Di Telaga.......Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,"Telagaku itu sepanjang perjalanan sebulan dan sudut-sudutnya sama. Airnya lebih putih dari susu, aromanya lebih harum dari kasturi, dan pundi-pundinya bagai bintang-bintang di langit. Siapa yang minum dari telaga itu tidak akan haus selamanya." (HR. Bukhari-Muslim)
Minggu, Maret 07, 2010
Dosa Terbesar di sisi al-Jabbar
Catatan Abu Mushlih Ari Wahyudi:
Dosa Terbesar di sisi al-Jabbar
20 Februari 2010 jam 20:02
Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu'anhu, beliau berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam; Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?”. Maka beliau menjawab, “Engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dialah yang telah menciptakanmu.” Abdullah berkata, “Kukatakan kepadanya; Sesungguhnya itu benar-benar dosa yang sangat besar.” Abdullah berkata, “Aku katakan; Kemudian dosa apa sesudah itu?”. Maka beliau menjawab, “Lalu, kamu membunuh anakmu karena takut dia akan makan bersamamu.” Abdullah berkata, “Aku katakan; Kemudian dosa apa sesudah itu?”. Maka beliau menjawab, “Lalu, kamu berzina dengan istri tetanggamu.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [2/153])
Hadits yang mulia ini mengandung pelajaran berharga, di antaranya:
1.Kemaksiatan yang terbesar adalah syirik, kemudian setelah itu pembunuhan tanpa alasan yang benar. Para ulama madzhab Syafi'i mengatakan bahwa dosa besar yang terbesar setelah syirik adalah pembunuhan (lihat Syarh Muslim [2/154])
2.Sebagaimana amalan itu bertingkat-tingkat keutamaannya, demikian pula dosa. Ada dosa besar dan ada dosa kecil. Dosa besar pun bertingkat-tingkat, sedangkan dosa besar yang terbesar adalah yang terkait dengan hak Allah (ibadah) yaitu mempersekutukan Allah dalam hal ibadah. Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatan syirik itu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. an-Nisaa': 48). Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah mengatakan, “Maka jelaslah berdasarkan ayat ini bahwa syirik merupakan dosa yang paling besar.” (Fath al-Majid, hal. 70)
3.Tauhid rububiyah -pengakuan Allah sebagai satu-satunya pencipta- sudah tertanam di dalam hati manusia (lihat Shahih Bukhari, Kitab Tafsir al-Qur'an, hal. 924)
4.Yang dimaksud menjadikan sekutu bagi Allah adalah beribadah kepada selain-Nya di samping beribadah kepada-Nya. Artinya seseorang beribadah kepada Allah dan juga kepada selain Allah (lihat Shahih Bukhari, Kitab Tafsir al-Qur'an, hal. 1003).
5.Tauhid rububiyah merupakan dalil atas tauhid uluhiyah. Orang yang mengakui bahwa Allah yang menciptakan dirinya maka sudah semestinya dia mempersembahkan ibadahnya hanya kepada Allah. Oleh sebab itu Nabi mengatakan bahwa dosa terbesar itu -yaitu syirik- adalah, “Engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dialah yang telah menciptakanmu.” Sebagaimana Allah tidak bersekutu dalam hal rububiyah (penciptaan, penguasaan, dan pengaturan alam) maka demikian pula dalam hal uluhiyah. Metode semacam ini sering kita temukan dalam al-Qur'an. Contohnya, firman Allah (yang artinya), “Wahai umat manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 21). Tauhid rububiyah merupakan pintu gerbang menuju tauhid uluhiyah (lihat Kitab Tauhid li Shaffil Awwal, hal. 36)
6.Bertanya kepada ahli ilmu atau ulama. Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Bertanyalah kepada ahli ilmu jika kamu tidak mengetahui perkara apa saja.” (QS. an-Nahl: 43)
7.Perbuatan membunuh anak karena takut dia makan bersama orang tuanya (alasan ekonomi) adalah sebuah tindakan biadab (lihat Shahih Bukhari, Kitab al-Adab, hal. 1239)
8.Perzinaan adalah perbuatan yang sangat keji dan dosa yang sangat besar (lihat Shahih Bukhari, Kitab al-Muharibin, hal. 1368)
9.Hamba dan perbuatannya adalah ciptaan Allah ta'ala (lihat Shahih Bukhari, Kitab at-Tauhid, hal. 1494). Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat.” (QS. ash-Shaffat: 96). Meskipun demikian, perbuatan yang dilakukan oleh manusia tidak di bawah tekanan dan dia melakukan sesuatu dengan pilihan dan kemampuannya sendiri. Oleh sebab itu, pelaku maksiat tidak boleh berdalil dengan takdir untuk membenarkan kemaksiatannya. Sesungguhnya berdalih dengan takdir untuk membenarkan kemaksiatan merupakan karakter orang-orang musyrikin. Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang berbuat syirik itu benar-benar akan mengatakan; Seandainya Allah menghendaki niscaya kami tidak akan berbuat syirik demikian pula bapak-bapak kami. Dan kami juga tidak akan pernah mengharamkan apapun -yang sebenarnya tidak haram, pent-. Demikian itulah tindakan pendustaan yang dilakukan oleh orang-orang sebelum mereka sampai mereka merasakan hukuman Kami...” (QS. al-An'am: 148)
10.Kewajiban Nabi adalah sekedar menyampaikan risalah/wahyu dan ketetapan dari Allah, bukan menyampaikan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu dan perasaannya, ataupun menampung keinginan dan paham kebudayaan kaumnya terhadap agama ini. az-Zuhri rahimahullah berkata, “Risalah berasal dari Allah 'azza wa jalla. Kewajiban Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah menyampaikannya. Adapun kewajiban kita adalah taslim/pasrah.” (lihat Shahih Bukhari, Kitab at-Tauhid, hal. 1496-1497). Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah dia -Muhammad- berbicara dengan dasar hawa nafsunya, akan tetapi itu adalah semata-mata wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. an-Najm: 3-4). Allah juga berfirman (yang artinya), “Tidaklah kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan -wahyu- dengan jelas.” (QS. al-Ankabut: 18). Oleh sebab itu, Allah menyebut orang yang menaati Rasul telah menaati Allah. Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang taat kepada Rasul itu sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” (QS. an-Nisaa': 80). Sehingga ini semua menjadi bantahan yang sangat jelas bagi kaum Liberal dan Pluralis yang beranggapan bahwa ajaran al-Qur'an yang diterapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah sebuah produk budaya, bukan wahyu yang suci dan harus dijunjung tinggi! Maha suci Allah dari busuknya keyakinan mereka... Inilah akibatnya -wahai saudaraku- tatkala manusia berpaling dari manhaj salaf, maka yang terjadi adalah kerancuan, kebimbangan, dan kerusakan akal yang pada akhirnya akan menyeret pelakunya ke jurang kehancuran! Maha benar Allah dengan firman-Nya (yang artinya), “Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengkuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Allah pun telah menyediakan untuk mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Itulah kemenangan yang sangat besar.” (QS. at-Taubah: 100)
11.Membunuh jiwa yang diharamkan adalah dosa besar, maka bagaimanakah lagi jika yang dibunuh adalah anaknya sendiri? Demikian juga, berzina adalah dosa besar, maka bagaimanakah lagi jika yang menjadi korban -suka atau tidak suka- adalah istri tetangganya?
12.Hadits ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan kepada umat manusia untuk menjaga agama, nyawa, dan kehormatan mereka. Karena perkara-perkara ini termasuk dalam maqashid syari'ah yang harus dijaga.
