenal-itu/
Kamis, April 01, 2010
Keagungan Ilmu
Keagungan Ilmu
February 14th, 2010
Author: Abu Mushlih
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (QS. Fathir: 29)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka akan dipahamkan dalam urusan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Umat manusia jauh lebih banyak membutuhkan ilmu daripada kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman. Sebab makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari sekali atau dua kali saja. Adapun ilmu, ia dibutuhkan sebanyak hembusan nafas.”
Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Yang dimaksud ilmu adalah yang di dalamnya terkandung ucapan Qaala -yaitu Allah berfirman- dan haddatsana -yaitu Nabi bersabda-.”
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ilmu adalah mengenal petunjuk dengan landasan dalilnya.”
Imam Bukhari rahimahullah berkata, “Ilmu didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan.”
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Ilmu bukanlah semata-mata dengan banyaknya riwayat. Akan tetapi ilmu itu adalah rasa takut -kepada Allah-.”
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Semua pujian yang disebutkan di dalam al-Qur’an maka itu semua adalah buah daripada ilmu. Demikian juga, semua celaan yang disebutkan di dalamnya itu semua merupakan buah dari kebodohan.”
Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Seorang yang berilmu akan terus dianggap sebagai orang yang jahil/bodoh selama belum mengamalkan ilmunya. Apabila dia sudah mengamalkannya maka barulah dia benar-benar menjadi orang yang alim/berilmu.”
ad-Daruquthni rahimahullah berkata, “Pada awalnya kami dahulu menuntut ilmu tidak murni karena Allah. Akan tetapi ilmu itu enggan kecuali memaksa -kami- untuk ikhlas karena Allah.”
Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka perhatikanlah darimana kalian mengambil agama kalian.”
adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Adapun pada hari ini -di masa beliau-, tidaklah tersisa ilmu yang sedikit -diketahui manusia- itu kecuali sedikit sekali, yang ada pada segelintir orang saja. Sedangkan di antara segelintir orang itu betapa sedikit yang mengamalkan ilmu yang sedikit itu. Maka cukuplah bagi kita Allah sebagai tempat bergantung dan Dialah sebaik-baik penolong.”
ad-Darimi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ilmu tidak bisa diperoleh semata-mata dengan banyaknya riwayat. Akan tetapi ia adalah cahaya yang diberikan oleh Allah ke dalam hati. Adapun syaratnya adalah komitmen untuk mengikuti -Sunnah-, meninggalkan hawa nafsu dan tidak mereka-reka ajaran baru/bid’ah.”
Sebagian salaf berkata, “Apabila berlalu suatu hari sementara aku tidak mendapatkan tambahan ilmu, maka itu artinya aku tidak mendapatkan berkah pada hari itu.”
Sulaiman at-Taimi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya mata apabila dibiasakan untuk tidur maka ia akan terbiasa melakukannya. Dan apabila ia dibiasakan untuk begadang, maka ia juga akan terbiasa.”
Suatu ketika Imam Ahmad ditanya apakah boleh seseorang meletakkan kitab-kitab di bawah kepalanya. Maka beliau berkata, “Kitab apa maksudnya?”. Dijawab, “Kitab hadits.” Maka beliau berkata, “Apabila dia khawatir kitabnya itu dicuri maka tidak mengapa. Akan tetapi jika dijadikan sebagai bantal, maka tidak.”
Referensi:
Sebagian besar nukilan ini diambil dari kitab Ma’alim fi Thariq Thalabil Ilmi karya Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdullah as-Sad-han
http://www.abumushlih.com/
February 14th, 2010
Author: Abu Mushlih
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (QS. Fathir: 29)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka akan dipahamkan dalam urusan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Umat manusia jauh lebih banyak membutuhkan ilmu daripada kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman. Sebab makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari sekali atau dua kali saja. Adapun ilmu, ia dibutuhkan sebanyak hembusan nafas.”
Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Yang dimaksud ilmu adalah yang di dalamnya terkandung ucapan Qaala -yaitu Allah berfirman- dan haddatsana -yaitu Nabi bersabda-.”
