Menjadi Mukmin ‘Perkasa’
March 8th, 2010 Author: Abu Mushlih
Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah, namun pada masing-masingnya terdapat kebaikan. Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah. Apabila sesuatu menimpamu janganlah berkata, ‘Seandainya dahulu aku berbuat demikian niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah, ‘Itulah ketetapan Allah dan terserah Allah apa yang dia inginkan maka tentu Dia kerjakan.’ Dikarenakan ucapan ’seandainya’ itu akan membuka celah perbuatan syaitan.” (HR. Muslim [2664] lihat Syarh Nawawi, jilid 8 hal. 260).
Hadits yang mulia ini menunjukkan :
Pertama; Allah ta’ala memiliki sifat cinta kepada sesuatu. Kecintaan Allah kepada sesuatu bertingkat-tingkat, kecintaan-Nya kepada mukmin yang kuat [imannya] lebih dalam daripada kecintaan-Nya kepada mukmin yang lemah [imannya]. Orang mukmin yang kuat adalah orang yang menyempurnakan dirinya dengan 4 hal; [1] ilmu yang bermanfaat, [2] beramal salih, [3] saling mengajak kepada kebenaran, dan [4] saling menasihati kepada kesabaran. Adapun mukmin yang lemah adalah yang belum bisa menyempurnakan semua tingkatan ini.
Kedua; kebaikan pada diri orang-orang beriman itu bertingkat-tingkat. Mereka terdiri dari tiga golongan manusia. Pertama; kaum As-Saabiqun ilal Khairat, orang-orang yang bersegera melakukan kebaikan-kebaikan. Mereka adalah orang-orang yang menunaikan amal yang wajib maupun yang sunnah serta meninggalkan perkara yang haram dan yang makruh. Kedua; kaum Al-Muqtashidun atau pertengahan. Mereka itu adalah orang yang hanya mencukupkan diri dengan melakukan kewajiban dan meninggalkan keharaman. Ketiga; Azh-Zhalimuna li anfusihim. Mereka adalah orang-orang yang mencampuri amal kebaikan mereka dengan amal-amal jelek.
Ketiga; perkara yang bermanfaat ada dua macam; perkara akhirat/keagamaan dan perkara keduniaan. Sebagaimana seorang hamba membutuhkan perkara agama maka ia juga membutuhkan perkara dunia. Kebahagiaan dirinya akan tercapai dengan senantiasa bersemangat untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat di dalam kedua perkara tersebut. Perkara yang bermanfaat dalam urusan agama kuncinya ada 2; ilmu yang bermanfaat dan amal salih. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membersihkan hati dan ruh sehingga dapat membuahkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, yaitu ilmu yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat dalam ilmu hadits, tafsir, dan fiqih serta ilmu-ilmu lain yang dapat membantunya seperti ilmu bahasa Arab dan lain sebagainya. Adapun amal salih adalah amal yang memadukan antara niat yang ikhlas untuk Allah serta perbuatan yang selalu mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan perkara dunia yang bermanfaat bagi manusia adalah dengan bekerja mencari rezeki. Pekerjaan yang paling utama bagi orang berbeda-beda tergantung pada individu dan keadaan mereka. Batasan untuk itu adalah selama hal itu benar-benar bermanfaat baginya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu”
Keempat; dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat itu tidak sepantasnya manusia bersandar kepada kekuatan, kemampuan dan kecerdasannya semata. Namun, dia harus menggantungkan hatinya kepada Allah ta’ala dan meminta pertolongan-Nya dengan harapan Allah akan memudahkan urusannya.
Kelima; apabila seseorang menjumpai perkara yang tidak menyenangkan setelah dia berusaha sekuat tenaga, maka hendaknya dia merasa ridha dengan takdir Allah ta’ala. Tidak perlu berandai-andai, karena dalam kondisi semacam itu berandai-andai justru akan membuka celah bagi syaitan. Dengan sikap semacam inilah hati kita akan menjadi tenang dan tentram dalam menghadapi musibah yang menimpa.
Keenam; di dalam hadits yang mulia ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan antara keimanan kepada takdir dengan melakukan usaha yang bermanfaat. Kedua pokok ini telah ditunjukkan oleh dalil Al-Kitab maupun As-Sunnah dalam banyak tempat. Agama seseorang tidak akan sempurna kecuali dengan kedua hal itu. Sabda Nabi, “Bersemangatlah untuk melakukan apa yang bermanfaat bagimu” merupakan perintah untuk menempuh sebab-sebab agama maupun dunia, bahkan di dalamnya terkandung perintah untuk bersungguh-sungguh dalam melakukannya, membersihkan niat dan membulatkan tekad, mewujudkan hal itu dan mengaturnya dengan sebaik-baiknya. Sedangkan sabda Nabi, “Dan mintalah pertolongan kepada Allah” merupakan bentuk keimanan kepada takdir serta perintah untuk bertawakal kepada Allah ketika mencari kemanfaatan dan menghindar dari kemudharatan dengan penuh rasa harap kepada Allah ta’ala agar urusan dunia dan agamanya menjadi sempurna.
Diringkas dari Bahjat Al-Qulub Al-Abrar wa Qurratu ‘Uyun Al-Akhyar Syarh Jawami’ Al-Alkhbar karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu ta’ala, cetakan Darul Kutub Ilmiyah, hal. 40-46
Di Telaga.......Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,"Telagaku itu sepanjang perjalanan sebulan dan sudut-sudutnya sama. Airnya lebih putih dari susu, aromanya lebih harum dari kasturi, dan pundi-pundinya bagai bintang-bintang di langit. Siapa yang minum dari telaga itu tidak akan haus selamanya." (HR. Bukhari-Muslim)
Kamis, Maret 25, 2010
Perbaikilah Hatimu, Wahai Saudaraku!
Perbaikilah Hatimu, Wahai Saudaraku!
January 8th, 2010 Author: Abu Mushlih
Oleh: Syaikh Muhammad Bin Abdullah Al Imam hafizhahullah
Segala puji bagi Allah dan aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, semoga sholawat dan salam senantiasa Allah curahkan kepadanya, kepada keluarganya dan para sahabatnya.
Semoga Allah terima kebaikan ayahanda kami Al ‘Allaamah Syaikh Robi’ Al Madkholiy atas nasehat yang telah beliau sampaikan, yang nasehat tersebut menunjukkan semangat besar beliau atas kaum muslimin secara umum dan atas saudara-saudara beliau para ahlus sunnah secara khusus. Dalam nasehat ini, beliau telah mengingatkan kita dengan nasehat ayahanda dan syaikh kita Al ‘Allaamah Al Waadi`iy semoga Allah merahmati beliau. Beliau dahulu seringkali berwasiat dengan keikhlasan untuk Allah. Beliau pernah berkata:
“Sesungguhnya kita lebih mengkhawatirkan (perlakuan buruk) dari diri kita sendiri terhadap dakwah ini, daripada (perlakuan buruk) dari orang lain terhadapnya”.
Maka wasiat-wasiat ahlul ilmi dan nasehat-nasehat mereka, haruslah senantiasa dijadikan pelajaran, diterima, dicamkan sungguh-sungguh dan dilaksanakan. Maka perkataan Syaikh kita Al Waadi’iy -semoga Allah merahmati beliau-:
“Sesungguhnya kita lebih mengkhawatirkan (perlakuan buruk) dari diri kita sendiri”
Ini adalah perkara penting. Yaitu agar kita semua tahu bahwa kesalahan-kesalahan kita dan pelanggaran-pelanggaran kita lebih membahayakan dakwah kita daripada apa yang diperbuat oleh para lawan terhadapnya di sekian banyak kesempatan.
Kalau pelanggaran-pelanggaran ini dipertahankan oleh para pelakunya secara bersikukuh, dengan memberikan sanggahan dan melontarkan bantahan.
Maka wahai para ikhwah, aku ajak diriku dan saudara-saudaraku -semoga Allah menjaga mereka- untuk memberi perhatian terhadap perbaikan qalbu-qalbu kita.
Modal kita adalah qalbu-qalbu kita. Kalau baik qalbu-qalbu ini, maka bergembiralah. Dan hendaknya kita meneladani orang-orang yang paling baik dan paling mulia setelah para Nabi dan Rasul, yaitu para Sahabat rodhiyallaahu’anhum. Para Sahabat, qalbu-qalbu mereka dipenuhi kebaikan. Sehingga ketika turun firman Allah:
لله ما في السموات وما الأرض وإن تبدوا ما في أنفسكم أو تخفوه يحاسبكم به الله
“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu…” (Q.S.2:284)
Mereka langsung menemui Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam dan berlutut serta berkata: “Wahai Rasulullah, telah Allah turunkan ayat ini kepadamu, maka kami tidak dapat menyanggupinya!”
Padahal dalam ayat itu tidak ada amalan-amalan zohir! Di dalamnya tidak ada kewajiban-kewajiban baru untuk amalan-amalan zohir. Dalam ayat itu hanya diterangkan bahwa Allah akan menghisab para hamba atas apa yang ada dalam qalbu mereka. Allah akan menghisab mereka atas apa yang terdapat dalam qalbu mereka.
Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, kami diperintah untuk berjihad, maka kami berjihad. Kami diperintah untuk bershodaqoh, maka kami bershodaqoh. Kami diperintah untuk berhijrah, maka kami berhijrah. Akan tetapi kami tidak dapat menyanggupi ayat ini.
Ini adalah salah satu tanda kefaqihan mereka, kejujuran mereka dan keikhlasan mereka, yaitu mereka ingin qalbu-qalbu mereka diridhoi oleh Allah.
Maka Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam berkata: “Apakah kalian hendak mengatakan seperti yang dikatakan oleh Orang-orang Yahudi dan Nasrani: (kami mendengar dan kami bangkang). Katakanlah: (kami mendengar dan kami taati)”.
Mereka pun berkata: “Kami dengar dan kami taati”. Maka Allah menurunkan ayat “Rasul telah beriman.. (hingga akhir ayat)” (Q.S.2:285). Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim.
Poinnya adalah bahwa para Sahabat senantiasa khawatir atas kejelekan-kejelekan qalbu, kerusakan-kerusakan qalbu dan penyakit-penyakitnya.
Siapakah orang yang selamat qalbunya?
Ketika turun firman Allah:
وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِ حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّن بَعْدِ مَا أَرَاكُم مَّا تُحِبُّونَ مِنكُم مَّن يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ الآخِرَةَ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ وَلَقَدْ عَفَا عَنكُمْ وَاللّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada sa’at kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai . Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah mema’afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.” (Q.S.3:152)
Ibnu Mas’ud berkata: “Demi Allah, aku tidak pernah tahu bahwa ada seseorang yang menginginkan dunia sampai turunnya ayat ini”. Karena mereka berjihad di jalan Allah. Orang-orang Muhajirin dan Anshor rodhiyallaahu’anhum:
Orang-orang Muhajirin: mereka telah meninggalkan tanah kelahiran, sahabat, anak-anak, harta benda, dan mereka berhijrah demi Allah dan Rasul-Nya shollallaahu’alayhiwasallam.
Orang-orang Anshor: mereka telah membela Allah dan membela Rasul-Nya, mereka mengerahkan harta benda mereka, mempersiapkan diri dan bersemangat untuk berjihad, berdakwah, mengajar dan sebagainya. Lalu turun ayat ini:
مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ
“..Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat..” (Q.S.3:152)
Maksudnya adalah bahwa asal kesalahan yang terjadi itu adalah sikap menginginkan dunia. Dan yang dimaksud dengan “menghendaki dunia” di sini adalah “ghonimah” (harta rampasan perang). Yang dimaksud dengan “menghendaki dunia” bukan menghendaki dunia secara terus menerus seperti yang sedang terjadi saat ini!
Kalau kita periksa qalbu-qalbu kita, apa yang akan kita temukan?!!
Apa yang akan kita temukan di dalamnya?!!
Dari hal-hal yang kalau kita paparkan dalil-dalil tentang hal-hal tersebut, maka kita akan tahu bahwa qalbu-qalbu kita perlu diselamatkan! Perlu diperbaikin! Perlu diperiksa ada apa di dalamnya!
Berkata Al ‘Allaamah Ibnul Jawziy -semoga Allah merahmatinya-: Orang yang tersandung di jalan itu tidak lain adalah orang yang belum mengikhlaskan amalnya untuk Allah”.
Engkau lihat salah seorang dari kita, ada yang telah menempuh jarak sedemikian jauh dalam kebaikan, ia selalu bersegera kepada kebaikan, bersemangat di dalamnya dan giat terhadapnya, namun setelah itu engkau melihat kemunduran dan kelalaian padanya yang membuatmu merasa aneh! Padahal kita tahu bahwa setiapkali seseorang berusaha melaksanakan ketaatan, Allah akan mengganjarnya dengan semakin besarnya kecintaannya, pengagungannya dan ketekunannya serta kekonsistenannya atas kebaikan tersebut. Kita baca firman Allah:
والذين اهتدوا زادهم هدى
“Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka” (Q.S.47:17)
Maka melaksanakan suatu ibadah dan ketaatan merupakan bagian dari petunjuk yang akan Allah tambahkan petunjuk-Nya kepada orang yang taat. Akan tetapi sebagaimana yang telah kalian dengar, perhatian kita untuk memperbaiki qalbu adalah suatu perkara yang sangat penting.
Jangan kau tanyakan perihal qalbumu kecuali kepada dirimu sendiri.
Lihatlah, di manakah engkau?
Lihatlah, di manakah engkau?
Oleh karena itu, telah datang suatu riwayat di dalam Shahih Bukhori dan Muslim, dari hadis Abu Huroiroh, bahwa Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam bersabda:
“Ada salah seorang nabi yang berperang. Lalu ia berkata kepada kaumnya: “Jangan ikut aku orang yang sudah beristri dan ingin bermalam bersamanya tapi belum bermalam dengannya sampai sekarang, dan orang yang telah membangun rumah namun belum memasang atapnya, dan orang yang telah membeli kambing atau ternak betina yang sedang hamil dan dia sedang menunggu ternaknya itu beranak..” al hadis.
