Laman

Kamis, Maret 25, 2010

GENERASI TERBAIK DALAM SEJARAH

GENERASI TERBAIK DALAM SEJARAH




December 25th, 2008 Author: Abu Mushlih





“Belum pernah ada, dan tidak akan pernah ada suatu kaum yang serupa dengan mereka”



Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Barangsiapa hendak mengambil teladan maka teladanilah orang-orang yang telah meninggal. Mereka itu adalah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya di kalangan umat ini. Ilmu mereka paling dalam serta paling tidak suka membeban-bebani diri. Mereka adalah suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah guna menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menyampaikan ajaran agama-Nya. Oleh karena itu tirulah akhlak mereka dan tempuhlah jalan-jalan mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus.” (Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish shalih, hal. 198)



Pengertian Sahabat

Sahabat adalah orang yang berjumpa dengan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam keadaan muslim, meninggal dalam keadaan Islam, meskipun sebelum mati dia pernah murtad seperti Al Asy’ats bin Qais. Sedangkan yang dimaksud dengan berjumpa dalam pengertian ini lebih luas daripada sekedar duduk di hadapannya, berjalan bersama, terjadi pertemuan walau tanpa bicara, dan termasuk dalam pengertian ini pula apabila salah satunya (Nabi atau orang tersebut) pernah melihat yang lainnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu’anhu yang buta matanya tetap disebut sahabat (lihat Taisir Mushthalah Hadits, hal. 198, An Nukat, hal. 149-151)



Sikap Ahlus Sunnah terhadap para Sahabat

Syaikh Abu Musa Abdurrazzaq Al Jaza’iri hafizhahullah berkata, “Ahlus Sunnah wal Jama’ah As Salafiyun senantiasa mencintai mereka (para sahabat) dan sering menyebutkan berbagai kebaikan mereka. Mereka juga mendo’akan rahmat kepada para sahabat, memintakan ampunan untuk mereka demi melaksanakan firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka mengatakan ; Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan keimanan. Dan janganlah Kau jadikan ada rasa dengki di dalam hati kami kepada orang-orang yang beriman, sesungguhnya Engkau Maha Lembut lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr : 10) Dan termasuk salah satu prinsip yang diyakini oleh Ahlus Sunnah As Salafiyun adalah menahan diri untuk tidak menyebut-nyebutkan kejelekan mereka serta bersikap diam (tidak mencela mereka, red) dalam menanggapi perselisihan yang terjadi di antara mereka. Karena mereka itu adalah pilar penopang agama, panglima Islam, pembantu-pembantu Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, penolong beliau, pendamping beliau serta pengikut setia beliau. Perbedaan yang terjadi di antara mereka adalah perbedaan dalam hal ijtihad. Mereka adalah para mujtahid yang apabila benar mendapatkan pahala dan apabila salah pun tetap mendapatkan pahala. “Itulah umat yang telah berlalu. Bagi mereka balasan atas apa yang telah mereka perbuat. Dan bagi kalian apa yang kalian perbuat. Kalian tidak akan ditanya tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Baqarah : 141). Barangsiapa yang mendiskreditkan para sahabat maka sesungguhnya dia telah menentang dalil Al Kitab, As Sunnah, Ijma’ dan akal.” (Al Is’aad fii Syarhi Lum’atil I’tiqaad, hal. 77)



Dalil-dalil Al Kitab tentang keutamaan para Sahabat



Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Muhammad adalah utusan Allah beserta orang-orang yang bersamanya adalah bersikap keras kepada orang-orang kafir dan saling menyayangi sesama mereka. Engkau lihat mereka itu ruku’ dan sujud senantiasa mengharapkan karunia dari Allah dan keridhaan-Nya.” (QS. Al Fath)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Bagi orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin yang diusir dari negeri-negeri mereka dan meninggalkan harta-harta mereka karena mengharapkan keutamaan dari Allah dan keridhaan-Nya demi menolong agama Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Sedangkan orang-orang yang tinggal di negeri tersebut (Anshar) dan beriman sebelum mereka juga mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin) dan di dalam hati mereka tidak ada rasa butuh terhadap apa yang mereka berikan dan mereka lebih mengutamakan saudaranya daripada diri mereka sendiri walaupun mereka juga sedang berada dalam kesulitan.” (QS. Al Hasyr : 8-9)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang yang beriman (para sahabat Nabi) ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon (Bai’atu Ridwan). Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada mereka dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat.” (QS. Al Fath : 18)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang terlebih dulu (berjasa kepada Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah telah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha mepada Allah. dan Allah telah mempersiapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang sangat besar.” (QS. At Taubah : 100)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari dimana Allah tidak akan menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersamanya. Cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka.” (QS. At Tahrim : (lihat Al Is’aad, hal. 77-78)

Dalil-dalil dari As Sunnah tentang keutamaan para Sahabat



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mencela seorang pun di antara para sahabatku. Karena sesungguhnya apabila seandainya ada salah satu di antara kalian yang bisa berinfak emas sebesar Gunung Uhud maka itu tidak akan bisa menyaingi infak salah seorang di antara mereka; yang hanya sebesar genggaman tangan atau bahkan setengahnya saja.” (Muttafaq ‘alaih)