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ilmu adalah mengenal petunjuk dengan landasan dalilnya.”
Imam Bukhari rahimahullah berkata, “Ilmu didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan.”
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Ilmu bukanlah semata-mata dengan banyaknya riwayat. Akan tetapi ilmu itu adalah rasa takut -kepada Allah-.”
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Semua pujian yang disebutkan di dalam al-Qur’an maka itu semua adalah buah daripada ilmu. Demikian juga, semua celaan yang disebutkan di dalamnya itu semua merupakan buah dari kebodohan.”
Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Seorang yang berilmu akan terus dianggap sebagai orang yang jahil/bodoh selama belum mengamalkan ilmunya. Apabila dia sudah mengamalkannya maka barulah dia benar-benar menjadi orang yang alim/berilmu.”
ad-Daruquthni rahimahullah berkata, “Pada awalnya kami dahulu menuntut ilmu tidak murni karena Allah. Akan tetapi ilmu itu enggan kecuali memaksa -kami- untuk ikhlas karena Allah.”
Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka perhatikanlah darimana kalian mengambil agama kalian.”
adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Adapun pada hari ini -di masa beliau-, tidaklah tersisa ilmu yang sedikit -diketahui manusia- itu kecuali sedikit sekali, yang ada pada segelintir orang saja. Sedangkan di antara segelintir orang itu betapa sedikit yang mengamalkan ilmu yang sedikit itu. Maka cukuplah bagi kita Allah sebagai tempat bergantung dan Dialah sebaik-baik penolong.”
ad-Darimi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ilmu tidak bisa diperoleh semata-mata dengan banyaknya riwayat. Akan tetapi ia adalah cahaya yang diberikan oleh Allah ke dalam hati. Adapun syaratnya adalah komitmen untuk mengikuti -Sunnah-, meninggalkan hawa nafsu dan tidak mereka-reka ajaran baru/bid’ah.”
Sebagian salaf berkata, “Apabila berlalu suatu hari sementara aku tidak mendapatkan tambahan ilmu, maka itu artinya aku tidak mendapatkan berkah pada hari itu.”
Sulaiman at-Taimi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya mata apabila dibiasakan untuk tidur maka ia akan terbiasa melakukannya. Dan apabila ia dibiasakan untuk begadang, maka ia juga akan terbiasa.”
Suatu ketika Imam Ahmad ditanya apakah boleh seseorang meletakkan kitab-kitab di bawah kepalanya. Maka beliau berkata, “Kitab apa maksudnya?”. Dijawab, “Kitab hadits.” Maka beliau berkata, “Apabila dia khawatir kitabnya itu dicuri maka tidak mengapa. Akan tetapi jika dijadikan sebagai bantal, maka tidak.”
Referensi:
Sebagian besar nukilan ini diambil dari kitab Ma’alim fi Thariq Thalabil Ilmi karya Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdullah as-Sad-han
http://www.abumushlih.com/
Sucikan Hati
Sucikan Hati
July 14th, 2009
Author: Abu Mushlih
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari (kiamat) ketika tidak lagi bermanfaat harta maupun keturunan, kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’araa’ : 88-89).
Untuk memperjelas kandungan ayat yang mulia ini, marilah kita simak keterangan Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya….