Nabi ini tidak menerima orang yang di hatinya ada keterpautan dengan perkara-perkara dunia karena ditakutkan dengan sebab kesibukannya dan keterpautan hatinya atas perkara-perkara itu, ia menjadi tidak ikhlas kepada Allah dan tidak bersungguh-sungguh serta tidak sabar berjihad di jalan Allah, dan akan selalu menunggu-nunggu kapan ia bisa pulang kembali kepada perkara-perkara duniawinya itu!
Maka salah satu sebab penyakit hati adalah cinta dunia, cinta dunia. Maka wahai saudara-saudaraku, (cinta dunia itu) adalah salah satu malapetaka dan penyakit berbahaya.
Masing-masing kita memiliki naluri, kita telah dijadikan dan diciptakan dalam keadaan cenderung kepada cinta dunia. Dan tidak ada orang yang bisa menghindari ini dan bisa selamat kecuali sebesar usahanya memperbaiki qalbunya dan memerangi nafsunya, dan dengan melihat di manakah ia dalam memperbaiki qalbunya?
Di manakah ia dalam memperbaiki qalbunya?
Kalau qalbu ini tidak dipenuhi dengan kebaikan, dengan takut kepada Allah, dengan ikhlas kepada Allah dan bersungguh-sungguh bersama Allah, ia akan dipenuhi dengan fitnah dan penyakit.
Berkata Ibnul Jawziy -semoga Allah merahmatinya-: “Azh Zhulmu (kezoliman) itu dinamai dengan zhulmun, karena ia dari zhulmatul qolbi (kegelapan qalbu). Karena qalbu yang terang itu tidak akan menerima kegelapan. Dan kalau ia tidak terang, ia menjadi gelap dan darinyalah kezoliman itu datang”.
Maka qalbu itu membutuhkan cahaya, makanan, kesembuhan dan itulah makanannya yang telah Allah pilihkan dan telah Ia turunkan sebagai rahmat dari-Nya kepada kita dan sebagai inayah untuk memberi kita hidayah dan tawfiq.
Cahaya qalbu, makanannya, kesembuhannya dan obatnya terdapat dalam Al Quran Al Karim dan As Sunnah Al Muthohharoh.
Apakah kita bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu?!! Ilmu syar’iy?!!
Ilmu itu adalah cahaya yang lebih terang dari cahaya matahari dan bulan. Maka janganlah kita menyia-nyiakan diri kita dan hidup tanpa dibarengi dengan belajar, tanpa halqoh ilmu, tanpa berinteraksi dengan Al Quran.
Belajar, mengajar, mengkaji, memberi nasehat kepada orang banyak, berdakwah dan mengajak kepada Allah ‘azza wa jalla. Kalau tugas kita tidak sedemikian, dengan sungguh-sungguh, tekad yang kuat, kesabaran dan kerelaan serta kesadaran, maka kita akan hancur dan hancurlah dakwah kita serta hancurlah ukhuwah kita.
Berkata Syaikh kita Al Waadi’iy: “Ahlus Sunnah itu banyak, namun mereka berpencar. Mereka tidak saling mencari dan tidak saling berkenalan!”
Ini adalah salah satu dari sejumlah kesalahan dan kelalaian yang ada pada kita.
Oleh karena itu wahai ikhwah sekalian, pembicaraan ini bisa melebar ke mana-mana. Maka singkatnya: nasehat ayahanda kita Syaikh Robi’ semoga Allah menjaganya: ikhlas kepada Allah. Dan betapa indahnya apa yang beliau katakan itu. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan. Dan demikian pulalah hendaknya orang-orang yang tulus itu memberikan nasehatnya.
Berpegang teguh dengan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya shollallaahu’alayhiwasallam. Ini merupakan -sebagaimana yang kalian ketahui- sebuah prinsip agung yang tidak ada yang dapat melaksanakannya kecuali Ahlus Sunnah.
Adapun selain Ahlus Sunnah, maka mereka adalah orang-orang yang berusaha untuk menghancurkan prinsip ini sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad -semoga Allah merahmatinya-: “Para ahli bid’ah itu berselisihpendapat, menyelisihi Al Quran dan bersepakat untuk menyelisihi Al Quran”.
Berpegang teguh dengan Al Kitab dan As Sunnah itu tidak akan diwujudkan kecuali oleh orang yang meridhoi Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad shollallahu’alayhiwasallam sebagai Rasul dan Nabinya ‘alayhishsholaatuwassallaam. Barangsiapa yang menghendaki Allah dan tidak menginginkan dunia, dan barangsiapa yang mengasihi hamba-hamba Allah, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah semoga Allah merahmatinya: “Ahlus Sunnah itu golongan yang paling memahami kebenaran dan yang paling mengasihi orang banyak”,
Maka rasa kasih itu akan datang ketika kita belajar, berbekal dengan ilmu, dan berupaya memberikan nasehat dan bimbingan kepada orang banyak. Umat ini dan orang banyak sedang membutuhkan nasehat dan pengajaran. Dan sebagaimana yang kalian ketahui, baarokallaahu fiikum, bahwa dakwah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Dakwah Salafiyyah, telah Allah jadikan bermanfaat untuk orang banyak di timur maupun di barat. Dan bahwa ia pada masa sekarang ini, telah tumbuh dari negeri ini (Saudi), dan semoga Allah menjadikan negri ini bermanfaat untuk orang banyak di timur ataupun di barat. Oleh karena itu aku nasehatkan kepada para ulama dan para da’i -walaupun aku sebenarnya adalah orang yang paling membutuhkan nasehat, tapi tidak ada halangan untuk kami ingatkan- maka aku nasehatkan kepada para ulama di negeri ini, aku maksudkan para ulama Ahlus Sunnah, dan kepada para da’i serta para penuntut ilmu untuk terus melanjutkan penyebaran dakwah yang dengannya Allah telah memuliakan kalian, sebagai dakwah yang murni dan bersih. Bukan hizbiyyah, bukan paham ketimuran, bukan paham kebaratan, dan juga bukan bid’ah. Akan tetapi berpegang teguh dengan Al Kitab dan As Sunnah. Dan tanpa mengoyak, tanpa mengganti, tanpa merubah. Akan tetapi dengan ittiba’, berpegang teguh dan meneladani serta berpegang erat dengan minhaj nubuwwah.
Kita mohonkan kepada Allah dengan karunia dan kemurahan-Nya, agar Ia menambahkan hidayah, ketakwaan kepada kita, dan agar Ia memperbaiki qalbu-qalbu kita serta agar Ia senantiasa menjaga ukhuwah kita dalam agama ini. Dan tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Allah Tuhan semesta alam.
Diterjemahkan oleh Abu Abdil Halim Zulkarnain dari tautan: http://www.sh-emam.com/play-441.html
Sumber: http://darussunnah.or.id
January 8th, 2010 Author: Abu Mushlih
Oleh: Syaikh Muhammad Bin Abdullah Al Imam hafizhahullah
Segala puji bagi Allah dan aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, semoga sholawat dan salam senantiasa Allah curahkan kepadanya, kepada keluarganya dan para sahabatnya.
Semoga Allah terima kebaikan ayahanda kami Al ‘Allaamah Syaikh Robi’ Al Madkholiy atas nasehat yang telah beliau sampaikan, yang nasehat tersebut menunjukkan semangat besar beliau atas kaum muslimin secara umum dan atas saudara-saudara beliau para ahlus sunnah secara khusus. Dalam nasehat ini, beliau telah mengingatkan kita dengan nasehat ayahanda dan syaikh kita Al ‘Allaamah Al Waadi`iy semoga Allah merahmati beliau. Beliau dahulu seringkali berwasiat dengan keikhlasan untuk Allah. Beliau pernah berkata:
“Sesungguhnya kita lebih mengkhawatirkan (perlakuan buruk) dari diri kita sendiri terhadap dakwah ini, daripada (perlakuan buruk) dari orang lain terhadapnya”.
Maka wasiat-wasiat ahlul ilmi dan nasehat-nasehat mereka, haruslah senantiasa dijadikan pelajaran, diterima, dicamkan sungguh-sungguh dan dilaksanakan. Maka perkataan Syaikh kita Al Waadi’iy -semoga Allah merahmati beliau-:
“Sesungguhnya kita lebih mengkhawatirkan (perlakuan buruk) dari diri kita sendiri”
Ini adalah perkara penting. Yaitu agar kita semua tahu bahwa kesalahan-kesalahan kita dan pelanggaran-pelanggaran kita lebih membahayakan dakwah kita daripada apa yang diperbuat oleh para lawan terhadapnya di sekian banyak kesempatan.
Kalau pelanggaran-pelanggaran ini dipertahankan oleh para pelakunya secara bersikukuh, dengan memberikan sanggahan dan melontarkan bantahan.
Maka wahai para ikhwah, aku ajak diriku dan saudara-saudaraku -semoga Allah menjaga mereka- untuk memberi perhatian terhadap perbaikan qalbu-qalbu kita.
Modal kita adalah qalbu-qalbu kita. Kalau baik qalbu-qalbu ini, maka bergembiralah. Dan hendaknya kita meneladani orang-orang yang paling baik dan paling mulia setelah para Nabi dan Rasul, yaitu para Sahabat rodhiyallaahu’anhum. Para Sahabat, qalbu-qalbu mereka dipenuhi kebaikan. Sehingga ketika turun firman Allah:
لله ما في السموات وما الأرض وإن تبدوا ما في أنفسكم أو تخفوه يحاسبكم به الله
“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu…” (Q.S.2:284)
Mereka langsung menemui Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam dan berlutut serta berkata: “Wahai Rasulullah, telah Allah turunkan ayat ini kepadamu, maka kami tidak dapat menyanggupinya!”
Padahal dalam ayat itu tidak ada amalan-amalan zohir! Di dalamnya tidak ada kewajiban-kewajiban baru untuk amalan-amalan zohir. Dalam ayat itu hanya diterangkan bahwa Allah akan menghisab para hamba atas apa yang ada dalam qalbu mereka. Allah akan menghisab mereka atas apa yang terdapat dalam qalbu mereka.
Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, kami diperintah untuk berjihad, maka kami berjihad. Kami diperintah untuk bershodaqoh, maka kami bershodaqoh. Kami diperintah untuk berhijrah, maka kami berhijrah. Akan tetapi kami tidak dapat menyanggupi ayat ini.
Ini adalah salah satu tanda kefaqihan mereka, kejujuran mereka dan keikhlasan mereka, yaitu mereka ingin qalbu-qalbu mereka diridhoi oleh Allah.
Maka Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam berkata: “Apakah kalian hendak mengatakan seperti yang dikatakan oleh Orang-orang Yahudi dan Nasrani: (kami mendengar dan kami bangkang). Katakanlah: (kami mendengar dan kami taati)”.
Mereka pun berkata: “Kami dengar dan kami taati”. Maka Allah menurunkan ayat “Rasul telah beriman.. (hingga akhir ayat)” (Q.S.2:285). Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim.
Poinnya adalah bahwa para Sahabat senantiasa khawatir atas kejelekan-kejelekan qalbu, kerusakan-kerusakan qalbu dan penyakit-penyakitnya.
Siapakah orang yang selamat qalbunya?
Ketika turun firman Allah:
وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِ حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّن بَعْدِ مَا أَرَاكُم مَّا تُحِبُّونَ مِنكُم مَّن يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ الآخِرَةَ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ وَلَقَدْ عَفَا عَنكُمْ وَاللّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada sa’at kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai . Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah mema’afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.” (Q.S.3:152)
Ibnu Mas’ud berkata: “Demi Allah, aku tidak pernah tahu bahwa ada seseorang yang menginginkan dunia sampai turunnya ayat ini”. Karena mereka berjihad di jalan Allah. Orang-orang Muhajirin dan Anshor rodhiyallaahu’anhum:
Orang-orang Muhajirin: mereka telah meninggalkan tanah kelahiran, sahabat, anak-anak, harta benda, dan mereka berhijrah demi Allah dan Rasul-Nya shollallaahu’alayhiwasallam.
Orang-orang Anshor: mereka telah membela Allah dan membela Rasul-Nya, mereka mengerahkan harta benda mereka, mempersiapkan diri dan bersemangat untuk berjihad, berdakwah, mengajar dan sebagainya. Lalu turun ayat ini:
مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ
“..Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat..” (Q.S.3:152)
Maksudnya adalah bahwa asal kesalahan yang terjadi itu adalah sikap menginginkan dunia. Dan yang dimaksud dengan “menghendaki dunia” di sini adalah “ghonimah” (harta rampasan perang). Yang dimaksud dengan “menghendaki dunia” bukan menghendaki dunia secara terus menerus seperti yang sedang terjadi saat ini!
Kalau kita periksa qalbu-qalbu kita, apa yang akan kita temukan?!!
Apa yang akan kita temukan di dalamnya?!!
Dari hal-hal yang kalau kita paparkan dalil-dalil tentang hal-hal tersebut, maka kita akan tahu bahwa qalbu-qalbu kita perlu diselamatkan! Perlu diperbaikin! Perlu diperiksa ada apa di dalamnya!
Berkata Al ‘Allaamah Ibnul Jawziy -semoga Allah merahmatinya-: Orang yang tersandung di jalan itu tidak lain adalah orang yang belum mengikhlaskan amalnya untuk Allah”.
Engkau lihat salah seorang dari kita, ada yang telah menempuh jarak sedemikian jauh dalam kebaikan, ia selalu bersegera kepada kebaikan, bersemangat di dalamnya dan giat terhadapnya, namun setelah itu engkau melihat kemunduran dan kelalaian padanya yang membuatmu merasa aneh! Padahal kita tahu bahwa setiapkali seseorang berusaha melaksanakan ketaatan, Allah akan mengganjarnya dengan semakin besarnya kecintaannya, pengagungannya dan ketekunannya serta kekonsistenannya atas kebaikan tersebut. Kita baca firman Allah:
والذين اهتدوا زادهم هدى
“Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka” (Q.S.47:17)
Maka melaksanakan suatu ibadah dan ketaatan merupakan bagian dari petunjuk yang akan Allah tambahkan petunjuk-Nya kepada orang yang taat. Akan tetapi sebagaimana yang telah kalian dengar, perhatian kita untuk memperbaiki qalbu adalah suatu perkara yang sangat penting.
Jangan kau tanyakan perihal qalbumu kecuali kepada dirimu sendiri.