13.Hadits yang agung ini menunjukkan bahwa sebesar apapun kebencian orang terhadap pembunuhan dan perzinaan, maka kebencian mereka terhadap kemusyrikan harus lebih besar dari itu semua. Karena syirik adalah sebesar-besar dosa besar! Bahkan, meskipun syirik tersebut digolongkan dalam syirik ashghar yang tidak sampai membuat pelakunya keluar dari agama secara total, maka kebencian kita kepadanya harus lebih besar! Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu'anhu berkata, “Sungguh, aku bersumpah dengan nama Allah tapi dusta itu lebih aku sukai daripada bersumpah dengan selain nama Allah meskipun jujur.” (dinukil dari Fath al-Majid, hal. 402). Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata, “Kalau sikap seperti itu yang diterapkan terhadap syirik ashghar, lantas bagaimanakah lagi sikap terhadap syirik akbar yang menyebabkan pelakunya kekal di neraka?” (Fath al-Majid, hal. 402). Maka perhatikanlah diri kita masing-masing, wahai saudaraku. Seberapakah kualitas kebencian kita kepada syirik, ataukah kita justru meremehkan dan seolah menganggap kita pasti terbebas darinya? Allahul musta'an.
Sabtu, Maret 06, 2010
Bisa Jadi Kamu Membenci Sesuatu Namun Itu Baik Buatmu
Bisa Jadi Kamu Membenci Sesuatu Namun Itu Baik Buatmu
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)
Dalam ayat ini ada beberapa hikmah dan rahasia serta maslahat untuk seorang hamba. Karena sesungguhnya jika seorang hamba tahu bahwa sesuatu yang dibenci itu terkadang membawa sesuatu yang disukai, sebagaimana yang disukai terkadang membawa sesuatu yang dibenci, iapun tidak akan merasa aman untuk tertimpa sesuatu yang mencelakakan menyertai sesuatu yang menyenangkan. Dan iapun tidak akan putus asa untuk mendapatkan sesuatu yang menyenangkan menyertai sesuatu yang mencelakakan. Ia tidak tahu akibat suatu perkara, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh hamba. Dan ini menumbuhkan pada diri hamba beberapa hal:
1. Bahwa tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hamba daripada melakukan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, walaupun di awalnya terasa berat. Karena seluruh akibatnya adalah kebaikan dan menyenangkan, serta kenikmatan-kenikmatan dan kebahagiaan. Walaupun jiwanya benci, akan tetapi hal itu akan lebih baik dan bermanfaat. Demikian pula, tidak ada yang lebih mencelakakan dia daripada melakukan larangan, walaupun jiwanya cenderung dan condong kepadanya. Karena semua akibatnya adalah penderitaan, kesedihan, kejelekan, dan berbagai musibah.
Ciri khas orang yang berakal sehat, ia akan bersabar dengan penderitaan sesaat, yang akan berbuah kenikmatan yang besar dan kebaikan yang banyak. Dan ia akan menahan diri dari kenikmatan sesaat yang mengakibatkan kepedihan yang besar dan penderitaan yang berlarut-larut.
Adapun pandangan orang yang bodoh itu (dangkal), sehingga ia tidak akan melampaui permukaan dan tidak akan sampai kepada ujung akibatnya. Sementara orang yang berakal lagi cerdas akan senantiasa melihat kepada puncak akibat sesuatu yang berada di balik tirai permukaannya. Iapun akan melihat apa yang di balik tirai tersebut berupa akibat-akibat yang baik ataupun yang jelek. Sehingga ia memandang suatu larangan itu bagai makanan lezat yang telah tercampur dengan racun yang mematikan. Setiap kali kelezatannya menggodanya untuk memakannya, maka racunnya menghalanginya (untuk memakannya). Ia juga memandang perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala bagai obat yang pahit rasanya, namun mengantarkan kepada kesembuhan dan kesehatan. Maka, setiap kali kebenciannya terhadap rasa (pahit)nya menghalanginya untuk mengonsumsinya, manfaatnyapun akan memerintahkannya untuk mengonsumsinya.
Akan tetapi, itu semua memerlukan ilmu yang lebih, yang dengannya ia akan mengetahui akibat dari sesuatu. Juga memerlukan kesabaran yang kuat, yang mengokohkan dirinya untuk memikul beban perjalanannya, demi mendapatkan apa yang dia harapkan di pengujung jalan. Kalau ia kehilangan ilmu yang yakin dan kesabaran maka ia akan terhambat dari memperolehnya. Tetapi bila ilmu yakinnya dan kesabarannya kuat, maka ringan baginya segala beban yang ia pikul dalam rangka memperoleh kebaikan yang langgeng dan kenikmatan yang abadi.
2. Di antara rahasia ayat ini bahwa ayat ini menghendaki seorang hamba untuk menyerahkan urusan kepada Dzat yang mengetahui akibat segala perkara serta ridha dengan apa yang Ia pilihkan dan takdirkan untuknya, karena dia mengharapkan dari-Nya akibat-akibat yang baik.
3. Bahwa seorang hamba tidak boleh memiliki suatu pandangan yang mendahului keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau memilih sesuatu yang tidak Allah Subhanahu wa Ta’ala pilih serta memohon-Nya sesuatu yang ia tidak mengetahuinya. Karena barangkali di situlah kecelakaan dan kebinasaannya, sementara ia tidak mengetahuinya. Sehingga janganlah ia memilih sesuatu mendahului pilihan-Nya. Bahkan semestinya ia memohon kepada-Nya pilihan-Nya yang baik untuk dirinya serta memohon-Nya agar menjadikan dirinya ridha dengan pilihan-Nya. Karena tidak ada yang lebih bermanfaat untuknya daripada hal ini.
4. Bahwa bila seorang hamba menyerahkan urusan kepada Rabbnya serta ridha dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala pilihkan untuk dirinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan mengirimkan bantuan-Nya kepadanya untuk melakukan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala pilihkan, berupa kekuatan dan tekad serta kesabaran. Juga, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan palingkan darinya segala yang memalingkannya darinya, di mana hal itu menjadi penghalang pilihan hamba tersebut untuk dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan memperlihatkan kepadanya akibat-akibat baik pilihan-Nya untuk dirinya, yang ia tidak akan mampu mencapainya walaupun sebagian dari apa yang dia lihat pada pilihannya untuk dirinya.
5. Di antara hikmah ayat ini, bahwa ayat ini membuat lega hamba dari berbagai pikiran yang meletihkan pada berbagai macam pilihan. Juga melegakan kalbunya dari perhitungan-perhitungan dan rencana-rencananya, yang ia terus-menerus naik turun pada tebing-tebingnya. Namun demikian, iapun tidak mampu keluar atau lepas dari apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah taqdirkan. Seandainya ia ridha dengan pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala maka takdir akan menghampirinya dalam keadaan ia terpuji dan tersyukuri serta terkasihi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bila tidak, maka taqdir tetap akan berjalan padanya dalam keadaan ia tercela dan tidak mendapatkan kasih sayang-Nya karena ia bersama pilihannya sendiri. Dan ketika seorang hamba tepat dalam menyerahkan urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ridhanya kepada-Nya, ia akan diapit oleh kelembutan-Nya dan kasih sayang-Nya dalam menjalani taqdir ini. Sehingga ia berada di antara kelembutan-Nya dan kasih sayang-Nya. Kasih sayang-Nya melindunginya dari apa yang ia khawatirkan, dan kelembutan-Nya membuatnya merasa ringan dalam menjalani taqdir-Nya.
Bila taqdir itu terlaksana pada seorang hamba, maka di antara sebab kuatnya tekanan taqdir itu pada dirinya adalah usahanya untuk menolaknya. Sehingga bila demikian, tiada yang lebih bermanfaat baginya daripada berserah diri dan melemparkan dirinya di hadapan taqdir dalam keadaan terkapar, seolah sebuah mayat. Dan sesungguhnya binatang buas itu tidak akan rela memakan mayat.