Artinya; tidaklah harta yang dimiliki oleh seorang manusia -meskipun dia berikan emas sepenuh isi bumi- untuk menebus adzab Allah, demikian juga anak keturunannya bahkan meskipun seluruh manusia yang ada di muka bumi ini dia pergunakan untuk menebus adzab itu niscaya tidak akan diterima oleh Allah. Sebab pada hari itu tidak ada yang bermanfaat selain keimanan kepada Allah, keikhlasan dalam beragama kepada-Nya, dan juga sikap berlepas diri dari kesyirikan dan pelaku-pelakunya. Oleh karena itu Allah menyatakan (yang artinya), “kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat” maknanya; selamat dari kotoran dosa dan kesyirikan. Muhammad bin Sirin mengatakan, “Hati yang selamat bisa menyadari bahwa Allah adalah (sesembahan) yang haq. Dan meyakini bahwa hari kiamat itu pasti datang tanpa ada keraguan padanya, dan Allah pasti membangkitkan orang-orang yang sudah terkubur.” Sedangkan Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma menjelaskan makna “kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat” artinya, “Hati tersebut hidup dan mempersaksikan bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah.” Sementara Mujahid dan Al-Hasan menerangkan bahwa makna hati yang selamat yaitu bersih dari syirik. Sa’id bin Al-Musayyib melengkapi bahwa makna hati yang selamat adalah hati yang sehat; yaitu hati seorang mukmin, karena hati orang kafir dan munafik adalah hati yang sakit. Sebagaimana hal itu Allah sebutkan (dalam ayat yang artinya), “Di dalam hati mereka terdapat penyakit.” (QS. Al-Baqarah : 10). Sedangkan Abu Utsman An-Naisaburi mengatakan, “Hati yang selamat itu adalah hati yang bersih dari bid’ah dan merasa tentram di atas As-Sunnah.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 6/48).
Karakter hati yang selamat
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menyebutkan beberapa karakter/ciri hati yang selamat; yaitu hati tersebut diisi dengan : keikhlasan, ilmu, keyakinan, kecintaan kepada kebaikan dan menganggap kebaikan itu sesuatu yang indah di dalam hatinya, keinginan dan kecintaannya senantiasa mengikuti apa yang Allah cintai, begitu pula hawa nafsunya tunduk mengikuti ajaran yang Allah berikan (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 593).
Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan bahwa hati tidak akan benar-benar bisa selamat kecuali jika terbebas dari lima hal; [1] syirik yang memupuskan tauhid, [2] bid’ah yang menyimpangkan dari As-Sunnah, [3] menuruti keinginan nafsu yang membuat berpaling dari perintah (syari’at), [4] kelalaian yang membuat dzikir terbengkalai, [5] hawa nafsu yang mengikis kemurnian ibadah dan keikhlasan (lihat Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hal. 138. Cet. Dar Al-Aqidah).
Sebagian orang bijak mengatakan, “Bukankah apabila orang yang sakit itu dihalangi dari makan dan minum serta tidak mengkonsumsi obat maka dia akan mati?”. Mereka (teman-temannya) menjawab, “Benar.” Lalu dia mengatakan, “Maka demikian pula hati; apabila ia terhalangi dari memperoleh ilmu dan hikmah selama tiga hari niscaya hati itu juga mati.” (lihat Al-’Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 144).
http://www.abumushlih.com/
July 14th, 2009
Author: Abu Mushlih
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari (kiamat) ketika tidak lagi bermanfaat harta maupun keturunan, kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’araa’ : 88-89).
Untuk memperjelas kandungan ayat yang mulia ini, marilah kita simak keterangan Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya….
Artinya; tidaklah harta yang dimiliki oleh seorang manusia -meskipun dia berikan emas sepenuh isi bumi- untuk menebus adzab Allah, demikian juga anak keturunannya bahkan meskipun seluruh manusia yang ada di muka bumi ini dia pergunakan untuk menebus adzab itu niscaya tidak akan diterima oleh Allah. Sebab pada hari itu tidak ada yang bermanfaat selain keimanan kepada Allah, keikhlasan dalam beragama kepada-Nya, dan juga sikap berlepas diri dari kesyirikan dan pelaku-pelakunya. Oleh karena itu Allah menyatakan (yang artinya), “kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat” maknanya; selamat dari kotoran dosa dan kesyirikan. Muhammad bin Sirin mengatakan, “Hati yang selamat bisa menyadari bahwa Allah adalah (sesembahan) yang haq. Dan meyakini bahwa hari kiamat itu pasti datang tanpa ada keraguan padanya, dan Allah pasti membangkitkan orang-orang yang sudah terkubur.” Sedangkan Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma menjelaskan makna “kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat” artinya, “Hati tersebut hidup dan mempersaksikan bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah.” Sementara Mujahid dan Al-Hasan menerangkan bahwa makna hati yang selamat yaitu bersih dari syirik. Sa’id bin Al-Musayyib melengkapi bahwa makna hati yang selamat adalah hati yang sehat; yaitu hati seorang mukmin, karena hati orang kafir dan munafik adalah hati yang sakit. Sebagaimana hal itu Allah sebutkan (dalam ayat yang artinya), “Di dalam hati mereka terdapat penyakit.” (QS. Al-Baqarah : 10). Sedangkan Abu Utsman An-Naisaburi mengatakan, “Hati yang selamat itu adalah hati yang bersih dari bid’ah dan merasa tentram di atas As-Sunnah.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 6/48).