Lihatlah, di manakah engkau?
Lihatlah, di manakah engkau?
Oleh karena itu, telah datang suatu riwayat di dalam Shahih Bukhori dan Muslim, dari hadis Abu Huroiroh, bahwa Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam bersabda:
“Ada salah seorang nabi yang berperang. Lalu ia berkata kepada kaumnya: “Jangan ikut aku orang yang sudah beristri dan ingin bermalam bersamanya tapi belum bermalam dengannya sampai sekarang, dan orang yang telah membangun rumah namun belum memasang atapnya, dan orang yang telah membeli kambing atau ternak betina yang sedang hamil dan dia sedang menunggu ternaknya itu beranak..” al hadis.
Nabi ini tidak menerima orang yang di hatinya ada keterpautan dengan perkara-perkara dunia karena ditakutkan dengan sebab kesibukannya dan keterpautan hatinya atas perkara-perkara itu, ia menjadi tidak ikhlas kepada Allah dan tidak bersungguh-sungguh serta tidak sabar berjihad di jalan Allah, dan akan selalu menunggu-nunggu kapan ia bisa pulang kembali kepada perkara-perkara duniawinya itu!
Maka salah satu sebab penyakit hati adalah cinta dunia, cinta dunia. Maka wahai saudara-saudaraku, (cinta dunia itu) adalah salah satu malapetaka dan penyakit berbahaya.
Masing-masing kita memiliki naluri, kita telah dijadikan dan diciptakan dalam keadaan cenderung kepada cinta dunia. Dan tidak ada orang yang bisa menghindari ini dan bisa selamat kecuali sebesar usahanya memperbaiki qalbunya dan memerangi nafsunya, dan dengan melihat di manakah ia dalam memperbaiki qalbunya?
Di manakah ia dalam memperbaiki qalbunya?
Kalau qalbu ini tidak dipenuhi dengan kebaikan, dengan takut kepada Allah, dengan ikhlas kepada Allah dan bersungguh-sungguh bersama Allah, ia akan dipenuhi dengan fitnah dan penyakit.
Berkata Ibnul Jawziy -semoga Allah merahmatinya-: “Azh Zhulmu (kezoliman) itu dinamai dengan zhulmun, karena ia dari zhulmatul qolbi (kegelapan qalbu). Karena qalbu yang terang itu tidak akan menerima kegelapan. Dan kalau ia tidak terang, ia menjadi gelap dan darinyalah kezoliman itu datang”.
Maka qalbu itu membutuhkan cahaya, makanan, kesembuhan dan itulah makanannya yang telah Allah pilihkan dan telah Ia turunkan sebagai rahmat dari-Nya kepada kita dan sebagai inayah untuk memberi kita hidayah dan tawfiq.
Cahaya qalbu, makanannya, kesembuhannya dan obatnya terdapat dalam Al Quran Al Karim dan As Sunnah Al Muthohharoh.
Apakah kita bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu?!! Ilmu syar’iy?!!
Ilmu itu adalah cahaya yang lebih terang dari cahaya matahari dan bulan. Maka janganlah kita menyia-nyiakan diri kita dan hidup tanpa dibarengi dengan belajar, tanpa halqoh ilmu, tanpa berinteraksi dengan Al Quran.
Belajar, mengajar, mengkaji, memberi nasehat kepada orang banyak, berdakwah dan mengajak kepada Allah ‘azza wa jalla. Kalau tugas kita tidak sedemikian, dengan sungguh-sungguh, tekad yang kuat, kesabaran dan kerelaan serta kesadaran, maka kita akan hancur dan hancurlah dakwah kita serta hancurlah ukhuwah kita.
Berkata Syaikh kita Al Waadi’iy: “Ahlus Sunnah itu banyak, namun mereka berpencar. Mereka tidak saling mencari dan tidak saling berkenalan!”
Ini adalah salah satu dari sejumlah kesalahan dan kelalaian yang ada pada kita.
Oleh karena itu wahai ikhwah sekalian, pembicaraan ini bisa melebar ke mana-mana. Maka singkatnya: nasehat ayahanda kita Syaikh Robi’ semoga Allah menjaganya: ikhlas kepada Allah. Dan betapa indahnya apa yang beliau katakan itu. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan. Dan demikian pulalah hendaknya orang-orang yang tulus itu memberikan nasehatnya.
Berpegang teguh dengan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya shollallaahu’alayhiwasallam. Ini merupakan -sebagaimana yang kalian ketahui- sebuah prinsip agung yang tidak ada yang dapat melaksanakannya kecuali Ahlus Sunnah.
Adapun selain Ahlus Sunnah, maka mereka adalah orang-orang yang berusaha untuk menghancurkan prinsip ini sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad -semoga Allah merahmatinya-: “Para ahli bid’ah itu berselisihpendapat, menyelisihi Al Quran dan bersepakat untuk menyelisihi Al Quran”.
Berpegang teguh dengan Al Kitab dan As Sunnah itu tidak akan diwujudkan kecuali oleh orang yang meridhoi Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad shollallahu’alayhiwasallam sebagai Rasul dan Nabinya ‘alayhishsholaatuwassallaam. Barangsiapa yang menghendaki Allah dan tidak menginginkan dunia, dan barangsiapa yang mengasihi hamba-hamba Allah, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah semoga Allah merahmatinya: “Ahlus Sunnah itu golongan yang paling memahami kebenaran dan yang paling mengasihi orang banyak”,
Maka rasa kasih itu akan datang ketika kita belajar, berbekal dengan ilmu, dan berupaya memberikan nasehat dan bimbingan kepada orang banyak. Umat ini dan orang banyak sedang membutuhkan nasehat dan pengajaran. Dan sebagaimana yang kalian ketahui, baarokallaahu fiikum, bahwa dakwah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Dakwah Salafiyyah, telah Allah jadikan bermanfaat untuk orang banyak di timur maupun di barat. Dan bahwa ia pada masa sekarang ini, telah tumbuh dari negeri ini (Saudi), dan semoga Allah menjadikan negri ini bermanfaat untuk orang banyak di timur ataupun di barat. Oleh karena itu aku nasehatkan kepada para ulama dan para da’i -walaupun aku sebenarnya adalah orang yang paling membutuhkan nasehat, tapi tidak ada halangan untuk kami ingatkan- maka aku nasehatkan kepada para ulama di negeri ini, aku maksudkan para ulama Ahlus Sunnah, dan kepada para da’i serta para penuntut ilmu untuk terus melanjutkan penyebaran dakwah yang dengannya Allah telah memuliakan kalian, sebagai dakwah yang murni dan bersih. Bukan hizbiyyah, bukan paham ketimuran, bukan paham kebaratan, dan juga bukan bid’ah. Akan tetapi berpegang teguh dengan Al Kitab dan As Sunnah. Dan tanpa mengoyak, tanpa mengganti, tanpa merubah. Akan tetapi dengan ittiba’, berpegang teguh dan meneladani serta berpegang erat dengan minhaj nubuwwah.
Kita mohonkan kepada Allah dengan karunia dan kemurahan-Nya, agar Ia menambahkan hidayah, ketakwaan kepada kita, dan agar Ia memperbaiki qalbu-qalbu kita serta agar Ia senantiasa menjaga ukhuwah kita dalam agama ini. Dan tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Allah Tuhan semesta alam.
Diterjemahkan oleh Abu Abdil Halim Zulkarnain dari tautan: http://www.sh-emam.com/play-441.html
Sumber: http://darussunnah.or.id
Mereka Bertiga Pun Menangis
March 23rd, 2010 Author: Abu Mushlih
Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, dia berkata: Abu Bakar radhiyallahu’anhu berkata kepada Umar beberapa waktu setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Marilah kita bersama-sama pergi ke rumah Ummu Aiman untuk mengunjunginya sebagaimana dahulu kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sering berkunjung kepadanya.” Tatkala kami sampai bertemu dengannya, dia pun menangis. Mereka berdua -Abu Bakar dan Umar- bertanya kepadanya, “Apa yang engkau tangisi? Apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik bagi Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka dia menjawab, “Saya menangis bukan karena mengetahui bahwa apa yang di sisi Allah itu lebih baik bagi Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi saya menangis karena wahyu telah terputus turun dari langit.” Maka ucapannya itu membangkitkan perasaan mereka berdua -Abu Bakar dan Umar- untuk melelehkan air mata. Akhirnya mereka berdua pun menangis bersamanya (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [8/76-77])
Hadits yang agung ini mengandung mutiara hikmah, di antaranya:
Keutamaan berkunjung kepada orang-orang yang salih (lihat Syarh Muslim [8/76]). Hal itu dikarenakan dengan mengunjungi mereka seorang muslim akan mendapatkan gambaran mengenai keluhuran budinya sehingga akan memacu dirinya untuk meniru kebaikan mereka. Allahu a’lam.
Anjuran bagi orang yang salih untuk mengunjungi orang lain yang kedudukannya berada di bawah dirinya, dan hendaknya seorang ikut mengunjungi orang lain yang dahulu biasa dikunjungi oleh teman dekatnya (lihat Syarh Muslim [8/76])
Bolehnya sekelompok lelaki -salih- berkunjung menemui seorang perempuan salihah dan mendengar ucapannya (lihat Syarh Muslim [8/76]). Tentu saja dengan tetap menjaga adab-adab berkomunikasi antara lain jenis.
Hendaknya seorang alim yang senior juga mengajak temannya untuk keperluan mengunjungi orang lain ataupun menjenguk orang yang sedang sakit atau keperluan lain yang semisal (lihat Syarh Muslim [8/77])
Bolehnya menangis ketika bersedih karena berpisah dengan orang-orang salih dan orang-orang yang selama ini menjadi teman dekatnya, meskipun sebenarnya mereka telah berpindah kepada suatu kondisi yang lebih baik daripada kondisi dan tempat sebelumnya di mana mereka berada (lihat Syarh Muslim [8/77])
Hadits ini menunjukkan keutamaan yang ada pada diri Ummu Aiman radhiyallahu’anha, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semasa hidupnya sering berkunjung ke rumahnya. Di sebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ummu Aiman adalah ibu setelah ibu kandungku (ibuku yang kedua).” (lihat Syarh Muslim [8/76])
Kesedihan para sahabat karena terputusnya wahyu dari langit. Hal ini menunjukkan betapa besar pengagungan para sahabat terhadap Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan betapa mulia kedudukan beliau di sisi mereka. Dan sikap itu juga mencerminkan kebahagiaan hidup yang selama ini mereka rasakan bersama dengan bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu, mereka merasa bahwa kepergian beliau merupakan musibah yang sangat besar bagi umat ini. Meskipun demikian, mereka tetap bersabar dan menerima takdir ini dengan dada yang lapang, bahkan mereka meyakini bahwa apa yang dijanjikan Allah di sisi-Nya itu lebih baik bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada apa yang beliau dapatkan di dunia.
Kedalaman ilmu para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka mengetahui bahwa kenikmatan yang dijanjikan Allah di sisi-Nya itu lebih baik bagi Nabi daripada dunia dan seisinya.
Tidak ada lagi wahyu yang turun semenjak wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ini merupakan bantahan bagi orang-orang yang mengaku Nabi sesudah beliau.
www.abumushlih.com
March 23rd, 2010 Author: Abu Mushlih
Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, dia berkata: Abu Bakar radhiyallahu’anhu berkata kepada Umar beberapa waktu setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Marilah kita bersama-sama pergi ke rumah Ummu Aiman untuk mengunjunginya sebagaimana dahulu kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sering berkunjung kepadanya.” Tatkala kami sampai bertemu dengannya, dia pun menangis. Mereka berdua -Abu Bakar dan Umar- bertanya kepadanya, “Apa yang engkau tangisi? Apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik bagi Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka dia menjawab, “Saya menangis bukan karena mengetahui bahwa apa yang di sisi Allah itu lebih baik bagi Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi saya menangis karena wahyu telah terputus turun dari langit.” Maka ucapannya itu membangkitkan perasaan mereka berdua -Abu Bakar dan Umar- untuk melelehkan air mata. Akhirnya mereka berdua pun menangis bersamanya (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [8/76-77])
Hadits yang agung ini mengandung mutiara hikmah, di antaranya:
Keutamaan berkunjung kepada orang-orang yang salih (lihat Syarh Muslim [8/76]). Hal itu dikarenakan dengan mengunjungi mereka seorang muslim akan mendapatkan gambaran mengenai keluhuran budinya sehingga akan memacu dirinya untuk meniru kebaikan mereka. Allahu a’lam.
Anjuran bagi orang yang salih untuk mengunjungi orang lain yang kedudukannya berada di bawah dirinya, dan hendaknya seorang ikut mengunjungi orang lain yang dahulu biasa dikunjungi oleh teman dekatnya (lihat Syarh Muslim [8/76])
Bolehnya sekelompok lelaki -salih- berkunjung menemui seorang perempuan salihah dan mendengar ucapannya (lihat Syarh Muslim [8/76]). Tentu saja dengan tetap menjaga adab-adab berkomunikasi antara lain jenis.
Hendaknya seorang alim yang senior juga mengajak temannya untuk keperluan mengunjungi orang lain ataupun menjenguk orang yang sedang sakit atau keperluan lain yang semisal (lihat Syarh Muslim [8/77])
Bolehnya menangis ketika bersedih karena berpisah dengan orang-orang salih dan orang-orang yang selama ini menjadi teman dekatnya, meskipun sebenarnya mereka telah berpindah kepada suatu kondisi yang lebih baik daripada kondisi dan tempat sebelumnya di mana mereka berada (lihat Syarh Muslim [8/77])
Hadits ini menunjukkan keutamaan yang ada pada diri Ummu Aiman radhiyallahu’anha, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semasa hidupnya sering berkunjung ke rumahnya. Di sebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ummu Aiman adalah ibu setelah ibu kandungku (ibuku yang kedua).” (lihat Syarh Muslim [8/76])
Kesedihan para sahabat karena terputusnya wahyu dari langit. Hal ini menunjukkan betapa besar pengagungan para sahabat terhadap Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan betapa mulia kedudukan beliau di sisi mereka. Dan sikap itu juga mencerminkan kebahagiaan hidup yang selama ini mereka rasakan bersama dengan bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu, mereka merasa bahwa kepergian beliau merupakan musibah yang sangat besar bagi umat ini. Meskipun demikian, mereka tetap bersabar dan menerima takdir ini dengan dada yang lapang, bahkan mereka meyakini bahwa apa yang dijanjikan Allah di sisi-Nya itu lebih baik bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada apa yang beliau dapatkan di dunia.