(Diterjemahkan oleh Qomar ZA dari buku Al-Fawa`id hal. 153-155)
sumber : www.asysyariah.com
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)
Dalam ayat ini ada beberapa hikmah dan rahasia serta maslahat untuk seorang hamba. Karena sesungguhnya jika seorang hamba tahu bahwa sesuatu yang dibenci itu terkadang membawa sesuatu yang disukai, sebagaimana yang disukai terkadang membawa sesuatu yang dibenci, iapun tidak akan merasa aman untuk tertimpa sesuatu yang mencelakakan menyertai sesuatu yang menyenangkan. Dan iapun tidak akan putus asa untuk mendapatkan sesuatu yang menyenangkan menyertai sesuatu yang mencelakakan. Ia tidak tahu akibat suatu perkara, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh hamba. Dan ini menumbuhkan pada diri hamba beberapa hal:
1. Bahwa tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hamba daripada melakukan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, walaupun di awalnya terasa berat. Karena seluruh akibatnya adalah kebaikan dan menyenangkan, serta kenikmatan-kenikmatan dan kebahagiaan. Walaupun jiwanya benci, akan tetapi hal itu akan lebih baik dan bermanfaat. Demikian pula, tidak ada yang lebih mencelakakan dia daripada melakukan larangan, walaupun jiwanya cenderung dan condong kepadanya. Karena semua akibatnya adalah penderitaan, kesedihan, kejelekan, dan berbagai musibah.
Ciri khas orang yang berakal sehat, ia akan bersabar dengan penderitaan sesaat, yang akan berbuah kenikmatan yang besar dan kebaikan yang banyak. Dan ia akan menahan diri dari kenikmatan sesaat yang mengakibatkan kepedihan yang besar dan penderitaan yang berlarut-larut.
Adapun pandangan orang yang bodoh itu (dangkal), sehingga ia tidak akan melampaui permukaan dan tidak akan sampai kepada ujung akibatnya. Sementara orang yang berakal lagi cerdas akan senantiasa melihat kepada puncak akibat sesuatu yang berada di balik tirai permukaannya. Iapun akan melihat apa yang di balik tirai tersebut berupa akibat-akibat yang baik ataupun yang jelek. Sehingga ia memandang suatu larangan itu bagai makanan lezat yang telah tercampur dengan racun yang mematikan. Setiap kali kelezatannya menggodanya untuk memakannya, maka racunnya menghalanginya (untuk memakannya). Ia juga memandang perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala bagai obat yang pahit rasanya, namun mengantarkan kepada kesembuhan dan kesehatan. Maka, setiap kali kebenciannya terhadap rasa (pahit)nya menghalanginya untuk mengonsumsinya, manfaatnyapun akan memerintahkannya untuk mengonsumsinya.
Akan tetapi, itu semua memerlukan ilmu yang lebih, yang dengannya ia akan mengetahui akibat dari sesuatu. Juga memerlukan kesabaran yang kuat, yang mengokohkan dirinya untuk memikul beban perjalanannya, demi mendapatkan apa yang dia harapkan di pengujung jalan. Kalau ia kehilangan ilmu yang yakin dan kesabaran maka ia akan terhambat dari memperolehnya. Tetapi bila ilmu yakinnya dan kesabarannya kuat, maka ringan baginya segala beban yang ia pikul dalam rangka memperoleh kebaikan yang langgeng dan kenikmatan yang abadi.
2. Di antara rahasia ayat ini bahwa ayat ini menghendaki seorang hamba untuk menyerahkan urusan kepada Dzat yang mengetahui akibat segala perkara serta ridha dengan apa yang Ia pilihkan dan takdirkan untuknya, karena dia mengharapkan dari-Nya akibat-akibat yang baik.
3. Bahwa seorang hamba tidak boleh memiliki suatu pandangan yang mendahului keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau memilih sesuatu yang tidak Allah Subhanahu wa Ta’ala pilih serta memohon-Nya sesuatu yang ia tidak mengetahuinya. Karena barangkali di situlah kecelakaan dan kebinasaannya, sementara ia tidak mengetahuinya. Sehingga janganlah ia memilih sesuatu mendahului pilihan-Nya. Bahkan semestinya ia memohon kepada-Nya pilihan-Nya yang baik untuk dirinya serta memohon-Nya agar menjadikan dirinya ridha dengan pilihan-Nya. Karena tidak ada yang lebih bermanfaat untuknya daripada hal ini.
4. Bahwa bila seorang hamba menyerahkan urusan kepada Rabbnya serta ridha dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala pilihkan untuk dirinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan mengirimkan bantuan-Nya kepadanya untuk melakukan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala pilihkan, berupa kekuatan dan tekad serta kesabaran. Juga, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan palingkan darinya segala yang memalingkannya darinya, di mana hal itu menjadi penghalang pilihan hamba tersebut untuk dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan memperlihatkan kepadanya akibat-akibat baik pilihan-Nya untuk dirinya, yang ia tidak akan mampu mencapainya walaupun sebagian dari apa yang dia lihat pada pilihannya untuk dirinya.
5. Di antara hikmah ayat ini, bahwa ayat ini membuat lega hamba dari berbagai pikiran yang meletihkan pada berbagai macam pilihan. Juga melegakan kalbunya dari perhitungan-perhitungan dan rencana-rencananya, yang ia terus-menerus naik turun pada tebing-tebingnya. Namun demikian, iapun tidak mampu keluar atau lepas dari apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah taqdirkan. Seandainya ia ridha dengan pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala maka takdir akan menghampirinya dalam keadaan ia terpuji dan tersyukuri serta terkasihi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bila tidak, maka taqdir tetap akan berjalan padanya dalam keadaan ia tercela dan tidak mendapatkan kasih sayang-Nya karena ia bersama pilihannya sendiri. Dan ketika seorang hamba tepat dalam menyerahkan urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ridhanya kepada-Nya, ia akan diapit oleh kelembutan-Nya dan kasih sayang-Nya dalam menjalani taqdir ini. Sehingga ia berada di antara kelembutan-Nya dan kasih sayang-Nya. Kasih sayang-Nya melindunginya dari apa yang ia khawatirkan, dan kelembutan-Nya membuatnya merasa ringan dalam menjalani taqdir-Nya.
Bila taqdir itu terlaksana pada seorang hamba, maka di antara sebab kuatnya tekanan taqdir itu pada dirinya adalah usahanya untuk menolaknya. Sehingga bila demikian, tiada yang lebih bermanfaat baginya daripada berserah diri dan melemparkan dirinya di hadapan taqdir dalam keadaan terkapar, seolah sebuah mayat. Dan sesungguhnya binatang buas itu tidak akan rela memakan mayat.
(Diterjemahkan oleh Qomar ZA dari buku Al-Fawa`id hal. 153-155)
sumber : www.asysyariah.com
Di Balik Kelembutan Suaramu
Di Balik Kelembutan Suaramu
Banyak wanita di jaman ini yang merelakan dirinya menjadi komoditi. Tidak hanya wajah dan tubuhnya yang menjadi barang dagangan, suaranya pun bisa mendatangkan banyak rupiah
Ukhti Muslimah….
Suara empuk dan tawa canda seorang wanita terlalu sering kita dengarkan di sekitar kita, baik secara langsung atau lewat radio dan televisi. Terlebih lagi bila wanita itu berprofesi sebagai penyiar atau MC karena memang termasuk modal utamanya adalah suara yang indah dan merdu.
Begitu mudahnya wanita tersebut memperdengarkan suaranya yang bak buluh perindu, tanpa ada rasa takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Padahal Dia telah memperingatkan:
“Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang ma‘ruf.” (Al Ahzab: 32)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga telah bersabda :
“Wanita itu adalah aurat, apabila ia keluar rumah maka syaitan menghias-hiasinya (membuat indah dalam pandangan laki-laki sehingga ia terfitnah)”. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan dengan syarat Muslim oleh Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi`i dalam Ash Shahihul Musnad, 2/36).