Karakter hati yang selamat
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menyebutkan beberapa karakter/ciri hati yang selamat; yaitu hati tersebut diisi dengan : keikhlasan, ilmu, keyakinan, kecintaan kepada kebaikan dan menganggap kebaikan itu sesuatu yang indah di dalam hatinya, keinginan dan kecintaannya senantiasa mengikuti apa yang Allah cintai, begitu pula hawa nafsunya tunduk mengikuti ajaran yang Allah berikan (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 593).
Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan bahwa hati tidak akan benar-benar bisa selamat kecuali jika terbebas dari lima hal; [1] syirik yang memupuskan tauhid, [2] bid’ah yang menyimpangkan dari As-Sunnah, [3] menuruti keinginan nafsu yang membuat berpaling dari perintah (syari’at), [4] kelalaian yang membuat dzikir terbengkalai, [5] hawa nafsu yang mengikis kemurnian ibadah dan keikhlasan (lihat Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hal. 138. Cet. Dar Al-Aqidah).
Sebagian orang bijak mengatakan, “Bukankah apabila orang yang sakit itu dihalangi dari makan dan minum serta tidak mengkonsumsi obat maka dia akan mati?”. Mereka (teman-temannya) menjawab, “Benar.” Lalu dia mengatakan, “Maka demikian pula hati; apabila ia terhalangi dari memperoleh ilmu dan hikmah selama tiga hari niscaya hati itu juga mati.” (lihat Al-’Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 144).
http://www.abumushlih.com/
Selasa, Maret 30, 2010
Nasehati lin Nisaa
Nasehati lin Nisaa
Pernah membaca buku Nasehati lin Nisaa? Buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Nasehatku bagi Para Wanita ini ditulis oleh seorang aalimah (ulama wanita) dari negeri Yaman yang bernama Ummu Abdillah Al-Wadi’iyah. Beliau hafizhahallah adalah putri dari ulama ahlul hadits di masa kita, yaitu Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wad’I rahimahullah.
Ummu Abdillah adalah seorang aalimah yang memiliki banyak keutamaan. Ummu Abdillah mengajar di madrasah nisa’ (khusus wanita) dan memiliki beragam karya tulis ilmiyah. Di antaranya:
- Shahihul Musnad fis Syamail Muhammadiyah (tentang kesempurnaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dicetak dalam dua jilid)
- Jamius Shahih fi ilmi wa Fadhlihi (tentang keutamaan ilmu)
- Tahqiq kitab As-Sunnah Ibnu Abi Ashim
- Nasehati lin Nisa
- dan sekarang beliau masih mengerjakan Shahihul Musnad min Sirah Nabawiyah
Yang ingin saya angkat dalam artikel ini adalah bagaimana cara Syaikh mendidik putrinya sehingga tumbuh menjadi seorang aalimah. Tema ini mungkin jarang diangkat karena biasanya yang dipersiapkan sebagai seorang alim atau ulama adalah anak laki-laki saja. Pernahkah kita bercita-cita putri kita menjadi seorang aalimah? Kalau memang ada keinginan tersebut, mungkin kita bisa bercermin terlebih dahulu dengan metodologi Asy-Syaikh dalam mendidik putrinya.