Kedalaman ilmu para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka mengetahui bahwa kenikmatan yang dijanjikan Allah di sisi-Nya itu lebih baik bagi Nabi daripada dunia dan seisinya.
Tidak ada lagi wahyu yang turun semenjak wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ini merupakan bantahan bagi orang-orang yang mengaku Nabi sesudah beliau.
www.abumushlih.com
Bangunlah, Wahai Abu Turab!
March 22nd, 2010 Author: Abu Mushlih
Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu’anhu, dia berkata: Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke rumah Fathimah -putri beliau- radhiyallahu’anha namun beliau tidak menemukan Ali -suami Fathimah- ada di rumah. Maka beliau berkata, “Dimana putra pamanmu?”. Fathimah menjawab, “Ada sesuatu antara aku dengannya sehingga dia pun memarahiku lalu dia keluar rumah dan tidak tidur siang di sisiku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan kepada seseorang, “Lihatlah, dimana dia berada.” Kemudian orang itu kembali dan melaporkan, “Wahai Rasulullah, dia berada di masjid, sedang tidur.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya dalam keadaan sedang berbaring sementara kain selendangnya lepas dari bahunya -sehingga tampaklah bahunya- dan terkena terpaan debu/tanah (turab, bhs arab). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mulai mengusap debu dari tubuhnya seraya berkata, “Bangunlah wahai Abu Turab, bangunlah wahai Abu Turab.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Fath al-Bari [1/627] dan Syarh Muslim [8/34])
Hadits yang agung ini menyimpan mutiara hikmah, antara lain:
Bolehnya menyebut Ibnu al-Ab (putra paman, saudara sepupu) kepada kerabat ayah. Karena Ali bin Abi Thalib adalah putra dari paman Nabi -yaitu Abu Thalib- dan bukan putra dari paman Fathimah (lihat Fath al-Bari [1/627])
Arahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam -sebagai seorang bapak- kepada Fathimah -putrinya- agar berbicara dengan suaminya menggunakan sebutan itu. Karena di dalam sebutan tersebut terdapat unsur kelemahlembutan dan jalinan kedekatan yang timbul karena ikatan tali kekerabatan. Seolah-olah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memahami apa yang ketika itu tengah terjadi di antara putrinya dengan sang suami -yaitu Ali bin Abi Thalib-. Dengan ungkapan itu beliau ingin agar putrinya bersikap lembut dan perhatian (tidak bersikap cuek/masa bodoh) terhadap suaminya (lihat Fath al-Bari [1/627])
Tidur siang merupakan kebiasaan para salaf. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sahl bin Sa’d radhiyalahu’anhu, “Dahulu kami sering tidur siang -sebelum waktu zuhur- dan baru menikmati santap siang setelah sholat Jum’at.” (HR. Bukhari). Adapun hadits riwayat at-Thabrani yang bunyinya, “Tidurlah siang, karena sesungguhnya syaitan tidak tidur siang.” maka al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Di dalam sanadnya terdapat Katsir bin Marwan, sedangkan dia ini matruk/haditsnya ditinggalkan.” (lihat Fath al-Bari [11/79]). Yang dimaksud dengan ‘qoilulah’ (tidur siang) adalah tidur di pertengahan hari (lihat Syarh Muslim [8/34]). al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Qailulah adalah tidur di tengah siang, yaitu ketika matahari tergelincir ke barat, dan beberapa saat sebelum atau sesudahnya.” (Fath al-Bari [11/79]).
Boleh tidur siang di masjid, meskipun orang tersebut memiliki kamar tidur di rumahnya dan meskipun hal itu -tidur di sana- bukan merupakan suatu keperluan yang mendesak baginya (lihat Fath al-Bari [1/627] dan [11/79-80]).
Hadits ini juga dijadikan dalil yang menunjukkan bolehnya kaum lelaki tidur di masjid -meskipun di malam hari-, sebagaimana diungkapkan oleh al-Bukhari dan an-Nawawi (lihat Syarh Muslim [8/34] dan Fath al-Bari [1/626]. Hal itu -bolehnya sering tidur di masjid- berlaku terutama bagi orang yang belum punya tempat tinggal yang menetap, sebagaimana yang dikisahkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, bahwa beliau bersama dengan seorang pemuda lajang yang belum berkeluarga biasa tidur di masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat Fath al-Bari [1/627])
Hendaknya mengatasi kemarahan yang timbul -seperti yang sering terjadi dalam rumah tangga, antara suami dengan istri- dengan cara yang tidak membangkitkan kemarahan pula, dan semestinya berusaha menempuh cara agar kemarahan tersebut menjadi reda dan suasana menjadi cair (lihat Fath al-Bari [1/627])
Boleh memberi nama kun-yah (panggilan dengan Abu atau Ummu) kepada seseorang -ataupun untuk diri sendiri- bukan dengan menggunakan nama anaknya, sebagaimana halnya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu yang disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Abu Turab/bapaknya tanah (lihat Fath al-Bari [1/627])
Boleh memberi tambahan nama kun-yah kepada orang yang sudah memiliki nama kun-yah. Hadits ini juga menunjukkan bolehnya menjuluki seseorang (memberikan laqab/gelar) dengan memakai nama kun-yah terhadap orang yang tidak marah akibat julukan itu (lihat Fath al-Bari [1/627-628])
Seorang ayah boleh masuk rumah putrinya tanpa harus ijin terlebih dulu kepada suaminya selama dia mengetahui bahwa hal itu diridhai olehnya, artinya suami dari putrinya tidak akan mempermasalahkan hal itu (lihat Fath al-Bari [1/628])
Tidak mengapa/tidak terlarang -bagi lelaki- menampakkan kedua bahu dalam keadaan terbuka (tidak tertutup kain/baju) di luar kondisi mengerjakan sholat (lihat Fath al-Bari [1/628]). Walaupun tentu saja yang lebih utama adalah menutupnya -karena itu lebih indah-, apalagi jika berada di tempat umum yang dilihat orang banyak -lelaki ataupun perempuan- sehingga akan menyebabkan rasa risih bagi orang yang melihatnya, Allahu a’lam.
Problematika dalam hidup berumah tangga adalah masalah yang biasa terjadi kepada siapa saja. Namun, yang menjadi catatan adalah bagaimana cara menyelesaikan persoalan tersebut dengan baik dan tidak menimbulkan mafsadat atau kekacauan yang lebih besar. Oleh sebab itu dibutuhkan kesabaran dan sikap saling pengertian di antara komponen rumah tangga.
Kebiasaan suami ketika menemui masalah dengan istrinya adalah keluar/pergi meninggalkan rumahnya. Dalam hal ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu memberikan contoh yang baik dimana beliau tidak pergi ke tempat yang bukan-bukan, akan tetapi beliau pergi ke masjid dan memilih beristirahat di sana. Dan hal ini sekaligus menunjukkan betapa kuat keterikatan hati beliau dengan masjid dan ketergantungan hatinya kepada Allah ta’ala. Ditinjau dari sudut ini, maka hadits ini menunjukkan keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu.
Hadits ini menunjukkan besarnya perhatian seorang ayah kepada putrinya meskipun di saat putrinya sudah berumah tangga. Dan demikianlah yang dicontohkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana beliau ikut memperhatikan keadaan rumah tangga putrinya dan sangat menginginkan keharmonisan rumah tangga yang mereka bina.
Perintah untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Dan hal ini berlaku secara umum bagi siapa saja, termasuk di dalamnya dalam lingkup rumah tangga, antara suami dengan istri, bahkan antara orang tua dengan anak serta menantunya. Inilah bukti kesempurnaan ajaran Islam yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kecintaan dan pengagungan kepada Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada diri para sahabat adalah sesuatu yang patut diteladani dan wajib dimiliki oleh setiap mukmin.
Sebagaimana halnya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu yang sangat menyukai sebutan ‘Abu Turab’ -yang secara makna notabene terkesan tidak mengandung pujian- dikarenakan orang yang memberikannya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Sahl bin Sa’d radhiyallahu’anhu berkata, “Tidak ada nama yang lebih dicintai oleh Ali selain -panggilan- Abu Turab, dan sungguh beliau merasa senang jika dipanggil dengan nama itu.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [8/34]). Ya Allah, karuniakanlah kepada hati kami kecintaan terhadap Sunnah, dan kebencian terhadap Bid’ah …
Boleh meminta tolong seseorang untuk mencarikan orang lain, dan hal ini tidaklah mengurangi tawakal. Demikian juga diperbolehkan meminta bantuan kepada orang lain -jika diperlukan- dalam perkara-perkara kebaikan, karena hal itu termasuk dalam cakupan perintah saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa, dengan syarat tetap menggantungkan hati semata-mata kepada Allah, bukan kepada orang atau sebab/perantara yang dipakai. Allahu a’lam.
www.abumushlih.com
_______________________________________________________
Tambahan komentar.....
Abu Hâzim Sulaeman SubhanaAllôh,, begitu banyak faidah
hikmah dari satu hadits saja..Syukron katsiron atas share ilmunya..
Pada poin ke-3, kalo Ana tidak salah memahami dapat Ana simpulkan bahwa Qoilulah ini bisa dilakukan sebelum atau sesudah sholat dzuhur ya Akhì, shôhih am Lâ??
Karena Ana pernah baca dr buku kalo Qoilulah itu dilakukan hanya sebelum sholat dzuhur [kecuali pada hari jum'at dilakukan ba'da jum'atan]. Bagaimana
yg mana yg shôhih Akh??
HayyâkumuLLôh..
Abu Mushlih Ari Wahyudi qoilulah dianjurkan sebelum zuhur, meskipun sesudahnya juga tidak mengapa, Allahu a'lam. Sebagaimana sudah dijelaskan oleh Ibnu Hajar rahimahullah di atas
March 22nd, 2010 Author: Abu Mushlih
Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu’anhu, dia berkata: Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke rumah Fathimah -putri beliau- radhiyallahu’anha namun beliau tidak menemukan Ali -suami Fathimah- ada di rumah. Maka beliau berkata, “Dimana putra pamanmu?”. Fathimah menjawab, “Ada sesuatu antara aku dengannya sehingga dia pun memarahiku lalu dia keluar rumah dan tidak tidur siang di sisiku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan kepada seseorang, “Lihatlah, dimana dia berada.” Kemudian orang itu kembali dan melaporkan, “Wahai Rasulullah, dia berada di masjid, sedang tidur.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya dalam keadaan sedang berbaring sementara kain selendangnya lepas dari bahunya -sehingga tampaklah bahunya- dan terkena terpaan debu/tanah (turab, bhs arab). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mulai mengusap debu dari tubuhnya seraya berkata, “Bangunlah wahai Abu Turab, bangunlah wahai Abu Turab.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Fath al-Bari [1/627] dan Syarh Muslim [8/34])
Hadits yang agung ini menyimpan mutiara hikmah, antara lain:
Bolehnya menyebut Ibnu al-Ab (putra paman, saudara sepupu) kepada kerabat ayah. Karena Ali bin Abi Thalib adalah putra dari paman Nabi -yaitu Abu Thalib- dan bukan putra dari paman Fathimah (lihat Fath al-Bari [1/627])
Arahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam -sebagai seorang bapak- kepada Fathimah -putrinya- agar berbicara dengan suaminya menggunakan sebutan itu. Karena di dalam sebutan tersebut terdapat unsur kelemahlembutan dan jalinan kedekatan yang timbul karena ikatan tali kekerabatan. Seolah-olah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memahami apa yang ketika itu tengah terjadi di antara putrinya dengan sang suami -yaitu Ali bin Abi Thalib-. Dengan ungkapan itu beliau ingin agar putrinya bersikap lembut dan perhatian (tidak bersikap cuek/masa bodoh) terhadap suaminya (lihat Fath al-Bari [1/627])
Tidur siang merupakan kebiasaan para salaf. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sahl bin Sa’d radhiyalahu’anhu, “Dahulu kami sering tidur siang -sebelum waktu zuhur- dan baru menikmati santap siang setelah sholat Jum’at.” (HR. Bukhari). Adapun hadits riwayat at-Thabrani yang bunyinya, “Tidurlah siang, karena sesungguhnya syaitan tidak tidur siang.” maka al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Di dalam sanadnya terdapat Katsir bin Marwan, sedangkan dia ini matruk/haditsnya ditinggalkan.” (lihat Fath al-Bari [11/79]). Yang dimaksud dengan ‘qoilulah’ (tidur siang) adalah tidur di pertengahan hari (lihat Syarh Muslim [8/34]). al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Qailulah adalah tidur di tengah siang, yaitu ketika matahari tergelincir ke barat, dan beberapa saat sebelum atau sesudahnya.” (Fath al-Bari [11/79]).
Boleh tidur siang di masjid, meskipun orang tersebut memiliki kamar tidur di rumahnya dan meskipun hal itu -tidur di sana- bukan merupakan suatu keperluan yang mendesak baginya (lihat Fath al-Bari [1/627] dan [11/79-80]).