Suara merupakan bagian dari wanita sehingga suara termasuk aurat, demikian fatwa yang disampaikan Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan dan Asy Syaikh Abdullah bin Abdirrahman Al Jibrin sebagaimana dinukil dalam kitab Fatawa Al Mar’ah Al Muslimah (1/ 431, 434)
Para wanita diwajibkan untuk menjauhi setiap perkara yang dapat mengantarkan kepada fitnah. Apabila ia memperdengarkan suaranya, kemudian dengan itu terfitnahlah kaum lelaki, maka seharusnya ia menghentikan ucapannya. Oleh karena itu para wanita diperintahkan untuk tidak mengeraskan suaranya ketika bertalbiyah1. Ketika mengingatkan imam yang keliru dalam shalatnya, wanita tidak boleh memperdengarkan suaranya dengan ber-tashbih sebagaimana laki-laki, tapi cukup menepukkan tangannya, sebagaimana tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
“Ucapan tashbih itu untuk laki-laki sedang tepuk tangan untuk wanita”. (HR. Al Bukhari no. 1203 dan Muslim no. 422)
Demikian pula dalam masalah adzan, tidak disyariatkan bagi wanita untuk mengumandangkannya lewat menara-menara masjid karena hal itu melazimkan suara yang keras.
Ketika terpaksa harus berbicara dengan laki-laki dikarenakan ada kebutuhan, wanita dilarang melembutkan dan memerdukan suaranya sebagaimana larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Al-Ahzab di atas. Dia dibolehkan hanya berbicara seperlunya, tanpa berpanjang kata melebihi keperluan semula.
Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah u berkata dalam tafsirnya: “Makna dari ayat ini (Al-Ahzab: 32), ia berbicara dengan laki-laki yang bukan mahramnya tanpa melembutkan suaranya, yakni tidak seperti suaranya ketika berbicara dengan suaminya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/491).
Maksud penyakit dalam ayat ini adalah syahwat (nafsu/keinginan) berzina yang kadang-kadang bertambah kuat dalam hati ketika mendengar suara lembut seorang wanita atau ketika mendengar ucapan sepasang suami istri, atau yang semisalnya.
Suara wanita di radio
dan telepon
Asy Syaikh Muhammad Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: “Bolehkah seorang wanita berprofesi sebagai penyiar radio, di mana ia memperdengarkan suaranya kepada laki-laki yang bukan mahramnya? Apakah seorang laki-laki boleh berbicara dengan wanita melalui pesawat telepon atau secara langsung?”
Asy Syaikh menjawab: “Apabila seorang wanita bekerja di stasiun radio maka dapat dipastikan ia akan ikhtilath (bercampur baur) dengan kaum lelaki. Bahkan seringkali ia berdua saja dengan seorang laki-laki di ruang siaran. Yang seperti ini tidak diragukan lagi kemungkaran dan keharamannya. Telah jelas sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
“Jangan sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita.”
Ikhtilath yang seperti ini selamanya tidak akan dihalalkan. Terlebih lagi seorang wanita yang bekerja sebagai penyiar radio tentunya berusaha untuk menghiasi suaranya agar dapat memikat dan menarik. Yang demikian inipun merupakan bencana yang wajib dihindari disebabkan akan timbulnya fitnah.
Adapun mendengar suara wanita melalui telepon maka hal tersebut tidaklah mengapa dan tidak dilarang untuk berbicara dengan wanita melalui telepon. Yang tidak diperbolehkan adalah berlezat-lezat (menikmati) suara tersebut atau terus-menerus berbincang-bincang dengan wanita karena ingin menikmati suaranya. Seperti inilah yang diharamkan. Namun bila hanya sekedar memberi kabar atau meminta fatwa mengenai suatu permasalahan tertentu, atau tujuan lain yang semisalnya, maka hal ini diperbolehkan. Akan tetapi apabila timbul sikap-sikap lunak dan lemah-lembut, maka bergeser menjadi haram. Walaupun seandainya tidak terjadi yang demikian ini, namun tanpa sepengetahuan si wanita, laki-laki yang mengajaknya bicara ternyata menikmati dan berlezat-lezat dengan suaranya, maka haram bagi laki-laki tersebut dan wanita itu tidak boleh melanjutkan pembicaraannya seketika ia menyadarinya.
Sedangkan mengajak bicara wanita secara langsung maka tidak menjadi masalah, dengan syarat wanita tersebut berhijab dan aman dari fitnah. Misalnya wanita yang diajak bicara itu adalah orang yang telah dikenalnya, seperti istri saudara laki-lakinya (kakak/adik ipar), atau anak perempuan pamannya dan yang semisal mereka.” (Fatawa Al Mar‘ah Al Muslimah, 1/433-434).
Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Al Jibrin menambahkan dalam fatwanya tentang permasalahan ini: “Wajib bagi wanita untuk bicara seperlunya melalui telepon, sama saja apakah dia yang memulai menelepon atau ia hanya menjawab orang yang menghubunginya lewat telepon, karena ia dalam keadaan terpaksa dan ada faidah yang didapatkan bagi kedua belah pihak di mana keperluan bisa tersampaikan padahal tempat saling berjauhan dan terjaga dari pembicaraan yang mendalam di luar kebutuhan dan terjaga dari perkara yang menyebabkan bergeloranya syahwat salah satu dari kedua belah pihak. Namun yang lebih utama adalah meninggalkan hal tersebut kecuali pada keadaan yang sangat mendesak.” (Fatawa Al Mar`ah, 1/435)
Laki-laki berbicara lewat telepon dengan wanita yang telah dipinangnya
Kenyataan yang ada di sekitar kita, bila seorang laki-laki telah meminang seorang wanita, keduanya menilai hubungan mereka telah teranggap setengah resmi sehingga apa yang sebelumnya tidak diperkenankan sekarang dibolehkan. Contoh yang paling mudah adalah masalah pembicaraan antara keduanya secara langsung ataupun lewat telepon. Si wanita memperdengarkan suaranya dengan mendayu-dayu karena menganggap sedang berbincang dengan calon suaminya, orang yang bakal menjadi kekasih hatinya. Pihak laki-laki juga demikian, menyapa dengan penuh kelembutan untuk menunjukkan dia adalah seorang laki-laki yang penuh kasih sayang. Tapi sebenarnya bagaimana timbangan syariat dalam permasalahan ini?
Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan menjawab:” Tidak apa-apa seorang laki-laki berbicara lewat telepon dengan wanita yang telah dipinangnya (di-khitbah-nya), apabila memang pinangannya (khitbah) telah diterima. Dan pembicaraan itu dilakukan untuk saling memberikan pengertian, sebatas kebutuhan dan tidak ada fitnah di dalamnya. Namun bila keperluan yang ada disampaikan lewat wali si wanita maka itu lebih baik dan lebih jauh dari fitnah. Adapun pembicaraan antara laki-laki dan wanita, antara pemuda dan pemudi, sekedar perkenalan (ta‘aruf) –kata mereka- sementara belum ada khithbah di antara mereka, maka ini perbuatan yang mungkar dan haram, mengajak kepada fitnah dan menjerumuskan kepada perbuatan keji. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman:
“Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang ma‘ruf.” (Al-Ahzab: 32) (Fatawa Al Mar‘ah, 2/605) ?
(Disusun dan dikumpulkan dari fatwa Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan dan Asy Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin
oleh Ummu Ishaq Al Atsariyah dan Ummu ‘Affan Nafisah bintu Abi Salim).
Sumber : WWW.ASYSYARIAH.COM
Banyak wanita di jaman ini yang merelakan dirinya menjadi komoditi. Tidak hanya wajah dan tubuhnya yang menjadi barang dagangan, suaranya pun bisa mendatangkan banyak rupiah
Ukhti Muslimah….
Suara empuk dan tawa canda seorang wanita terlalu sering kita dengarkan di sekitar kita, baik secara langsung atau lewat radio dan televisi. Terlebih lagi bila wanita itu berprofesi sebagai penyiar atau MC karena memang termasuk modal utamanya adalah suara yang indah dan merdu.
Begitu mudahnya wanita tersebut memperdengarkan suaranya yang bak buluh perindu, tanpa ada rasa takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Padahal Dia telah memperingatkan:
“Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang ma‘ruf.” (Al Ahzab: 32)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga telah bersabda :
“Wanita itu adalah aurat, apabila ia keluar rumah maka syaitan menghias-hiasinya (membuat indah dalam pandangan laki-laki sehingga ia terfitnah)”. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan dengan syarat Muslim oleh Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi`i dalam Ash Shahihul Musnad, 2/36).