Ummu Abdillah berkisah tentang bagaimana ayahanda beliau –Syaikh Muqbil- mendidik putri-putrinya,
… Ayahanda tidak pernah menyia-nyiakan kami, betapa pun sibuknya beliau. Oleh karena itulah beliau sangat perhatian terhadap kami dalam mempelajari Al-Quran. Beliau selalu menuntun kami dalam membaca Al-Quran. Kadang beliau rekam agar hapalan kami semakin kokoh. Suatu ketika saudari saya menghapal, dan ayahanda sedang berada di perpustakaan. Saudariku tadi mencari beliau, ingin direkamkan hapalannya. Beliau pun meninggalkan risetnya, merekam hapalan saudariku lalu kembali lagi ke perpustakaan.
Begitu kami mengetahui qiraah yang baik, beliau membeli kaset qiraah Syaikh Al-Husari untuk kami. Beliau juga membelikan untuk masing-masing putrinya satu tape recorder tanpa radio. Ini bentuk penjagaan beliau agar kami tidak mendengar nyanyian.
Setelah kami mengerti lebih banyak, kami dibelikan masing-masing sebuah tape recorder dengan radionya, namun beliau tetap memperingatkan kami terhadap nyanyian dengan keras. Dan alhamdulillah, kami menerima peringatan tersebut. Kami tidak mendengarkan nyanyian sama sekali, seiring dengan rasa tidak senang terhadap nyanyian.
Dalam menghapal, beliau memerintahkan kami untuk hanya menggunakan satu mushaf dari satu penerbit karena itu akan membantu memperkokoh hapalan. Kalau beliau melihat di tangan kami ada mushaf yang berbeda, beliau akan memberi peringatan keras dan sangat marah.
Di antara murid beliau ada orang-orang Sudan dan Mesir yang datang beserta istri-istrinya. Di antara istri-istri mereka ada yang mengajar kami dengan diberi imbalan jasa oleh ayah sebagai bentuk perhatian beliau terhadap pendidikan. Dan apabila di buku-buku yang dipergunakan oleh para guru wanita tersebut ada gambar makhluk bernyawanya, beliau memerintahkan kami untuk menghapusnya. Kami pun menghapus gambar-gambar tersebut disertai dengan kebencian yang sangat terhadap gambar-gambar itu.
Lalu setelah itu kami pun diajari ilmu-ilmu syar’i Al Kitab dan As-Sunnah, sehingga kami pun menghafal bersama para guru tersebut dan kami pun hapal beberapa hadits walhamdulillah.
Beliau rahimahullah terkadang bersenang-senang dan bergurau bersama kami, dalam perkara yang diizinkan oleh Allah. Berbeda dengan kebanyakan kaum muslimin –kecuali yang dirahmati oleh Allah- yang bersenang-senang bersama anak-anak mereka dengan televisi, nyanyian, permainan-permainan gila, serta kerusakan lainnya. Padahal nabi kita bersabda, “Kamu sekalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang apa yang dipimpinnya.”
Beliau selalu melarang kami terlalu banyak keluar, dan beliau selalu mengharuskan kami untuk tidak keluar kecuali seizin beliau.
Ini apa yang dijalankan beliau semasa kami kecil.
Ada pun tentang pendidikan kami, beliau sangat ingin kami mendalami agama Allah dan mencari bekal ilmu syar’i. Sebab itulah, beliau mencurahkan kemampuan beliau untuk membantu kami menuntut ilmu dan membuat kami menggunakan kesempatan kami dengan sebaik-baiknya. Beliau selalu menyediakan waktu khusus untuk mendidik kami. Setiap hari kedua, beliau menanyakan pelajaran yang telah lalu. Jika pelajaran itu terlalu berat, maka beliau berikan dengan cara yang jauh lebih ringan.