Hadits ini juga dijadikan dalil yang menunjukkan bolehnya kaum lelaki tidur di masjid -meskipun di malam hari-, sebagaimana diungkapkan oleh al-Bukhari dan an-Nawawi (lihat Syarh Muslim [8/34] dan Fath al-Bari [1/626]. Hal itu -bolehnya sering tidur di masjid- berlaku terutama bagi orang yang belum punya tempat tinggal yang menetap, sebagaimana yang dikisahkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, bahwa beliau bersama dengan seorang pemuda lajang yang belum berkeluarga biasa tidur di masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat Fath al-Bari [1/627])
Hendaknya mengatasi kemarahan yang timbul -seperti yang sering terjadi dalam rumah tangga, antara suami dengan istri- dengan cara yang tidak membangkitkan kemarahan pula, dan semestinya berusaha menempuh cara agar kemarahan tersebut menjadi reda dan suasana menjadi cair (lihat Fath al-Bari [1/627])
Boleh memberi nama kun-yah (panggilan dengan Abu atau Ummu) kepada seseorang -ataupun untuk diri sendiri- bukan dengan menggunakan nama anaknya, sebagaimana halnya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu yang disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Abu Turab/bapaknya tanah (lihat Fath al-Bari [1/627])
Boleh memberi tambahan nama kun-yah kepada orang yang sudah memiliki nama kun-yah. Hadits ini juga menunjukkan bolehnya menjuluki seseorang (memberikan laqab/gelar) dengan memakai nama kun-yah terhadap orang yang tidak marah akibat julukan itu (lihat Fath al-Bari [1/627-628])
Seorang ayah boleh masuk rumah putrinya tanpa harus ijin terlebih dulu kepada suaminya selama dia mengetahui bahwa hal itu diridhai olehnya, artinya suami dari putrinya tidak akan mempermasalahkan hal itu (lihat Fath al-Bari [1/628])
Tidak mengapa/tidak terlarang -bagi lelaki- menampakkan kedua bahu dalam keadaan terbuka (tidak tertutup kain/baju) di luar kondisi mengerjakan sholat (lihat Fath al-Bari [1/628]). Walaupun tentu saja yang lebih utama adalah menutupnya -karena itu lebih indah-, apalagi jika berada di tempat umum yang dilihat orang banyak -lelaki ataupun perempuan- sehingga akan menyebabkan rasa risih bagi orang yang melihatnya, Allahu a’lam.
Problematika dalam hidup berumah tangga adalah masalah yang biasa terjadi kepada siapa saja. Namun, yang menjadi catatan adalah bagaimana cara menyelesaikan persoalan tersebut dengan baik dan tidak menimbulkan mafsadat atau kekacauan yang lebih besar. Oleh sebab itu dibutuhkan kesabaran dan sikap saling pengertian di antara komponen rumah tangga.
Kebiasaan suami ketika menemui masalah dengan istrinya adalah keluar/pergi meninggalkan rumahnya. Dalam hal ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu memberikan contoh yang baik dimana beliau tidak pergi ke tempat yang bukan-bukan, akan tetapi beliau pergi ke masjid dan memilih beristirahat di sana. Dan hal ini sekaligus menunjukkan betapa kuat keterikatan hati beliau dengan masjid dan ketergantungan hatinya kepada Allah ta’ala. Ditinjau dari sudut ini, maka hadits ini menunjukkan keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu.
Hadits ini menunjukkan besarnya perhatian seorang ayah kepada putrinya meskipun di saat putrinya sudah berumah tangga. Dan demikianlah yang dicontohkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana beliau ikut memperhatikan keadaan rumah tangga putrinya dan sangat menginginkan keharmonisan rumah tangga yang mereka bina.
Perintah untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Dan hal ini berlaku secara umum bagi siapa saja, termasuk di dalamnya dalam lingkup rumah tangga, antara suami dengan istri, bahkan antara orang tua dengan anak serta menantunya. Inilah bukti kesempurnaan ajaran Islam yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kecintaan dan pengagungan kepada Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada diri para sahabat adalah sesuatu yang patut diteladani dan wajib dimiliki oleh setiap mukmin.
Sebagaimana halnya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu yang sangat menyukai sebutan ‘Abu Turab’ -yang secara makna notabene terkesan tidak mengandung pujian- dikarenakan orang yang memberikannya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Sahl bin Sa’d radhiyallahu’anhu berkata, “Tidak ada nama yang lebih dicintai oleh Ali selain -panggilan- Abu Turab, dan sungguh beliau merasa senang jika dipanggil dengan nama itu.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [8/34]). Ya Allah, karuniakanlah kepada hati kami kecintaan terhadap Sunnah, dan kebencian terhadap Bid’ah …
Boleh meminta tolong seseorang untuk mencarikan orang lain, dan hal ini tidaklah mengurangi tawakal. Demikian juga diperbolehkan meminta bantuan kepada orang lain -jika diperlukan- dalam perkara-perkara kebaikan, karena hal itu termasuk dalam cakupan perintah saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa, dengan syarat tetap menggantungkan hati semata-mata kepada Allah, bukan kepada orang atau sebab/perantara yang dipakai. Allahu a’lam.
www.abumushlih.com
_______________________________________________________
Tambahan komentar.....
Abu Hâzim Sulaeman SubhanaAllôh,, begitu banyak faidah
hikmah dari satu hadits saja..Syukron katsiron atas share ilmunya..
Pada poin ke-3, kalo Ana tidak salah memahami dapat Ana simpulkan bahwa Qoilulah ini bisa dilakukan sebelum atau sesudah sholat dzuhur ya Akhì, shôhih am Lâ??
Karena Ana pernah baca dr buku kalo Qoilulah itu dilakukan hanya sebelum sholat dzuhur [kecuali pada hari jum'at dilakukan ba'da jum'atan]. Bagaimana
yg mana yg shôhih Akh??
HayyâkumuLLôh..
Abu Mushlih Ari Wahyudi qoilulah dianjurkan sebelum zuhur, meskipun sesudahnya juga tidak mengapa, Allahu a'lam. Sebagaimana sudah dijelaskan oleh Ibnu Hajar rahimahullah di atas
GENERASI TERBAIK DALAM SEJARAH
GENERASI TERBAIK DALAM SEJARAH
December 25th, 2008 Author: Abu Mushlih
“Belum pernah ada, dan tidak akan pernah ada suatu kaum yang serupa dengan mereka”
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Barangsiapa hendak mengambil teladan maka teladanilah orang-orang yang telah meninggal. Mereka itu adalah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya di kalangan umat ini. Ilmu mereka paling dalam serta paling tidak suka membeban-bebani diri. Mereka adalah suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah guna menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menyampaikan ajaran agama-Nya. Oleh karena itu tirulah akhlak mereka dan tempuhlah jalan-jalan mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus.” (Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish shalih, hal. 198)
Pengertian Sahabat
Sahabat adalah orang yang berjumpa dengan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam keadaan muslim, meninggal dalam keadaan Islam, meskipun sebelum mati dia pernah murtad seperti Al Asy’ats bin Qais. Sedangkan yang dimaksud dengan berjumpa dalam pengertian ini lebih luas daripada sekedar duduk di hadapannya, berjalan bersama, terjadi pertemuan walau tanpa bicara, dan termasuk dalam pengertian ini pula apabila salah satunya (Nabi atau orang tersebut) pernah melihat yang lainnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu’anhu yang buta matanya tetap disebut sahabat (lihat Taisir Mushthalah Hadits, hal. 198, An Nukat, hal. 149-151)
Sikap Ahlus Sunnah terhadap para Sahabat
Syaikh Abu Musa Abdurrazzaq Al Jaza’iri hafizhahullah berkata, “Ahlus Sunnah wal Jama’ah As Salafiyun senantiasa mencintai mereka (para sahabat) dan sering menyebutkan berbagai kebaikan mereka. Mereka juga mendo’akan rahmat kepada para sahabat, memintakan ampunan untuk mereka demi melaksanakan firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka mengatakan ; Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan keimanan. Dan janganlah Kau jadikan ada rasa dengki di dalam hati kami kepada orang-orang yang beriman, sesungguhnya Engkau Maha Lembut lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr : 10) Dan termasuk salah satu prinsip yang diyakini oleh Ahlus Sunnah As Salafiyun adalah menahan diri untuk tidak menyebut-nyebutkan kejelekan mereka serta bersikap diam (tidak mencela mereka, red) dalam menanggapi perselisihan yang terjadi di antara mereka. Karena mereka itu adalah pilar penopang agama, panglima Islam, pembantu-pembantu Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, penolong beliau, pendamping beliau serta pengikut setia beliau. Perbedaan yang terjadi di antara mereka adalah perbedaan dalam hal ijtihad. Mereka adalah para mujtahid yang apabila benar mendapatkan pahala dan apabila salah pun tetap mendapatkan pahala. “Itulah umat yang telah berlalu. Bagi mereka balasan atas apa yang telah mereka perbuat. Dan bagi kalian apa yang kalian perbuat. Kalian tidak akan ditanya tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Baqarah : 141). Barangsiapa yang mendiskreditkan para sahabat maka sesungguhnya dia telah menentang dalil Al Kitab, As Sunnah, Ijma’ dan akal.” (Al Is’aad fii Syarhi Lum’atil I’tiqaad, hal. 77)
Dalil-dalil Al Kitab tentang keutamaan para Sahabat
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Muhammad adalah utusan Allah beserta orang-orang yang bersamanya adalah bersikap keras kepada orang-orang kafir dan saling menyayangi sesama mereka. Engkau lihat mereka itu ruku’ dan sujud senantiasa mengharapkan karunia dari Allah dan keridhaan-Nya.” (QS. Al Fath)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Bagi orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin yang diusir dari negeri-negeri mereka dan meninggalkan harta-harta mereka karena mengharapkan keutamaan dari Allah dan keridhaan-Nya demi menolong agama Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Sedangkan orang-orang yang tinggal di negeri tersebut (Anshar) dan beriman sebelum mereka juga mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin) dan di dalam hati mereka tidak ada rasa butuh terhadap apa yang mereka berikan dan mereka lebih mengutamakan saudaranya daripada diri mereka sendiri walaupun mereka juga sedang berada dalam kesulitan.” (QS. Al Hasyr : 8-9)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang yang beriman (para sahabat Nabi) ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon (Bai’atu Ridwan). Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada mereka dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat.” (QS. Al Fath : 18)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang terlebih dulu (berjasa kepada Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah telah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha mepada Allah. dan Allah telah mempersiapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang sangat besar.” (QS. At Taubah : 100)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari dimana Allah tidak akan menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersamanya. Cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka.” (QS. At Tahrim : (lihat Al Is’aad, hal. 77-78)
Dalil-dalil dari As Sunnah tentang keutamaan para Sahabat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mencela seorang pun di antara para sahabatku. Karena sesungguhnya apabila seandainya ada salah satu di antara kalian yang bisa berinfak emas sebesar Gunung Uhud maka itu tidak akan bisa menyaingi infak salah seorang di antara mereka; yang hanya sebesar genggaman tangan atau bahkan setengahnya saja.” (Muttafaq ‘alaih)
Beliau juga bersabda, “Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in).” (Muttafaq ‘alaih)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bintang-bintang itu adalah amanat bagi langit. Apabila bintang-bintang itu telah musnah maka tibalah kiamat yang dijanjikan akan menimpa langit. Sedangkan aku adalah amanat bagi para sahabatku. Apabila aku telah pergi maka tibalah apa yang dijanjikan Allah akan terjadi kepada para sahabatku. Sedangkan para sahabatku adalah amanat bagi umatku. Sehingga apabila para sahabatku telah pergi maka akan datanglah sesuatu (perselisihan dan perpecahan, red) yang sudah dijanjikan Allah akan terjadi kepada umatku ini.” (HR. Muslim)
Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencela para sahabatku maka dia berhak mendapatkan laknat dari Allah, laknat para malaikat dan laknat dari seluruh umat manusia.” (Ash Shahihah : 234)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Apabila disebutkan tentang para sahabatku maka diamlah.” (Ash Shahihah : 24) (lihat Al Is’aad, hal. 78)
Dalil Ijma’ tentang keutamaan para Sahabat
Imam Ibnush Shalah rahimahullah berkata di dalam kitab Mukaddimah-nya, “Sesungguhnya umat ini telah sepakat untuk menilai adil (terpercaya dan taat) kepada seluruh para sahabat, begitu pula terhadap orang-orang yang terlibat dalam fitnah yang ada di antara mereka. hal ini sudah ditetapkan berdasarkan konsensus/kesepakatan para ulama yang pendapat-pendapat mereka diakui dalam hal ijma’.”
Imam Nawawi rahimahullah berkata di dalam kitab Taqribnya, “Semua sahabat adalah orang yang adil, baik yang terlibat dalam fitnah maupun tidak, ini berdasarkan kesepakatan para ulama yang layak untuk diperhitungkan pendapatnya.”
Al Hafizh Ibnu Hajar berkata di dalam kitab Al Ishabah, “Ahlus Sunnah sudah sepakat untuk menyatakan bahwa semua sahabat adalah adil. Tidak ada orang yang menyelisihi dalam hal itu melainkan orang-orang yang menyimpang dari kalangan ahli bid’ah.”