Suara merupakan bagian dari wanita sehingga suara termasuk aurat, demikian fatwa yang disampaikan Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan dan Asy Syaikh Abdullah bin Abdirrahman Al Jibrin sebagaimana dinukil dalam kitab Fatawa Al Mar’ah Al Muslimah (1/ 431, 434)
Para wanita diwajibkan untuk menjauhi setiap perkara yang dapat mengantarkan kepada fitnah. Apabila ia memperdengarkan suaranya, kemudian dengan itu terfitnahlah kaum lelaki, maka seharusnya ia menghentikan ucapannya. Oleh karena itu para wanita diperintahkan untuk tidak mengeraskan suaranya ketika bertalbiyah1. Ketika mengingatkan imam yang keliru dalam shalatnya, wanita tidak boleh memperdengarkan suaranya dengan ber-tashbih sebagaimana laki-laki, tapi cukup menepukkan tangannya, sebagaimana tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
“Ucapan tashbih itu untuk laki-laki sedang tepuk tangan untuk wanita”. (HR. Al Bukhari no. 1203 dan Muslim no. 422)
Demikian pula dalam masalah adzan, tidak disyariatkan bagi wanita untuk mengumandangkannya lewat menara-menara masjid karena hal itu melazimkan suara yang keras.
Ketika terpaksa harus berbicara dengan laki-laki dikarenakan ada kebutuhan, wanita dilarang melembutkan dan memerdukan suaranya sebagaimana larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Al-Ahzab di atas. Dia dibolehkan hanya berbicara seperlunya, tanpa berpanjang kata melebihi keperluan semula.
Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah u berkata dalam tafsirnya: “Makna dari ayat ini (Al-Ahzab: 32), ia berbicara dengan laki-laki yang bukan mahramnya tanpa melembutkan suaranya, yakni tidak seperti suaranya ketika berbicara dengan suaminya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/491).
Maksud penyakit dalam ayat ini adalah syahwat (nafsu/keinginan) berzina yang kadang-kadang bertambah kuat dalam hati ketika mendengar suara lembut seorang wanita atau ketika mendengar ucapan sepasang suami istri, atau yang semisalnya.
Suara wanita di radio
dan telepon
Asy Syaikh Muhammad Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: “Bolehkah seorang wanita berprofesi sebagai penyiar radio, di mana ia memperdengarkan suaranya kepada laki-laki yang bukan mahramnya? Apakah seorang laki-laki boleh berbicara dengan wanita melalui pesawat telepon atau secara langsung?”
Asy Syaikh menjawab: “Apabila seorang wanita bekerja di stasiun radio maka dapat dipastikan ia akan ikhtilath (bercampur baur) dengan kaum lelaki. Bahkan seringkali ia berdua saja dengan seorang laki-laki di ruang siaran. Yang seperti ini tidak diragukan lagi kemungkaran dan keharamannya. Telah jelas sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
“Jangan sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita.”
Ikhtilath yang seperti ini selamanya tidak akan dihalalkan. Terlebih lagi seorang wanita yang bekerja sebagai penyiar radio tentunya berusaha untuk menghiasi suaranya agar dapat memikat dan menarik. Yang demikian inipun merupakan bencana yang wajib dihindari disebabkan akan timbulnya fitnah.
Adapun mendengar suara wanita melalui telepon maka hal tersebut tidaklah mengapa dan tidak dilarang untuk berbicara dengan wanita melalui telepon. Yang tidak diperbolehkan adalah berlezat-lezat (menikmati) suara tersebut atau terus-menerus berbincang-bincang dengan wanita karena ingin menikmati suaranya. Seperti inilah yang diharamkan. Namun bila hanya sekedar memberi kabar atau meminta fatwa mengenai suatu permasalahan tertentu, atau tujuan lain yang semisalnya, maka hal ini diperbolehkan. Akan tetapi apabila timbul sikap-sikap lunak dan lemah-lembut, maka bergeser menjadi haram. Walaupun seandainya tidak terjadi yang demikian ini, namun tanpa sepengetahuan si wanita, laki-laki yang mengajaknya bicara ternyata menikmati dan berlezat-lezat dengan suaranya, maka haram bagi laki-laki tersebut dan wanita itu tidak boleh melanjutkan pembicaraannya seketika ia menyadarinya.
Sedangkan mengajak bicara wanita secara langsung maka tidak menjadi masalah, dengan syarat wanita tersebut berhijab dan aman dari fitnah. Misalnya wanita yang diajak bicara itu adalah orang yang telah dikenalnya, seperti istri saudara laki-lakinya (kakak/adik ipar), atau anak perempuan pamannya dan yang semisal mereka.” (Fatawa Al Mar‘ah Al Muslimah, 1/433-434).
Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Al Jibrin menambahkan dalam fatwanya tentang permasalahan ini: “Wajib bagi wanita untuk bicara seperlunya melalui telepon, sama saja apakah dia yang memulai menelepon atau ia hanya menjawab orang yang menghubunginya lewat telepon, karena ia dalam keadaan terpaksa dan ada faidah yang didapatkan bagi kedua belah pihak di mana keperluan bisa tersampaikan padahal tempat saling berjauhan dan terjaga dari pembicaraan yang mendalam di luar kebutuhan dan terjaga dari perkara yang menyebabkan bergeloranya syahwat salah satu dari kedua belah pihak. Namun yang lebih utama adalah meninggalkan hal tersebut kecuali pada keadaan yang sangat mendesak.” (Fatawa Al Mar`ah, 1/435)
Laki-laki berbicara lewat telepon dengan wanita yang telah dipinangnya
Kenyataan yang ada di sekitar kita, bila seorang laki-laki telah meminang seorang wanita, keduanya menilai hubungan mereka telah teranggap setengah resmi sehingga apa yang sebelumnya tidak diperkenankan sekarang dibolehkan. Contoh yang paling mudah adalah masalah pembicaraan antara keduanya secara langsung ataupun lewat telepon. Si wanita memperdengarkan suaranya dengan mendayu-dayu karena menganggap sedang berbincang dengan calon suaminya, orang yang bakal menjadi kekasih hatinya. Pihak laki-laki juga demikian, menyapa dengan penuh kelembutan untuk menunjukkan dia adalah seorang laki-laki yang penuh kasih sayang. Tapi sebenarnya bagaimana timbangan syariat dalam permasalahan ini?
Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan menjawab:” Tidak apa-apa seorang laki-laki berbicara lewat telepon dengan wanita yang telah dipinangnya (di-khitbah-nya), apabila memang pinangannya (khitbah) telah diterima. Dan pembicaraan itu dilakukan untuk saling memberikan pengertian, sebatas kebutuhan dan tidak ada fitnah di dalamnya. Namun bila keperluan yang ada disampaikan lewat wali si wanita maka itu lebih baik dan lebih jauh dari fitnah. Adapun pembicaraan antara laki-laki dan wanita, antara pemuda dan pemudi, sekedar perkenalan (ta‘aruf) –kata mereka- sementara belum ada khithbah di antara mereka, maka ini perbuatan yang mungkar dan haram, mengajak kepada fitnah dan menjerumuskan kepada perbuatan keji. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman:
“Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang ma‘ruf.” (Al-Ahzab: 32) (Fatawa Al Mar‘ah, 2/605) ?
(Disusun dan dikumpulkan dari fatwa Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan dan Asy Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin
oleh Ummu Ishaq Al Atsariyah dan Ummu ‘Affan Nafisah bintu Abi Salim).
Sumber : WWW.ASYSYARIAH.COM
Catatan kecilq....kunci-kunci kebaikan.
catatan kecilq:kunci-kunci kebaikan.