Di antara pelajaran yang khusus kami pelajari di rumah adalah:
- Qatrun Nada sampai dua kali
- Syarh Ibnu Aqil sampai dua kali juga
- Tadribur Rawi
- Mushilut Thullabi ila Qowaidil I’rab (namun tidak selesai karena beliau sakit)
Majelis beliau senantiasa penuh dengan kebaikan, diskusi, dan pengarahan, sampai pun di atas hidangan makan atau via telepon.
Ketika beliau di Saudi sebelum berangkat ke Jerman, ayahanda mengucapkan salam lewat telepon kepada saya, “Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh”. Saya menjawab tanpa mengucapkan, “Wabarakatuh”. Beliau bertanya (menegur), “Mengapa tidak engkau balas dengan yang lebih utama?” sebagai isyarat pengamalan ayat ke 86 dari surat An-Nisa.
Terkadang beliau sengaja salah memberikan pertanyaan untuk menguji pemahaman kami, sebagaimana itu beliau lakukan juga kepada murid laki-laki. Kadang beliau bertanya tentang soal yang cukup berat, untuk memberikan faedah namun disuguhkan dengan pertanyaan terlebih dahulu. Metode ini pun diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana di dalam hadits Muadz.
Kadang ketika kami menemui kesulitan dalam pelajaran atau riset kami, beliau memerintahkan kami untuk meneruskan riset tersebut, atau beliau mengikuti kami ke perpustakaan dan membantu kami. Inilah yang menyebabkan kami begitu berduka karena kehilangan beliau rahimahullah. Siapa yang akan memperhatikan kami sepeninggal ayahanda?
Beliau selalu mendidik dan mengarahkan kami dengan lemah lembut. Dan dengan karunia Allah, kami tidak terdorong sedikit pun untuk menentang beliau, karena semua itu adalah demi kemaslahatan dan keuntungan kami juga. Semuanya adalah mutiara yang diuntai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah.
Di antara yang mengagumkan pada diri beliau adalah tidak pernah kepada kami dalam perkara ijtihad kami yang memiliki sisi pandang lain. Kalau kami sudah memahami suatu masalah yang berbeda dengan pemahaman beliau maka beliau tidak memaksa kami, seperti juga kebiasaan beliau bersama murid-muridnya yang laki-laki. Beliau tidak pernah menekan mereka untuk memahami sesuatu yang masih perlu dipertimbangkan. Ini, sebagaimana para pembaca lihat, adalah kemuliaan yang sangat jarang ditemukan.
Beliau rahimahullah juga memperingatkan kami dari masyarakat, karena masyarakat kami adalah masyarakat yang rusak, bersegera dalam kesesatan dan hal-hal yang tidak berguna, kecuali yang dirahmati Allah.
Beliau juga memperingatkan kami dari sikap sombong. Beliau sangat benci kepada wanita yang sombong terhadap suaminya, beliau mengatakan, “Tidak ada kebaikan wanita yang seperti ini.”
Beliau mendorong kami untuk bersikap zuhud terhadap dunia yang rendah ini. Beliau bimbing kami untuk meniatkan apa yang kami makan dan minum untuk menguatkan kami dalam bertakwa, agar memperoleh pahala dari Allah. Beliau katakan, “Janganlah kamu sibukkan dirimu menyiapkan berbagai hidangan makanan. Apa yang mudah diolah, kita makan.”
Beliau bangkitkan semangat kami. Beliau bukan termasuk orang yang suka meruntuhkan semangat keluarga dan anak-anak perempuannya. Beliau membentuk kami dengan sebaik-baiknya, agar kami mudah dan bersemangat untuk bersungguh-sungguh dalam memperoleh ilmu yang bermanfaat.
Di antara ucapan beliau kepada saya, “Saya berharap agar kamu menjadi wanita yang faqih.” Ya Allah, wujudkanlah harapan ayahanda, duhai Zat yang tidak diharap kecuali kepada-Nya, tempatkanlah beliau di surga firdaus yang tinggi.
________
(Diringkas dari buku “Secercah Nasehat dan Kehidupan Indah Ayahanda Al-Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’I”, terbitan pustaka Al-Haura Jogjakarta).
Langganan:
Komentar (Atom)