Imam Al Qurthubi mengatakan di dalam kitab Tafsirnya, “Semua sahabat adalah adil, mereka adalah para wali Allah ta’ala serta orang-orang suci pilihan-Nya, orang terbaik yang diistimewakan oleh-Nya di antara seluruh manusia ciptaan-Nya sesudah tingkatan para Nabi dan Rasul-Nya. Inilah madzhab Ahlus Sunnah dan dipegang teguh oleh Al Jama’ah dari kalangan para imam pemimpin umat ini. Memang ada segolongan kecil orang yang tidak layak untuk diperhatikan yang menganggap bahwa posisi para sahabat sama saja dengan posisi orang-orang selain mereka.” (lihat Al Is’aad, hal. 78)
Urutan keutamaan para Sahabat
Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah berkata, “Para sahabat itu memiliki keutamaan yang bertingkat-tingkat. [1] Yang paling utama di antara mereka adalah khulafa rasyidin yang empat; Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan Ali, radhiyallahu’anhum al jamii’. Mereka adalah orang yang telah disabdakan oleh Nabi ‘alaihi shalatu wa salam, “Wajib bagi kalian untuk mengikuti Sunnahku dan Sunnah khulafa rasyidin yang berpetunjuk sesudahku, gigitlah ia dengan gigi geraham kalian.” [2] Kemudian sesudah mereka adalah sisa dari 10 orang yang diberi kabar gembira pasti masuk surga selain mereka, yaitu : Abu ‘Ubaidah ‘Aamir bin Al Jarrah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid, Zubeir bin Al Awwaam, Thalhah bin Ubaidillah dan Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhum. [3] Kemudian diikuti oleh Ahlul Badar, lalu [4] Ahlu Bai’ati Ridhwan, Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang yang beriman (para sahabat Nabi) ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon (Bai’atu Ridwan). Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada mereka dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat.” (QS. Al Fath : 18). [5] Kemudian para sahabat yang beriman dan turut berjihad sebelum terjadinya Al Fath. Mereka itu lebih utama daripada sahabat-sahabat yang beriman dan turut berjihad setelah Al Fath. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Tidaklah sama antara orang yang berinfak sebelum Al Fath di antara kalian dan turut berperang. Mereka itu memiliki derajat yang lebih tinggi daripada orang-orang yang berinfak sesudahnya dan turut berperang, dan masing-masing Allah telah janjikan kebaikan (surga) untuk mereka.” (QS. Al Hadid : 10). Sedangkan yang dimaksud dengan Al Fath di sini adalah perdamaian Hudaibiyah. [6] Kemudian kaum Muhajirin secara umum, [7] kemudian kaum Anshar. Sebab Allah telah mendahulukan kaum Muhajirin sebelum Anshar di dalam Al Qur’an, Allah subhanahu berfirman (yang artinya), “Bagi orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin yang diusir dari negeri-negeri mereka dan meninggalkan harta-harta mereka karena mengharapkan keutamaan dari Allah dan keridhaan-Nya demi menolong agama Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hasyr : 8). Mereka itulah kaum Muhajirin. Kemudian Allah berfirman tentang kaum Anshar, Sedangkan orang-orang yang tinggal di negeri tersebut (Anshar) dan beriman sebelum mereka juga mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin) dan di dalam hati mereka tidak ada rasa butuh terhadap apa yang mereka berikan dan mereka lebih mengutamakan saudaranya daripada diri mereka sendiri walaupun mereka juga sedang berada dalam kesulitan. Dan barangsiapa yang dijaga dari rasa bakhil dalam jiwanya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al Hasyr : 9). Allah mendahulukan kaum Muhajirin dan amal mereka sebelum kaum Anshar dan amal mereka yang menunjukkan bahwasanya kaum Muhajirin lebih utama. Karena mereka rela meninggalkan negeri tempat tinggal mereka, meninggalkan harta-harta mereka dan berhijrah di jalan Allah, itu menunjukkan ketulusan iman mereka…” (Ta’liq ‘Aqidah Thahawiyah yang dicetak bersama Syarah ‘Aqidah Thahawiyah Darul ‘Aqidah, hal. 492-494)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Sebab berbedanya martabat para sahabat adalah karena perbedaan kekuatan iman, ilmu, amal shalih dan keterdahuluan dalam memeluk Islam. Apabila dilihat secara kelompok maka kaum Muhajirin paling utama kemudian diikuti oleh kaum Anshar. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sungguh Allah telah menerima taubat Nabi, kaum Muhajirin dan kaum Anshar.” (QS. At Taubah : 117). Hal itu disebabkan mereka (Muhajirin) memadukan antara hijrah meninggalkan negeri dan harta benda mereka dengan pembelaan mereka (terhadap dakwah Nabi di Mekkah, pent). Sedangkan orang paling utama di antara para sahabat adalah Abu Bakar, kemudian Umar. Hal itu berdasarkan ijma’. Kemudian ‘Utsman, kemudian ‘Ali. Ini menurut pendapat jumhur Ahlis Sunnah yang sudah mantap dan mapan setelah sebelumnya sempat terjadi perselisihan dalam hal pengutamaan antara Ali dengan ‘Utsman. Ketika itu sebagian ulama lebih mengutamakan ‘Utsman kemudian diam, ada lagi ulama lain yang lebih mendahulukan ‘Ali kemudian baru ‘Utsman, dan ada pula sebagian lagi yang tawaquf tidak berkomentar tentang pengutamaan ini. Orang yang berpendapat bahwa ‘Ali lebih utama daripada ‘Utsman maka tidak dicap sesat, karena memang ada sebagian (ulama) Ahlus Sunnah yang berpendapat demikian.” (Mudzakkirah ‘alal ‘Aqidah Wasithiyah, hal. 77)
Menyikapi polemik yang terjadi di kalangan para Sahabat
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Sikap mereka (Ahlus Sunnah) dalam menyikapi hal itu ialah; sesungguhnya polemik yang terjadi di antara mereka merupakan (perbedaan yang muncul dari) hasil ijtihad dari kedua belah pihak (antara pihak ‘Ali dengan pihak Mu’awiyah, red), bukan bersumber dari niat yang buruk. Sedangkan bagi seorang mujtahid apabila ia benar maka dia berhak mendapatkan dua pahala, sedangkan apabila ternyata dia tersalah maka dia berhak mendapatkan satu pahala. Dan polemik yang mencuat di tengah mereka bukanlah berasal dari keinginan untuk meraih posisi yang tinggi atau bermaksud membuat kerusakan di atas muka bumi; karena kondisi para sahabat radhiyallahu’anhum tidak memungkinkan untuk itu. Sebab mereka adalah orang yang paling tajam akalnya, paling kuat keimanannya, serta paling gigih dalam mencari kebenaran. Hal ini selaras dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik umat manusia adalah orang di jamanku (sahabat).” (HR. Bukhari dan Muslim) Dengan demikian maka jalan yang aman ialah kita memilih untuk diam dan tidak perlu sibuk memperbincangkan polemik yang terjadi di antara mereka dan kita pulangkan perkara mereka kepada Allah; sebab itulah sikap yang lebih aman supaya tidak memunculkan rasa permusuhan atau kedengkian kepada salah seorang di antara mereka.” (Mudzakkirah ‘alal ‘Aqidah Wasithiyah, hal. 82)
Keterjagaan para Sahabat
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “(Individu) Para sahabat bukanlah orang-orang yang ma’shum dan terbebas dari dosa-dosa. Karena mereka bisa saja terjatuh dalam maksiat, sebagaimana hal itu mungkin terjadi pada orang selain mereka. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang paling layak untuk meraih ampunan karena sebab-sebab sebagai berikut :
Mereka berhasil merealisasikan iman dan amal shalih
Lebih dahulu memeluk Islam dan lebih utama, dan terdapat hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa mereka adalah sebaik-baik generasi (sebaik-baik umat manusia, red)
Berbagai amal yang sangat agung yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang selain mereka, seperti terlibat dalam perang Badar dan Bai’atur Ridhwan
Mereka telah bertaubat dari dosa-dosa, sedangkan taubat dapat menghapus apa yang dilakukan sebelumnya.
Berbagai kebaikan yang akan menghapuskan berbagai amal kejelekan
Adanya ujian yang menimpa mereka, yaitu berbagai hal yang tidak disenangi yang menimpa orang; sedangkan keberadaan musibah itu bisa menghapuskan dan menutup bekas-bekas dosa.
Kaum mukminin senantiasa mendo’akan mereka
Syafa’at dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan mereka adalah umat manusia yang paling berhak untuk memperolehnya.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan itulah maka perbuatan sebagian mereka yang diingkari (karena salah) adalah sangat sedikit dan tenggelam dalam (lautan) kebaikan mereka. Hal itu dikarenakan mereka adalah sebaik-baik manusia setelah para Nabi dan juga orang-orang terpilih di antara umat ini, yang menjadi umat paling baik. Belum pernah ada dan tidak akan pernah ada suatu kaum yang serupa dengan mereka.” (Mudzakkirah ‘alal ‘Aqidah Wasithiyah, hal. 83-84)
Cintailah mereka!
Abu Ja’far Ath Thahawi rahimahullah mengatakan, “Kami -Ahlus Sunnah- mencintai para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami tidak melampaui batas dalam mencintai salah seorang di antara mereka. Dan kami juga tidak berlepas diri dari seorangpun di antara mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka dan kami juga membenci orang yang menceritakan mereka dengan cara yang tidak baik. Kami tidak menceritakan mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah termasuk agama, iman dan ihsan. Sedangkan membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan dan pelanggaran batas.” (Syarah ‘Aqidah Thahawiyah cet. Darul ‘Aqidah, hal. 488)
www.abumushlih.com
December 25th, 2008 Author: Abu Mushlih
“Belum pernah ada, dan tidak akan pernah ada suatu kaum yang serupa dengan mereka”
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Barangsiapa hendak mengambil teladan maka teladanilah orang-orang yang telah meninggal. Mereka itu adalah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya di kalangan umat ini. Ilmu mereka paling dalam serta paling tidak suka membeban-bebani diri. Mereka adalah suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah guna menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menyampaikan ajaran agama-Nya. Oleh karena itu tirulah akhlak mereka dan tempuhlah jalan-jalan mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus.” (Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish shalih, hal. 198)
Pengertian Sahabat
Sahabat adalah orang yang berjumpa dengan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam keadaan muslim, meninggal dalam keadaan Islam, meskipun sebelum mati dia pernah murtad seperti Al Asy’ats bin Qais. Sedangkan yang dimaksud dengan berjumpa dalam pengertian ini lebih luas daripada sekedar duduk di hadapannya, berjalan bersama, terjadi pertemuan walau tanpa bicara, dan termasuk dalam pengertian ini pula apabila salah satunya (Nabi atau orang tersebut) pernah melihat yang lainnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu’anhu yang buta matanya tetap disebut sahabat (lihat Taisir Mushthalah Hadits, hal. 198, An Nukat, hal. 149-151)
Sikap Ahlus Sunnah terhadap para Sahabat
Syaikh Abu Musa Abdurrazzaq Al Jaza’iri hafizhahullah berkata, “Ahlus Sunnah wal Jama’ah As Salafiyun senantiasa mencintai mereka (para sahabat) dan sering menyebutkan berbagai kebaikan mereka. Mereka juga mendo’akan rahmat kepada para sahabat, memintakan ampunan untuk mereka demi melaksanakan firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka mengatakan ; Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan keimanan. Dan janganlah Kau jadikan ada rasa dengki di dalam hati kami kepada orang-orang yang beriman, sesungguhnya Engkau Maha Lembut lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr : 10) Dan termasuk salah satu prinsip yang diyakini oleh Ahlus Sunnah As Salafiyun adalah menahan diri untuk tidak menyebut-nyebutkan kejelekan mereka serta bersikap diam (tidak mencela mereka, red) dalam menanggapi perselisihan yang terjadi di antara mereka. Karena mereka itu adalah pilar penopang agama, panglima Islam, pembantu-pembantu Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, penolong beliau, pendamping beliau serta pengikut setia beliau. Perbedaan yang terjadi di antara mereka adalah perbedaan dalam hal ijtihad. Mereka adalah para mujtahid yang apabila benar mendapatkan pahala dan apabila salah pun tetap mendapatkan pahala. “Itulah umat yang telah berlalu. Bagi mereka balasan atas apa yang telah mereka perbuat. Dan bagi kalian apa yang kalian perbuat. Kalian tidak akan ditanya tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Baqarah : 141). Barangsiapa yang mendiskreditkan para sahabat maka sesungguhnya dia telah menentang dalil Al Kitab, As Sunnah, Ijma’ dan akal.” (Al Is’aad fii Syarhi Lum’atil I’tiqaad, hal. 77)
Dalil-dalil Al Kitab tentang keutamaan para Sahabat
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Muhammad adalah utusan Allah beserta orang-orang yang bersamanya adalah bersikap keras kepada orang-orang kafir dan saling menyayangi sesama mereka. Engkau lihat mereka itu ruku’ dan sujud senantiasa mengharapkan karunia dari Allah dan keridhaan-Nya.” (QS. Al Fath)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Bagi orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin yang diusir dari negeri-negeri mereka dan meninggalkan harta-harta mereka karena mengharapkan keutamaan dari Allah dan keridhaan-Nya demi menolong agama Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Sedangkan orang-orang yang tinggal di negeri tersebut (Anshar) dan beriman sebelum mereka juga mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin) dan di dalam hati mereka tidak ada rasa butuh terhadap apa yang mereka berikan dan mereka lebih mengutamakan saudaranya daripada diri mereka sendiri walaupun mereka juga sedang berada dalam kesulitan.” (QS. Al Hasyr : 8-9)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang yang beriman (para sahabat Nabi) ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon (Bai’atu Ridwan). Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada mereka dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat.” (QS. Al Fath : 18)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang terlebih dulu (berjasa kepada Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah telah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha mepada Allah. dan Allah telah mempersiapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang sangat besar.” (QS. At Taubah : 100)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari dimana Allah tidak akan menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersamanya. Cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka.” (QS. At Tahrim : (lihat Al Is’aad, hal. 77-78)
Dalil-dalil dari As Sunnah tentang keutamaan para Sahabat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mencela seorang pun di antara para sahabatku. Karena sesungguhnya apabila seandainya ada salah satu di antara kalian yang bisa berinfak emas sebesar Gunung Uhud maka itu tidak akan bisa menyaingi infak salah seorang di antara mereka; yang hanya sebesar genggaman tangan atau bahkan setengahnya saja.” (Muttafaq ‘alaih)
Beliau juga bersabda, “Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in).” (Muttafaq ‘alaih)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bintang-bintang itu adalah amanat bagi langit. Apabila bintang-bintang itu telah musnah maka tibalah kiamat yang dijanjikan akan menimpa langit. Sedangkan aku adalah amanat bagi para sahabatku. Apabila aku telah pergi maka tibalah apa yang dijanjikan Allah akan terjadi kepada para sahabatku. Sedangkan para sahabatku adalah amanat bagi umatku. Sehingga apabila para sahabatku telah pergi maka akan datanglah sesuatu (perselisihan dan perpecahan, red) yang sudah dijanjikan Allah akan terjadi kepada umatku ini.” (HR. Muslim)
Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencela para sahabatku maka dia berhak mendapatkan laknat dari Allah, laknat para malaikat dan laknat dari seluruh umat manusia.” (Ash Shahihah : 234)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Apabila disebutkan tentang para sahabatku maka diamlah.” (Ash Shahihah : 24) (lihat Al Is’aad, hal. 78)
Dalil Ijma’ tentang keutamaan para Sahabat
Imam Ibnush Shalah rahimahullah berkata di dalam kitab Mukaddimah-nya, “Sesungguhnya umat ini telah sepakat untuk menilai adil (terpercaya dan taat) kepada seluruh para sahabat, begitu pula terhadap orang-orang yang terlibat dalam fitnah yang ada di antara mereka. hal ini sudah ditetapkan berdasarkan konsensus/kesepakatan para ulama yang pendapat-pendapat mereka diakui dalam hal ijma’.”