Ibnu Qayim al-Jauziyah –rahimahullah- berkata :
“Allah telah menjadikan kunci sebagai pembuka setiap perkara yang dituntut. Dia menjadikan kunci shalat adalah bersuci, sebagaimana sabda Nabi –shalallahu ‘alaihi wa sallam –
“ Kunci sholat adalah bersuci” ( HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, disahihkan olah al-Bani dalam sahih al-Jami’ )
Dan kunci haji adalah ihram.
Kunci kebajikan adalah kejujuran.
Kunci surga adalah tauhid.
Kunci ilmu adalah sikap yang baik dalam bertanya dan mendengar.
Kunci pertolongan dan kemenangan adalah kesabaran.
Kunci bertambahnya nikmat adalah syukur.
Kunci kewalian kecintaan dan dzikir.
Kunci keberuntungan adalah takwa.
Kunci taufiq adalah raghbah ( rasa harap yang disertai dengan amalan dan rahbah ( rasa takut yang disertai dengan amalan ).
Kunci ijabah ( sambutan Allah ) adalah do’a.
Kunci cinta akhirat adalah zuhud terhadap dunia.
Kunci iman adalah memikirkan perkara yang Allah serukan untuk difikirkan oleh hamba-hambaNya.
Kunci untuk menjumpai Allah adalah ketundukan hati dan keselamatan hati untuk-Nya, ikhlas kepadaNya dalam cinta, benci, berbuat dan meninggalkan sesuatu.
Kunci hidupnya hati adalah tadabbur ( memperhatikan dan merenungi ) al-Qur’an, merendahkan diri waktu sahar ( waktu malam sebelum fajar ) dan meninggalkan dosa.
Kunci mendapatkan rahmat adalah berbuat ihsan dalam beribadah kepada al-Khaliq ( sang Pencipta ) dan berusaha memberi manfaat kepada hamba-hambaNya.
Kunci rizki adalah usaha yang disertai istighfar dan takwa.
Kunci kemuliaan adalah ketaatan kepada Allah dan RosulNya.
Kunci persiapan diri untuk akhirat adalah memperpendek angan – angan. Dan kunci segala kabaikan adalah kecintaan kepada Allah dan negeri akhirat.
Sedangkan kunci segala keburukan adalah cinta dunia dan panjang angan- angan..
Ini adalah permasalahan agung yang merupakan permasalahan ilmu paling bermanfaat. Yaitu mengetahui kunci – kunci kebaikan dan keburukan. Tidak ada yang mendapatkan taufik untuk mengetahui dan memperhatikannya kecuali orang yang memiliki bagian dan taufik yang besar” ( al-Jawabul Kafi, hal 100 )
tulisan & foto Akhi Nurman.....
Istiqomahlah!
Istiqomahlah!
Catatan Abu Mushlih Ari Wahyudi
Hari ini jam 10:46
Segala puji bagi Allah, Rabb yang telah menciptakan kita dan orang-orang sebelum kita agar kita beriman dan istiqomah di atas ketaatan kepada-Nya. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi terakhir dan kekasih ar-Rahman, sang pembawa petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan di atas seluruh agama yang ada. Amma ba’du.
Saudara-saudaraku sekalian, … kita hidup di zaman yang penuh dengan cobaan dari Allah al-’Aziz al-Hakim. Cobaan dan ujian yang menyelimuti umat manusia ibarat derasnya hujan yang menyirami bumi, bahkan terkadang bergelombang menyerang silih berganti bak ombak lautan yang menerjang tepi-tepi pantai. Maha suci Allah dari melakukan perbuatan yang sia-sia. Sesungguhnya, dengan ujian dan musibah yang mendera manusia akan menampakkan kepada kita siapakah orang yang tegar di atas jalan-Nya, dan siapakah orang-orang yang berjatuhan dan melenceng dari jalan-Nya yang lurus.
Istiqomah merupakan sebuah perkara yang sangat mulia, yang tak akan ditemukan jawabannya kecuali dari jawaban seorang utusan Rabb semesta alam. Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya;
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ ح و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ جَمِيعًا عَنْ جَرِيرٍ ح و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ كُلُّهُمْ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ وَفِي حَدِيثِ أَبِي أُسَامَةَ غَيْرَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ
Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib menuturkan kepada kami. Mereka berdua berkata; Ibnu Numair menuturkan kepada kami [tanda perpindahan sanad] demikian pula Qutaibah bin Sa’id dan Ishaq bin Ibrahim mereka semuanya menuturkan kepada kami dari Jarir [tanda perpindahan sanad] begitu pula Abu Kuraib menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abu Usamah menuturkan kepada kami. Mereka semuanya meriwayatkan dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi, dia berkata; Aku berkata, “Wahai Rasulullah, katakanlah kepada saya suatu ucapan di dalam Islam yang tidak akan saya tanyakan kepada seorang pun sesudah anda.” Sedangkan dalam penuturan Abu Usamah dengan ungkapan, “orang selain anda”, maka beliau menjawab, “Katakanlah; Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman, lihat Syarh Nawawi [2/91-92])
Sebuah perkara yang sangat agung dan tidak bisa diremehkan, sampai-sampai Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma mengatakan tatkala menjelaskan firman Allah ta’ala,
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ
“Istiqomahlah engkau sebagaimana yang telah diperintahkan kepadamu.” (QS. Huud : 112)
Ibnu Abbas mengatakan, “Tidaklah turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam keseluruhan al-Qur’an suatu ayat yang lebih berat dan lebih sulit bagi beliau daripada ayat ini.” (lihat Syarh Nawawi [2/92]).
Sampai-sampai sebagian ulama -sebagaimana dinukil oleh Abu al-Qasim al-Qusyairi- mengatakan,
الِاسْتِقَامَة لَا يُطِيقهَا إِلَّا الْأَكَابِر
“Tidak ada yang bisa benar-benar istiqomah melainkan orang-orang besar.” (Disebutkan oleh an-Nawawi dalam Syarh Muslim [2/92])
Oleh sebab itu ikhwah sekalian, semoga Allah meneguhkan kita di atas jalan-Nya, marilah barang sejenak kita mengingat besarnya nikmat yang Allah karuniakan kepada Ahlus Sunnah yang tetap tegak di atas kebenaran di antara berbagai golongan yang menyimpang dari jalan-Nya. Inilah nikmat teragung dan anugerah terindah yang menjadi cita-cita setiap mukmin. Allah ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُون
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan; Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka istiqomah akan turun kepada mereka para malaikat seraya mengatakan; Janganlah kalian takut dan jangan sedih, dan bergembiralah dengan surga yang dijanjikan kepada kalian.” (QS. Fusshilat : 30).
al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah mengatakan bahwa yang dimaksud oleh ayat di atas -QS. Fusshilat : 30- adalah orang-orang yang mentauhidkan Allah dan beriman kepada-Nya lalu istiqomah dan tidak berpaling dari tauhid. Mereka konsisten dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala sampai akhirnya mereka meninggal dalam keadaan itu (lihat Syarh Nawawi [2/92]).
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, bahwa mereka itu adalah orang-orang yang mengakui dan mengikrarkan -keimanan mereka-, mereka ridha akan rububiyah Allah ta’ala serta pasrah kepada perintah-Nya. Kemudian mereka istiqomah di atas jalan yang lurus dengan ilmu dan amal mereka, mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan kabar gembira di dalam kehidupan dunia dan di akhirat (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman [2/1037-1038]).
Abu Bakar as-Shiddiq radhiyallahu’anhu mengatakan ketika menafsirkan ayat di atas (yang artinya), “Kemudan mereka tetap istiqomah”, maka beliau mengatakan, “Artinya mereka tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun.” Diriwayatkan pula dari beliau, “Yaitu mereka tidak berpaling kepada sesembahan selain-Nya.” (Disebutkan oleh Ibnu Rajab al-Hanbali di dalam Jami’ al-’Ulum, hal. 260).
Ali bin Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma tentang makna firman Allah ta’ala “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan; Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka istiqomah”, beliau mengatakan, “Yaitu mereka istiqomah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban yang Allah bebankan.” Sedangkan Abu al-’Aliyah mengatakan, “Kemudian -setelah mengatakan ‘Rabb kami adalah Allah- maka mereka pun mengikhlaskan kepada-Nya agama dan amal.” Qatadah mengatakan, “Mereka istiqomah di atas ketaatan kepada Allah.” Diriwayatkan pula dari Hasan al-Bashri, apabila beliau membaca ayat ini maka beliau berdoa, Allahumma anta Rabbuna farzuqnal istiqomah; ‘Ya Allah, engkaulah Rabb kami, karuniakanlah rezeki keistiqomahan kepada kami’.” (Jami’ al-’Ulum, hal. 260).
Saudariku, Kapan kembali ke Jalan Tuhanmu?
Saudariku, Kapan kembali ke Jalan Tuhanmu?
22 Desember 2009 jam 10:54
Waspadalah terhadap Serigala...
Aku mempunyai seorang teman yang kucintai karena keutamaan dan adabnya. Aku kagum melihatnya. Kehadirannya dapat menenteramkanku.
Aku sudah lama bershabat dengannya. Sedikit pun aku tidak memungkiri perihalnya, dan dia pun tidak mengingkari perihalku sedikit pun sampai aku pergi dan kami saling mengirim surat selama satu masa, hingga kemudian terputuslah hubungan antara kami.
Aku kembali, dan begitu besar keinginanku untuk dapat melihatnya lagi karena hubungan kami berdua sangatlah erat. Aku mencarinya di berbagai tempat yang pernah kami datangi dan ke tempat-tempat yang dapat aku ketahui jejaknya. Aku pergi ke rumahnya, kemudian tetangganya mengatakan kepadaku bahwa dia telah lama pindah.
Aku berdiri dalam keadaan antara putus asa dan harapan. Perasaan besarku mengatakan bahwa aku tidak akan dapat melihatnya lagi setelah hari itu, dan aku telah kehilangan laki-laki itu.
Saat aku kembali ke rumah pada suatu malam, di tengah-tengah gelapnya malam, tiba-tiba aku melewati sebuah jalan yang menyeramkan, dan sepi. Akan terbayang di benak orang-orang yang melihatnya bawa jalan itu adalah tempat jin, karena tidak ada seorang manusiapun di sana.
Aku merasa seakan-akan sedang menyelam di kedalaman lautan, dan seakan-akan ombaknya akan membuatku maju mundur. Dan tiba-tiba pula aku mendengar suara rintihan dari rumah di sepanjang jalan itu. Suara rintihan di tengah malam itu terdengar diucapkan berulang-ulang.
Hingga rintihan itu membekas dan mempengaruhi hatiku. Aku pun berkata di dalam hati, "Aduhai, betapa mengagumkan. Berapa banyak rahasia yang disimpan oleh malam ini?"
Aku telah berjanji kepada Allah bahwa aku akan membantu setiap orang susah yang aku lihat. Maka aku pun menempuh jalan menuju rumah itu. Aku mengetuk pintunya dengan lemah, lalu lebih kuat sedikit, dan akhirnya pintu itu dibuka oleh seorang bocah wanita yang masih kecil.
Aku mengamati dia, ternyata dia memegang sebuah lampu. Dia mengenakan pakaian yang compang-camping. Aku berkata kepadanya, "Apakah di tempat kalian ada orang yang sedang sakit?"
Lalu ia menghela nafas yang hampir memutuskan hatinya seraya berkata, "Ya. Tolonglah aku, sesungguhnya ayahku sedang berada dalam keadaan sakaratul maut."
Kemudian ia berjalan di depanku dan aku mengikutinya hingga berhenti di sebuah kamar dengan pintunya yang pendek. Aku masuk ke dalam, lalu terbayang olehku bahwa aku sedang masuk ke liang kuburan, bukan ke sebuah kamar, dan sedang menuju ke seorang mayit, bukan ke seorang yang sakit.
Aku mendekat kepadanya hingga aku berada di sampingnya. Tiba -tiba terlihat rangka dengan tulang belulang yang kembang kempis menarik nafas berulang-ulang. Aku meletakkan tanganku di atas keningnya, lalu ia pun membuka kedua matanya dan memandang wajahku dalam waktu yang lama. Barulah kemudian ia membuka kedua bibirnya dan berkata dengan suara yang lemah," Aku memanjatkan puji syukur kepada Allah, karena sesungguhnya aku telah mendapatkanmu, wahai sahabatku."
Lalu aku merasa seakan-akan hatiku terobek-robek. Aku mengetahui kalau aku ternyata secara kebetulan telah menemukan sahabatku yang hilang yang selama ini aku cari.
Ya, dia adalah sahabat yang bertahun-tahun kukenal, tetapi aku tidak mengenalnya lagi karena sakit dan sangat kurusnya dia.
Aku berkata kepadanya,"Ceritakan kisahmu kepadaku. Sampaikan kepadaku ceritamu!" Lalu ia berkata kepadaku, "Dengarkanlah aku!"
"Sejak bertahun-tahun aku dan ibuku tinggal di sebuah rumah, dan di samping kami terdapat seseorang yang kaya. Di dalam istananya itu terdapat seorang gadis yang sangat cantik, dan penyakit yang ada pada jiwaku yang ingin sekali mendapatkannya dan merindukannya tidak dapat aku tahan.
Aku terus mengawasi dan memperhatikannya. Aku menyelesaikan masalah-masalahnya, sehingga aku pun berhasil menjatuhkannya ke dalam perangkapku. Maka datanglah pada hatinya apa yang datang pada hatiku. Setelah aku berjanji kepadanya untuk menikahinya, aku melihatnya pada saat dia lengah dari berdzikir kepada Allah. Dia pun menyambutku dan aku berhasil mengendalikannya. Akhirnya, pada suatu hari aku merampas kehormatannya.
Beberapa hari kemudian aku mengetahui kalau di dalam perutnya terdapat sebuah janin yang bergerak-gerak. Aku sungguh menyesal dan bingung. Aku segera menjauhinya. Aku memutuskan tali cintanya. Aku meninggalkan rumahnya yang dulu sering kukunjungi, dan aku tidak lagi memikirkan tentangnya sedikit pun.
Kejadian itu telah berlalu beberapa tahun. Pada suatu hari datanglah tukang pos dengan membawa sebuah surat. Aku membukanya lalu membacanya. Ternyata perempuan itulah yang menulis surat kepadaku.
Surat itu berbunyi:
"Kalaulah aku menulis kepadamu untuk memperbaiki sebuah janji yang telah tenggelam atau cinta lama, maka demi Allah aku tidak akan menulis satu baris pun atau menggores satu huruf pun. Karena sesungguhnya aku yakin bahwa orang seperti kamu adalah seorang pengecut dan cintamu adalah cinta dusta yang berhak untuk tidak aku ingat. Aku akan sedih jika aku meminta semua itu untuk diperbaiki.
Sesungguhnya kamu mengetahui bagaimana kamu meninggalkanku, sedang di hadapanku terdapat api yang bergejolak dan sebuah janin yang bergerak-gerak.
Hatimu sedih, menyesali atas apa yang terjadi, dan takut terhadap masa depan, sehingga kamu tidak menghiraukanku. Kamu lari dariku supaya kamu tidak perlu membawa beban lantaran memandang dan merasakan kesengsaraan serta adzab, padahal kamulah penyebabnya, supaya tanganmu tidak terbebani untuk mengusap air mata yang telah kamu alirkan.
Maka, apakah setelah itu aku masih dapat membayangkan bahwa kamu adalah laki-laki yang mulia? Tidak, demi Allah, tidak! Bahkan aku tidak dapat menggambarkan bahwa kamu itu adalah seorang manusia.
Sesungguhnya kamu adalah seekor serigala yang berwujud manusia, karena kamu tidak meninggalkan satu celah dari celah-celah yang ada pada jiwa ternak betina yang sendirian lagi ketakutan kecuali kamu mengumpulkannya untuk kamu jadikan mangsa.