Imam Nawawi rahimahullah berkata di dalam kitab Taqribnya, “Semua sahabat adalah orang yang adil, baik yang terlibat dalam fitnah maupun tidak, ini berdasarkan kesepakatan para ulama yang layak untuk diperhitungkan pendapatnya.”
Al Hafizh Ibnu Hajar berkata di dalam kitab Al Ishabah, “Ahlus Sunnah sudah sepakat untuk menyatakan bahwa semua sahabat adalah adil. Tidak ada orang yang menyelisihi dalam hal itu melainkan orang-orang yang menyimpang dari kalangan ahli bid’ah.”
Imam Al Qurthubi mengatakan di dalam kitab Tafsirnya, “Semua sahabat adalah adil, mereka adalah para wali Allah ta’ala serta orang-orang suci pilihan-Nya, orang terbaik yang diistimewakan oleh-Nya di antara seluruh manusia ciptaan-Nya sesudah tingkatan para Nabi dan Rasul-Nya. Inilah madzhab Ahlus Sunnah dan dipegang teguh oleh Al Jama’ah dari kalangan para imam pemimpin umat ini. Memang ada segolongan kecil orang yang tidak layak untuk diperhatikan yang menganggap bahwa posisi para sahabat sama saja dengan posisi orang-orang selain mereka.” (lihat Al Is’aad, hal. 78)
Urutan keutamaan para Sahabat
Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah berkata, “Para sahabat itu memiliki keutamaan yang bertingkat-tingkat. [1] Yang paling utama di antara mereka adalah khulafa rasyidin yang empat; Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan Ali, radhiyallahu’anhum al jamii’. Mereka adalah orang yang telah disabdakan oleh Nabi ‘alaihi shalatu wa salam, “Wajib bagi kalian untuk mengikuti Sunnahku dan Sunnah khulafa rasyidin yang berpetunjuk sesudahku, gigitlah ia dengan gigi geraham kalian.” [2] Kemudian sesudah mereka adalah sisa dari 10 orang yang diberi kabar gembira pasti masuk surga selain mereka, yaitu : Abu ‘Ubaidah ‘Aamir bin Al Jarrah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid, Zubeir bin Al Awwaam, Thalhah bin Ubaidillah dan Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhum. [3] Kemudian diikuti oleh Ahlul Badar, lalu [4] Ahlu Bai’ati Ridhwan, Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang yang beriman (para sahabat Nabi) ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon (Bai’atu Ridwan). Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada mereka dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat.” (QS. Al Fath : 18). [5] Kemudian para sahabat yang beriman dan turut berjihad sebelum terjadinya Al Fath. Mereka itu lebih utama daripada sahabat-sahabat yang beriman dan turut berjihad setelah Al Fath. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Tidaklah sama antara orang yang berinfak sebelum Al Fath di antara kalian dan turut berperang. Mereka itu memiliki derajat yang lebih tinggi daripada orang-orang yang berinfak sesudahnya dan turut berperang, dan masing-masing Allah telah janjikan kebaikan (surga) untuk mereka.” (QS. Al Hadid : 10). Sedangkan yang dimaksud dengan Al Fath di sini adalah perdamaian Hudaibiyah. [6] Kemudian kaum Muhajirin secara umum, [7] kemudian kaum Anshar. Sebab Allah telah mendahulukan kaum Muhajirin sebelum Anshar di dalam Al Qur’an, Allah subhanahu berfirman (yang artinya), “Bagi orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin yang diusir dari negeri-negeri mereka dan meninggalkan harta-harta mereka karena mengharapkan keutamaan dari Allah dan keridhaan-Nya demi menolong agama Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hasyr : 8). Mereka itulah kaum Muhajirin. Kemudian Allah berfirman tentang kaum Anshar, Sedangkan orang-orang yang tinggal di negeri tersebut (Anshar) dan beriman sebelum mereka juga mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin) dan di dalam hati mereka tidak ada rasa butuh terhadap apa yang mereka berikan dan mereka lebih mengutamakan saudaranya daripada diri mereka sendiri walaupun mereka juga sedang berada dalam kesulitan. Dan barangsiapa yang dijaga dari rasa bakhil dalam jiwanya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al Hasyr : 9). Allah mendahulukan kaum Muhajirin dan amal mereka sebelum kaum Anshar dan amal mereka yang menunjukkan bahwasanya kaum Muhajirin lebih utama. Karena mereka rela meninggalkan negeri tempat tinggal mereka, meninggalkan harta-harta mereka dan berhijrah di jalan Allah, itu menunjukkan ketulusan iman mereka…” (Ta’liq ‘Aqidah Thahawiyah yang dicetak bersama Syarah ‘Aqidah Thahawiyah Darul ‘Aqidah, hal. 492-494)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Sebab berbedanya martabat para sahabat adalah karena perbedaan kekuatan iman, ilmu, amal shalih dan keterdahuluan dalam memeluk Islam. Apabila dilihat secara kelompok maka kaum Muhajirin paling utama kemudian diikuti oleh kaum Anshar. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sungguh Allah telah menerima taubat Nabi, kaum Muhajirin dan kaum Anshar.” (QS. At Taubah : 117). Hal itu disebabkan mereka (Muhajirin) memadukan antara hijrah meninggalkan negeri dan harta benda mereka dengan pembelaan mereka (terhadap dakwah Nabi di Mekkah, pent). Sedangkan orang paling utama di antara para sahabat adalah Abu Bakar, kemudian Umar. Hal itu berdasarkan ijma’. Kemudian ‘Utsman, kemudian ‘Ali. Ini menurut pendapat jumhur Ahlis Sunnah yang sudah mantap dan mapan setelah sebelumnya sempat terjadi perselisihan dalam hal pengutamaan antara Ali dengan ‘Utsman. Ketika itu sebagian ulama lebih mengutamakan ‘Utsman kemudian diam, ada lagi ulama lain yang lebih mendahulukan ‘Ali kemudian baru ‘Utsman, dan ada pula sebagian lagi yang tawaquf tidak berkomentar tentang pengutamaan ini. Orang yang berpendapat bahwa ‘Ali lebih utama daripada ‘Utsman maka tidak dicap sesat, karena memang ada sebagian (ulama) Ahlus Sunnah yang berpendapat demikian.” (Mudzakkirah ‘alal ‘Aqidah Wasithiyah, hal. 77)
Menyikapi polemik yang terjadi di kalangan para Sahabat
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Sikap mereka (Ahlus Sunnah) dalam menyikapi hal itu ialah; sesungguhnya polemik yang terjadi di antara mereka merupakan (perbedaan yang muncul dari) hasil ijtihad dari kedua belah pihak (antara pihak ‘Ali dengan pihak Mu’awiyah, red), bukan bersumber dari niat yang buruk. Sedangkan bagi seorang mujtahid apabila ia benar maka dia berhak mendapatkan dua pahala, sedangkan apabila ternyata dia tersalah maka dia berhak mendapatkan satu pahala. Dan polemik yang mencuat di tengah mereka bukanlah berasal dari keinginan untuk meraih posisi yang tinggi atau bermaksud membuat kerusakan di atas muka bumi; karena kondisi para sahabat radhiyallahu’anhum tidak memungkinkan untuk itu. Sebab mereka adalah orang yang paling tajam akalnya, paling kuat keimanannya, serta paling gigih dalam mencari kebenaran. Hal ini selaras dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik umat manusia adalah orang di jamanku (sahabat).” (HR. Bukhari dan Muslim) Dengan demikian maka jalan yang aman ialah kita memilih untuk diam dan tidak perlu sibuk memperbincangkan polemik yang terjadi di antara mereka dan kita pulangkan perkara mereka kepada Allah; sebab itulah sikap yang lebih aman supaya tidak memunculkan rasa permusuhan atau kedengkian kepada salah seorang di antara mereka.” (Mudzakkirah ‘alal ‘Aqidah Wasithiyah, hal. 82)
Keterjagaan para Sahabat
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “(Individu) Para sahabat bukanlah orang-orang yang ma’shum dan terbebas dari dosa-dosa. Karena mereka bisa saja terjatuh dalam maksiat, sebagaimana hal itu mungkin terjadi pada orang selain mereka. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang paling layak untuk meraih ampunan karena sebab-sebab sebagai berikut :
Mereka berhasil merealisasikan iman dan amal shalih
Lebih dahulu memeluk Islam dan lebih utama, dan terdapat hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa mereka adalah sebaik-baik generasi (sebaik-baik umat manusia, red)
Berbagai amal yang sangat agung yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang selain mereka, seperti terlibat dalam perang Badar dan Bai’atur Ridhwan
Mereka telah bertaubat dari dosa-dosa, sedangkan taubat dapat menghapus apa yang dilakukan sebelumnya.
Berbagai kebaikan yang akan menghapuskan berbagai amal kejelekan
Adanya ujian yang menimpa mereka, yaitu berbagai hal yang tidak disenangi yang menimpa orang; sedangkan keberadaan musibah itu bisa menghapuskan dan menutup bekas-bekas dosa.
Kaum mukminin senantiasa mendo’akan mereka
Syafa’at dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan mereka adalah umat manusia yang paling berhak untuk memperolehnya.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan itulah maka perbuatan sebagian mereka yang diingkari (karena salah) adalah sangat sedikit dan tenggelam dalam (lautan) kebaikan mereka. Hal itu dikarenakan mereka adalah sebaik-baik manusia setelah para Nabi dan juga orang-orang terpilih di antara umat ini, yang menjadi umat paling baik. Belum pernah ada dan tidak akan pernah ada suatu kaum yang serupa dengan mereka.” (Mudzakkirah ‘alal ‘Aqidah Wasithiyah, hal. 83-84)
Cintailah mereka!
Abu Ja’far Ath Thahawi rahimahullah mengatakan, “Kami -Ahlus Sunnah- mencintai para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami tidak melampaui batas dalam mencintai salah seorang di antara mereka. Dan kami juga tidak berlepas diri dari seorangpun di antara mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka dan kami juga membenci orang yang menceritakan mereka dengan cara yang tidak baik. Kami tidak menceritakan mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah termasuk agama, iman dan ihsan. Sedangkan membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan dan pelanggaran batas.” (Syarah ‘Aqidah Thahawiyah cet. Darul ‘Aqidah, hal. 488)
www.abumushlih.com
Jalan Nabi dan Pengikutnya
February 27th, 2010 Author: Abu Mushlih
Allah ta’ala berfirman,
قُلْ هٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah -hai Muhammad-: Inilah jalanku, aku mengajak untuk -mentauhidkan- Allah di atas landasan bashirah/ilmu. Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku. Maha suci Allah, aku bukan tergolong bersama golongan orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)
Ayat yang mulia ini mengandung banyak pelajaran berharga bagi kita, di antaranya:
Yang dimaksud dengan dakwah ila Allah (mengajak manusia kepada Allah) adalah mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah, bukan dalam rangka meraih ambisi dunia, kepimpinan (baca: kursi), dan tidak juga kepada hizbiyah/fanatisme golongan (lihat al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 45). Dan perlu diingat bahwa yang dimaksud dengan dakwah tauhid di sini bukanlah sekedar meyakinkan umat manusia bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta, penguasa dan pengatur alam semesta (tauhid rububiyah). Akan tetapi yang dimaksud adalah mengajak mereka untuk bertauhid uluhiyah. Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “…para rasul tidak diutus untuk menetapkan tauhid rububiyah karena hal itu sudah ada, hanya saja hal itu tidak mencukupi. Akan tetapi Allah mengutus mereka untuk menetapkan tauhid uluhiyah, yaitu mengesakan Allah ta’ala dalam beribadah. Itulah agama para rasul dari sejak yang pertama hingga yang terakhir.” (Syarh Kitab Kasyfu Syubuhat, hal. 20). Kemudian, perlu diingat juga bahwa dakwah tauhid ini tidak sekedar mengajak manusia untuk mengucapkan la ilaha illallah tanpa memahami dan melaksanakan kandungannya [!]. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz ketika mengutusnya untuk berdakwah, “Hendaklah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka adalah agar mereka beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla…” (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafazh Muslim. Lihat Syarh Muslim [2/49]). Maka bunyi hadits ini merupakan penafsiran riwayat lainnya yang berbunyi, “Jadikanlah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka adalah syahadat la ilaha illallah dan aku adalah utusan Allah…” (lihat Syarh Muslim [2/47]). Ini menunjukkan bahwa sekedar mengucapkan la ilaha illallah tanpa diiringi dengan ketundukan beribadah kepada Allah belumlah mencukupi. Hal ini sekaligus mengisyaratkan bahwa ibadah kepada Allah tidak akan diterima kecuali apabila ikhlas untuk Allah (kandungan syahadat la ilaha illallah) dan dilakukan dengan mengikuti syari’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (kandungan syahadat Muhammad rasulullah). Hal ini juga menunjukkan bahwa inti dakwah tauhid adalah mengajak manusia untuk mencampakkan semua sesembahan selain Allah dan mempersembahkan semua ibadah hanya kepada Allah serta meninggalkan semua panutan yang menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Di dalam ayat ini terdapat peringatan untuk menjaga keikhlasan dalam berdakwah. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Karena sesungguhnya kebanyakan orang jika mengajak/berdakwah kepada kebenaran maka seringkali -menyimpang- sehingga justru mengajak orang lain untuk mengikuti dirinya sendiri.” (Kitab at-Tauhid yang dicetak bersama al-Qaul al-Sadid, hal 28). Orang yang ikhlas mengajak kepada kebenaran tentu saja akan merasa senang menerima kebenaran darimana pun datangnya, meskipun bukan melewati dirinya. Maka ayat di atas menunjukkan wajibnya ikhlas dalam berdakwah ila Allah (lihat al-Jadid, hal. 63)
Ayat ini menunjukkan bahwa jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengikutnya adalah mendakwahkan tauhid di atas ilmu. Hal ini sekaligus menunjukkan wajibnya mempelajari tauhid dan anjuran untuk memahaminya dengan sebaik-baiknya. Sehingga seorang muslim harus bersemangat dalam mempelajari akidah yang benar dan menyebarkannya. Inilah salah satu keistimewaan manhaj salaf! Syaikh Dr. Muhammad Sa’id Ruslan hafizhahullah mengatakan, “Salah satu keistimewaan pengikut manhaj salaf adalah bersemangat dalam menyebarkan akidah yang benar dan ajaran agama yang lurus. Bersemangat dalam memberikan pengajaran dan kebaikan kepada umat manusia. Dan bersemangat dalam membantah orang-orang yang menyimpang dan ahli bid’ah.” (Ceramah beliau yang berjudul Da’a-im Minhaj Nubuwwah)
Ayat ini juga menunjukkan bahwa seorang da’i harus mengetahui dengan jelas apa yang dia dakwahkan dan apa yang dia larang (lihat al-Mulakhash, hal. 46, al-Jadid, hal. 63). Dengan kata lain, wajib berilmu sebelum berdakwah. Sehingga hal ini menepis ajakan sebagian kelompok yang menghasung kaum muslimin untuk berdakwah kesana kemari namun tidak memperhatikan kapasitas keilmuan yang dimiliki. Bahkan di antara mereka demikian bersemangat untuk mengorbitkan kadernya supaya bisa menduduki posisi-posisi penting dalam organisasi kampus, lembaga pemerintahan, atau dewan perwakilan dengan dalih ‘untuk memberikan warna Islam dan memperbaiki dari dalam’. Padahal, ketika dicermati ternyata bekal ilmu yang mereka miliki untuk berdakwah sangatlah minim! Subhanallah, orang Arab bilang ‘Faaqidus syai’i laa yu’thii’ (orang yang tidak punya, tidak bisa memberi apa-apa). Bagaimana mereka mau mewarnai sementara mereka sendiri tidak tahu seperti apakah warna Islam yang sejati? Bagaimana mereka bisa memperbaiki sementara mereka sendiri tidak tahu seperti apa kebaikan yang sejati? Ya, nantinya mereka akan mengalami kejadian seperti yang dikatakan oleh salah seorang tokoh mereka sendiri, “Diwarnai dan bukannya mewarnai.” Dia juga mengatakan, “Sekarang sudah punya kekuasaan, berani nggak mendakwahkan tauhid dan memberantas syirik?”. Nah, apa ya mereka itu tidak mau berpikir? Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak punya ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati itu semua akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. al-Israa’: 36). Kami tak perlu meminta, namun bukti dan saksi telah berbicara…, bertaubatlah wahai harakiyyin!