Kamu telah mengkhianatiku. Kamu telah berjanji untuk menikahiku, tapi ternyata kamu mengingkari janjimu itu.
Kamu melihat hatimu dan kamu mengatakan, 'Bagaimana kamu akan menikah dengan seorang wanita yang telah melakukan perbuatan zina? Padahal, tidaklah perbuatan dosa itu terjadi, kecuali telah dibuat oleh tanganmu dan kebejatan jiwamu. Kalaulah tidak karenamu, tentulah aku tidak melakukan perbuatan dosa dan tidak pula aku jatuh ke dalam perbuatan nista itu.
Sesungguhnya aku telah berusaha menolakmu, namun akhirnya aku tidak berdaya menghadapi perintahmu dan aku jatuh dihadapanmu sebagaimana jatuhnya seorang anak kecil.
Kamu telah mencuri kehormatanku, sehingga aku menjadi orang hina yang bersedih hati. Aku merasa berat untuk hidup, dan aku memohon untuk diperlambat datangnya ajal. Kenikmatan manakah yang masih ada bagi kehidupan seorang wanita yang masa depannya tidak dapat lagi menjadi seorang istri bagi seorang laki-laki, dan seorang ibu bagi anak-anak, bahkan tidak dapat lagi hidup di tengah-tengah masyarakat kecuali aku harus menundukkan kepala, menurunkan pelupuk mata, dan meletakkan pipi di atas telapak tangan?
Urat-uratku bergetar dan isi perutku mendidih karena takut dipermainkan oleh orang yang suka bermain-main dan ejekan orang-orang yang mengejek.
Kamu telah merampas kesenanganku dan menghancurkan hidupku. Kamu telah membunuhku dan membunuh kehormatan serta kesucianku. Bahkan kamu telah membunuh ibu dan bapakku, karena ibu-bapakku telah mati dan aku menduga sebab kematian mereka adalah karena mereka sangat bersedih hati atas hilangnya diriku.
Kamu telah membunuhku, karena kehidupan pahit yang aku minum dari gelasmu telah merasuk ke dalam tubuh dan jiwaku, dan menjadikan aku tergeletak di atas ranjang maut seperti lalat terbakar yang akan binasa secara perlahan-lahan.
Kamu telah lari dari rumah ayahku, karena kamu tidak mampu menghadap ke rumahku, ibuku, dan ayahku. Aku pergi ke sebuah rumah terpencil dan hidup dengan kehidupan yang hina. Aku telah bertaubat kepada Allah, dan sesungguhnya aku benar-benar berharap semoga Allah berkenan untuk menerima taubatku dan mengabulkan doaku, serta akan memindahkanku dari kampung kematian dan kesengsaraan menuju kampung kehidupan dan ketenangan.
Aku akan mati, sedangkan kamu adalah seorang pendusta, penipu, dan pencuri lagi pembunuh. Aku yakin bahwa Allah tidak akan membiarkanmu begitu saja tanpa mengambil hakku darimu.
Demi Allah, aku tidaklah menulis untuk memperbaiki ikatan janji denganmu atau melamar kasih sayangmu, karena kamu tidak layak bagiku untuk diperlakukan seperti itu.
Sesungguhnya aku telah berada di depan pintu kubur dan meninggalkan kehidupan bahagia dan sengsara di dunia. Aku tidak lagi mengharapkan cintanya, dan tidak ada keluasan bagiku menikmati dunia ini.
Sesungguhnya aku menulis surat ini kepadamu hanyalah karena aku mempunyai barang titipan untukmu, yaitu putrimu.
Meskipun rasa belas kasihan untukku telah hilang dari hatimu, namun sisakanlah sebuah kasih sayang untuknya sebagai seorang ayah. Terimalah ia, ambillah untukmu supaya ia tidak sengsara seperti yang telah diderita oleh ibunya sebelumnya."
Wanita itu pun mati dengan meninggalkan seorang putri di tempat yang terpencil ini. Ia mati dalam keadaan sendirian, tanpa sanak keluarga.
Aku belum selesai membaca surat itu tetapi aku melihat air mata sahabatku telah mengalir dari kedua pelupuk matanya, kemudian ia berkata, "Sesungguhnya aku, demi Allah, membaca surat itu dengan merasakan sebuah getaran berjalan di seluruh uratku dan terbayang olehku bahwa dadaku berusaha untuk lepas dari hatiku. Aku pun segera menuju ke rumahnya, yaitu rumah yang sekarang menjadi rumah tua ini.
Aku melihat wanita itu di dalam kamar ini. Dia tidur di atas ranjang ini pula dalam keadaan telah mati kaku, tidak bergerak lagi. Aku melihat anak perempuan kecil yang anda lihat tadi menangis atas kematian ibunya.
Aku membayangkan dosa-dosaku dalam keadaan pingsan, seakan-akan ia adalah binatang-binatang liar yang buas, yang menancapkan kukunya dan mempertajam taring-taringnya. Maka tidaklah aku sadar sampai aku berjanji kepada Allah untuk terus menetap (tinggal) di kamar yang aku namakan dengan kamar kesedihan ini, hingga aku dapat hidup sebagaimana hidupnya wanita itu dan aku mati sebagaimana ia telah mati.
Dan inilah aku, mati dalam keadaan ridha sekarang dan dalam keadaan gembira. Sesungguhnya aku telah bertaubat kepada Allah. Aku yakin dan percaya kepada Tuhanku bahwa Allah tidak akan menyelisihi apa yang telah dijanjikan kepadaku.
Barangkali adzab dan kelelahan yang aku derita serta rasa sakit dan kesengsaraan yang aku rasakan dapat menjadi penebus kesalahanku.
Wahai kaum pria yang berhati kuat, berlaku lemah lembutlah kalian kepada wanita-wanita yang berjiwa lemah. Sesungguhnya kalian tidak mengetahui ketika kalian membuat tipu daya di dalam kemuliaan mereka, hati manakah yang kamu sakiti, darah siapakah yang kamu tumpahkan, korban manakah yang kamu sergap? Dan kalian tidak mengetahui akibat pahit dari perbuatanmu yang tidak baik itu.
Wahai kaum wanita dan remaja putri, bangun dan sadarlah! Janganlah kalian terperdaya oleh janji-janji dusta dan ungkapan-ungkapan manis yang dilontarkan oleh serigala-serigala berwujud manusia yang siap memangsa.
Ingatlah selalu adzab Tuhanmu dan juga nilai kehormatanmu, kehormatan bapak-bapakmu, saudara-saudaramu, keluargamu dan kampung halamanmu. Ingatlah aib di dunia. Ingatlah pula cacat, kehancuran serta kehinaan di Akhirat.
Kisah ini dipetik dari kehidupan nyata. Wahai saudariku, anda dapat membayangkan akibat pahit yang dialami oleh putri kecil itu dan keluarga wanita itu, baik ibu atau ayahnya, ketika mereka kehilangan anak putrinya sedang mereka tidak mengetahui ke mana ia pergi.
Dan pemuda itu, tatkala ia kehilangan hidupnya. Padahal dia sangat mungkin dapat hidup bahagia seandainya ia mau berjalan di atas jalan yang benar sesuai dengan syariat. Jika ia mau melamar wanita ini dari orang tuanya dan menikah dengannya atau dengan yang lainnya, niscaya ia dapat hidup dengan rumah tangga yang sempurna, yang di dalamnya ia dapat beribadah kepada Tuhannya. Maka hatinya akan tenang dan tenteram. Dia pun dapat hidup berbahagia di dunia dan di Akhiratnya...............
Kisah ini dinukil dari Buku berjudul Saudariku......Kapan Kembali ke Jalan Tuhanmu?
Penulis Ummu Abdillah
Penerjemah Nur Qomari
Penerbit La Raiba Bima Amanta (elBA)
Saudariku, Kapan kembali ke Jalan Tuhanmu?
22 Desember 2009 jam 10:54
Langganan:
Komentar (Atom)