Ayat ini menunjukkan wajibnya berlepas diri dan membenci syirik dan pelakunya (lihat al-Jadid, hal. 63). Itu artinya seorang muslim juga semestinya menjauhkan diri dari orang-orang musyrik dan tidak bergabung dengan komunitas mereka, sehingga semata-mata tidak berbuat syirik belum cukup baginya (lihat al-Mulakhash, hal. 47). Inilah yang dimaksud dengan istilah bara’ di dalam bab akidah, yaitu ‘memutus keterikatan hati dengan orang-orang kafir, tidak mencintai mereka, tidak membela mereka dan tidak menetap di negeri mereka -tanpa kepentingan yang dibenarkan-’ (lihat Kitab at-Tauhid li Shaff Awwal al-’Aali, hal. 96).
Membekali diri dengan ilmu merupakan kewajiban. Karena mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebuah kewajiban. Sementara hal itu tidak mungkin terwujud tanpa ilmu (lihat al-Mulakhash, hal. 46). Oleh sebab itu mempelajari tauhid -sebelum mendakwahkannya- adalah sebuah kewajiban, bahkan ia termasuk kewajiban yang paling agung!
Ayat ini juga menunjukkan salah satu rambu-rambu dakwah -sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Ali al-Halabi hafizhahullah dalam ceramahnya Manhaj al-Anbiya’ fi Da’wah ila Allah- bahwa dakwah semestinya ditegakkan secara berjama’ah (bersatu padu), bukan sendiri-sendiri (bercerai-berai). Sebagaimana diisyaratkan oleh ayat ini, “Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku”. Ini mengisyaratkan adanya persatuan/jama’ah. Sebagaimana dalam ayat lain Allah ta’ala menyebutkan, “Saling menasehati dalam kebenaran dan saling nenasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 3). Sebagaimana pula dalam ayat lain yang secara tegas memerintahkan, “Berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah berpecah belah…” (QS. Ali Imran: 103). Dan juga ayat-Nya (yang artinya), “Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang musyrik, yaitu yang memecah belah agamanya sehingga menjadi bergolong-golongan. Masing-masing merasa bangga dengan apa yang ada pada diri mereka.” (QS. ar-Ruum: 31-32). Dan perkumpulan apa pun yang dibuat oleh manusia tentu saja menuntut adanya sikap saling pengertian, bukan sikap ingin menang sendiri dan saling meremehkan. Kalau orang yang di pasar saja dengan akidah dan manhaj yang berbeda-beda bisa ‘bersatu’ demi mendapatkan keuntungan dunia, lalu mengapa para da’i -yang konon katanya memiliki akidah dan manhaj yang sama- yang menginginkan keuntungan akherat dengan dakwahnya justru bertikai dan memusuhi sesamanya? Apakah kita telah melupakan prinsip yang agung ini ayyuhal ikhwah?
http://www.abumushlih.com/
foto....akhi Nurman
February 27th, 2010 Author: Abu Mushlih
Allah ta’ala berfirman,
قُلْ هٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah -hai Muhammad-: Inilah jalanku, aku mengajak untuk -mentauhidkan- Allah di atas landasan bashirah/ilmu. Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku. Maha suci Allah, aku bukan tergolong bersama golongan orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)
Ayat yang mulia ini mengandung banyak pelajaran berharga bagi kita, di antaranya:
Yang dimaksud dengan dakwah ila Allah (mengajak manusia kepada Allah) adalah mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah, bukan dalam rangka meraih ambisi dunia, kepimpinan (baca: kursi), dan tidak juga kepada hizbiyah/fanatisme golongan (lihat al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 45). Dan perlu diingat bahwa yang dimaksud dengan dakwah tauhid di sini bukanlah sekedar meyakinkan umat manusia bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta, penguasa dan pengatur alam semesta (tauhid rububiyah). Akan tetapi yang dimaksud adalah mengajak mereka untuk bertauhid uluhiyah. Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “…para rasul tidak diutus untuk menetapkan tauhid rububiyah karena hal itu sudah ada, hanya saja hal itu tidak mencukupi. Akan tetapi Allah mengutus mereka untuk menetapkan tauhid uluhiyah, yaitu mengesakan Allah ta’ala dalam beribadah. Itulah agama para rasul dari sejak yang pertama hingga yang terakhir.” (Syarh Kitab Kasyfu Syubuhat, hal. 20). Kemudian, perlu diingat juga bahwa dakwah tauhid ini tidak sekedar mengajak manusia untuk mengucapkan la ilaha illallah tanpa memahami dan melaksanakan kandungannya [!]. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz ketika mengutusnya untuk berdakwah, “Hendaklah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka adalah agar mereka beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla…” (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafazh Muslim. Lihat Syarh Muslim [2/49]). Maka bunyi hadits ini merupakan penafsiran riwayat lainnya yang berbunyi, “Jadikanlah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka adalah syahadat la ilaha illallah dan aku adalah utusan Allah…” (lihat Syarh Muslim [2/47]). Ini menunjukkan bahwa sekedar mengucapkan la ilaha illallah tanpa diiringi dengan ketundukan beribadah kepada Allah belumlah mencukupi. Hal ini sekaligus mengisyaratkan bahwa ibadah kepada Allah tidak akan diterima kecuali apabila ikhlas untuk Allah (kandungan syahadat la ilaha illallah) dan dilakukan dengan mengikuti syari’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (kandungan syahadat Muhammad rasulullah). Hal ini juga menunjukkan bahwa inti dakwah tauhid adalah mengajak manusia untuk mencampakkan semua sesembahan selain Allah dan mempersembahkan semua ibadah hanya kepada Allah serta meninggalkan semua panutan yang menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Di dalam ayat ini terdapat peringatan untuk menjaga keikhlasan dalam berdakwah. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Karena sesungguhnya kebanyakan orang jika mengajak/berdakwah kepada kebenaran maka seringkali -menyimpang- sehingga justru mengajak orang lain untuk mengikuti dirinya sendiri.” (Kitab at-Tauhid yang dicetak bersama al-Qaul al-Sadid, hal 28). Orang yang ikhlas mengajak kepada kebenaran tentu saja akan merasa senang menerima kebenaran darimana pun datangnya, meskipun bukan melewati dirinya. Maka ayat di atas menunjukkan wajibnya ikhlas dalam berdakwah ila Allah (lihat al-Jadid, hal. 63)
Ayat ini menunjukkan bahwa jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengikutnya adalah mendakwahkan tauhid di atas ilmu. Hal ini sekaligus menunjukkan wajibnya mempelajari tauhid dan anjuran untuk memahaminya dengan sebaik-baiknya. Sehingga seorang muslim harus bersemangat dalam mempelajari akidah yang benar dan menyebarkannya. Inilah salah satu keistimewaan manhaj salaf! Syaikh Dr. Muhammad Sa’id Ruslan hafizhahullah mengatakan, “Salah satu keistimewaan pengikut manhaj salaf adalah bersemangat dalam menyebarkan akidah yang benar dan ajaran agama yang lurus. Bersemangat dalam memberikan pengajaran dan kebaikan kepada umat manusia. Dan bersemangat dalam membantah orang-orang yang menyimpang dan ahli bid’ah.” (Ceramah beliau yang berjudul Da’a-im Minhaj Nubuwwah)
Ayat ini juga menunjukkan bahwa seorang da’i harus mengetahui dengan jelas apa yang dia dakwahkan dan apa yang dia larang (lihat al-Mulakhash, hal. 46, al-Jadid, hal. 63). Dengan kata lain, wajib berilmu sebelum berdakwah. Sehingga hal ini menepis ajakan sebagian kelompok yang menghasung kaum muslimin untuk berdakwah kesana kemari namun tidak memperhatikan kapasitas keilmuan yang dimiliki. Bahkan di antara mereka demikian bersemangat untuk mengorbitkan kadernya supaya bisa menduduki posisi-posisi penting dalam organisasi kampus, lembaga pemerintahan, atau dewan perwakilan dengan dalih ‘untuk memberikan warna Islam dan memperbaiki dari dalam’. Padahal, ketika dicermati ternyata bekal ilmu yang mereka miliki untuk berdakwah sangatlah minim! Subhanallah, orang Arab bilang ‘Faaqidus syai’i laa yu’thii’ (orang yang tidak punya, tidak bisa memberi apa-apa). Bagaimana mereka mau mewarnai sementara mereka sendiri tidak tahu seperti apakah warna Islam yang sejati? Bagaimana mereka bisa memperbaiki sementara mereka sendiri tidak tahu seperti apa kebaikan yang sejati? Ya, nantinya mereka akan mengalami kejadian seperti yang dikatakan oleh salah seorang tokoh mereka sendiri, “Diwarnai dan bukannya mewarnai.” Dia juga mengatakan, “Sekarang sudah punya kekuasaan, berani nggak mendakwahkan tauhid dan memberantas syirik?”. Nah, apa ya mereka itu tidak mau berpikir? Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak punya ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati itu semua akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. al-Israa’: 36). Kami tak perlu meminta, namun bukti dan saksi telah berbicara…, bertaubatlah wahai harakiyyin!
Ayat ini menunjukkan wajibnya berlepas diri dan membenci syirik dan pelakunya (lihat al-Jadid, hal. 63). Itu artinya seorang muslim juga semestinya menjauhkan diri dari orang-orang musyrik dan tidak bergabung dengan komunitas mereka, sehingga semata-mata tidak berbuat syirik belum cukup baginya (lihat al-Mulakhash, hal. 47). Inilah yang dimaksud dengan istilah bara’ di dalam bab akidah, yaitu ‘memutus keterikatan hati dengan orang-orang kafir, tidak mencintai mereka, tidak membela mereka dan tidak menetap di negeri mereka -tanpa kepentingan yang dibenarkan-’ (lihat Kitab at-Tauhid li Shaff Awwal al-’Aali, hal. 96).
Membekali diri dengan ilmu merupakan kewajiban. Karena mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebuah kewajiban. Sementara hal itu tidak mungkin terwujud tanpa ilmu (lihat al-Mulakhash, hal. 46). Oleh sebab itu mempelajari tauhid -sebelum mendakwahkannya- adalah sebuah kewajiban, bahkan ia termasuk kewajiban yang paling agung!
Ayat ini juga menunjukkan salah satu rambu-rambu dakwah -sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Ali al-Halabi hafizhahullah dalam ceramahnya Manhaj al-Anbiya’ fi Da’wah ila Allah- bahwa dakwah semestinya ditegakkan secara berjama’ah (bersatu padu), bukan sendiri-sendiri (bercerai-berai). Sebagaimana diisyaratkan oleh ayat ini, “Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku”. Ini mengisyaratkan adanya persatuan/jama’ah. Sebagaimana dalam ayat lain Allah ta’ala menyebutkan, “Saling menasehati dalam kebenaran dan saling nenasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 3). Sebagaimana pula dalam ayat lain yang secara tegas memerintahkan, “Berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah berpecah belah…” (QS. Ali Imran: 103). Dan juga ayat-Nya (yang artinya), “Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang musyrik, yaitu yang memecah belah agamanya sehingga menjadi bergolong-golongan. Masing-masing merasa bangga dengan apa yang ada pada diri mereka.” (QS. ar-Ruum: 31-32). Dan perkumpulan apa pun yang dibuat oleh manusia tentu saja menuntut adanya sikap saling pengertian, bukan sikap ingin menang sendiri dan saling meremehkan. Kalau orang yang di pasar saja dengan akidah dan manhaj yang berbeda-beda bisa ‘bersatu’ demi mendapatkan keuntungan dunia, lalu mengapa para da’i -yang konon katanya memiliki akidah dan manhaj yang sama- yang menginginkan keuntungan akherat dengan dakwahnya justru bertikai dan memusuhi sesamanya? Apakah kita telah melupakan prinsip yang agung ini ayyuhal ikhwah?
http://www.abumushlih.com/
foto....akhi Nurman
Langganan:
Komentar (Atom)