Beliau juga bersabda, “Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in).” (Muttafaq ‘alaih)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bintang-bintang itu adalah amanat bagi langit. Apabila bintang-bintang itu telah musnah maka tibalah kiamat yang dijanjikan akan menimpa langit. Sedangkan aku adalah amanat bagi para sahabatku. Apabila aku telah pergi maka tibalah apa yang dijanjikan Allah akan terjadi kepada para sahabatku. Sedangkan para sahabatku adalah amanat bagi umatku. Sehingga apabila para sahabatku telah pergi maka akan datanglah sesuatu (perselisihan dan perpecahan, red) yang sudah dijanjikan Allah akan terjadi kepada umatku ini.” (HR. Muslim)

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencela para sahabatku maka dia berhak mendapatkan laknat dari Allah, laknat para malaikat dan laknat dari seluruh umat manusia.” (Ash Shahihah : 234)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Apabila disebutkan tentang para sahabatku maka diamlah.” (Ash Shahihah : 24) (lihat Al Is’aad, hal. 78)

Dalil Ijma’ tentang keutamaan para Sahabat



Imam Ibnush Shalah rahimahullah berkata di dalam kitab Mukaddimah-nya, “Sesungguhnya umat ini telah sepakat untuk menilai adil (terpercaya dan taat) kepada seluruh para sahabat, begitu pula terhadap orang-orang yang terlibat dalam fitnah yang ada di antara mereka. hal ini sudah ditetapkan berdasarkan konsensus/kesepakatan para ulama yang pendapat-pendapat mereka diakui dalam hal ijma’.”

Imam Nawawi rahimahullah berkata di dalam kitab Taqribnya, “Semua sahabat adalah orang yang adil, baik yang terlibat dalam fitnah maupun tidak, ini berdasarkan kesepakatan para ulama yang layak untuk diperhitungkan pendapatnya.”

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata di dalam kitab Al Ishabah, “Ahlus Sunnah sudah sepakat untuk menyatakan bahwa semua sahabat adalah adil. Tidak ada orang yang menyelisihi dalam hal itu melainkan orang-orang yang menyimpang dari kalangan ahli bid’ah.”

Imam Al Qurthubi mengatakan di dalam kitab Tafsirnya, “Semua sahabat adalah adil, mereka adalah para wali Allah ta’ala serta orang-orang suci pilihan-Nya, orang terbaik yang diistimewakan oleh-Nya di antara seluruh manusia ciptaan-Nya sesudah tingkatan para Nabi dan Rasul-Nya. Inilah madzhab Ahlus Sunnah dan dipegang teguh oleh Al Jama’ah dari kalangan para imam pemimpin umat ini. Memang ada segolongan kecil orang yang tidak layak untuk diperhatikan yang menganggap bahwa posisi para sahabat sama saja dengan posisi orang-orang selain mereka.” (lihat Al Is’aad, hal. 78)

Urutan keutamaan para Sahabat

Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah berkata, “Para sahabat itu memiliki keutamaan yang bertingkat-tingkat. [1] Yang paling utama di antara mereka adalah khulafa rasyidin yang empat; Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan Ali, radhiyallahu’anhum al jamii’. Mereka adalah orang yang telah disabdakan oleh Nabi ‘alaihi shalatu wa salam, “Wajib bagi kalian untuk mengikuti Sunnahku dan Sunnah khulafa rasyidin yang berpetunjuk sesudahku, gigitlah ia dengan gigi geraham kalian.” [2] Kemudian sesudah mereka adalah sisa dari 10 orang yang diberi kabar gembira pasti masuk surga selain mereka, yaitu : Abu ‘Ubaidah ‘Aamir bin Al Jarrah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid, Zubeir bin Al Awwaam, Thalhah bin Ubaidillah dan Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhum. [3] Kemudian diikuti oleh Ahlul Badar, lalu [4] Ahlu Bai’ati Ridhwan, Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang yang beriman (para sahabat Nabi) ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon (Bai’atu Ridwan). Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada mereka dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat.” (QS. Al Fath : 18). [5] Kemudian para sahabat yang beriman dan turut berjihad sebelum terjadinya Al Fath. Mereka itu lebih utama daripada sahabat-sahabat yang beriman dan turut berjihad setelah Al Fath. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Tidaklah sama antara orang yang berinfak sebelum Al Fath di antara kalian dan turut berperang. Mereka itu memiliki derajat yang lebih tinggi daripada orang-orang yang berinfak sesudahnya dan turut berperang, dan masing-masing Allah telah janjikan kebaikan (surga) untuk mereka.” (QS. Al Hadid : 10). Sedangkan yang dimaksud dengan Al Fath di sini adalah perdamaian Hudaibiyah. [6] Kemudian kaum Muhajirin secara umum, [7] kemudian kaum Anshar. Sebab Allah telah mendahulukan kaum Muhajirin sebelum Anshar di dalam Al Qur’an, Allah subhanahu berfirman (yang artinya), “Bagi orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin yang diusir dari negeri-negeri mereka dan meninggalkan harta-harta mereka karena mengharapkan keutamaan dari Allah dan keridhaan-Nya demi menolong agama Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hasyr : 8). Mereka itulah kaum Muhajirin. Kemudian Allah berfirman tentang kaum Anshar, Sedangkan orang-orang yang tinggal di negeri tersebut (Anshar) dan beriman sebelum mereka juga mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin) dan di dalam hati mereka tidak ada rasa butuh terhadap apa yang mereka berikan dan mereka lebih mengutamakan saudaranya daripada diri mereka sendiri walaupun mereka juga sedang berada dalam kesulitan. Dan barangsiapa yang dijaga dari rasa bakhil dalam jiwanya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al Hasyr : 9). Allah mendahulukan kaum Muhajirin dan amal mereka sebelum kaum Anshar dan amal mereka yang menunjukkan bahwasanya kaum Muhajirin lebih utama. Karena mereka rela meninggalkan negeri tempat tinggal mereka, meninggalkan harta-harta mereka dan berhijrah di jalan Allah, itu menunjukkan ketulusan iman mereka…” (Ta’liq ‘Aqidah Thahawiyah yang dicetak bersama Syarah ‘Aqidah Thahawiyah Darul ‘Aqidah, hal. 492-494)



Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Sebab berbedanya martabat para sahabat adalah karena perbedaan kekuatan iman, ilmu, amal shalih dan keterdahuluan dalam memeluk Islam. Apabila dilihat secara kelompok maka kaum Muhajirin paling utama kemudian diikuti oleh kaum Anshar. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sungguh Allah telah menerima taubat Nabi, kaum Muhajirin dan kaum Anshar.” (QS. At Taubah : 117). Hal itu disebabkan mereka (Muhajirin) memadukan antara hijrah meninggalkan negeri dan harta benda mereka dengan pembelaan mereka (terhadap dakwah Nabi di Mekkah, pent). Sedangkan orang paling utama di antara para sahabat adalah Abu Bakar, kemudian Umar. Hal itu berdasarkan ijma’. Kemudian ‘Utsman, kemudian ‘Ali. Ini menurut pendapat jumhur Ahlis Sunnah yang sudah mantap dan mapan setelah sebelumnya sempat terjadi perselisihan dalam hal pengutamaan antara Ali dengan ‘Utsman. Ketika itu sebagian ulama lebih mengutamakan ‘Utsman kemudian diam, ada lagi ulama lain yang lebih mendahulukan ‘Ali kemudian baru ‘Utsman, dan ada pula sebagian lagi yang tawaquf tidak berkomentar tentang pengutamaan ini. Orang yang berpendapat bahwa ‘Ali lebih utama daripada ‘Utsman maka tidak dicap sesat, karena memang ada sebagian (ulama) Ahlus Sunnah yang berpendapat demikian.” (Mudzakkirah ‘alal ‘Aqidah Wasithiyah, hal. 77)



Menyikapi polemik yang terjadi di kalangan para Sahabat

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Sikap mereka (Ahlus Sunnah) dalam menyikapi hal itu ialah; sesungguhnya polemik yang terjadi di antara mereka merupakan (perbedaan yang muncul dari) hasil ijtihad dari kedua belah pihak (antara pihak ‘Ali dengan pihak Mu’awiyah, red), bukan bersumber dari niat yang buruk. Sedangkan bagi seorang mujtahid apabila ia benar maka dia berhak mendapatkan dua pahala, sedangkan apabila ternyata dia tersalah maka dia berhak mendapatkan satu pahala. Dan polemik yang mencuat di tengah mereka bukanlah berasal dari keinginan untuk meraih posisi yang tinggi atau bermaksud membuat kerusakan di atas muka bumi; karena kondisi para sahabat radhiyallahu’anhum tidak memungkinkan untuk itu. Sebab mereka adalah orang yang paling tajam akalnya, paling kuat keimanannya, serta paling gigih dalam mencari kebenaran. Hal ini selaras dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik umat manusia adalah orang di jamanku (sahabat).” (HR. Bukhari dan Muslim) Dengan demikian maka jalan yang aman ialah kita memilih untuk diam dan tidak perlu sibuk memperbincangkan polemik yang terjadi di antara mereka dan kita pulangkan perkara mereka kepada Allah; sebab itulah sikap yang lebih aman supaya tidak memunculkan rasa permusuhan atau kedengkian kepada salah seorang di antara mereka.” (Mudzakkirah ‘alal ‘Aqidah Wasithiyah, hal. 82)



Keterjagaan para Sahabat

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “(Individu) Para sahabat bukanlah orang-orang yang ma’shum dan terbebas dari dosa-dosa. Karena mereka bisa saja terjatuh dalam maksiat, sebagaimana hal itu mungkin terjadi pada orang selain mereka. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang paling layak untuk meraih ampunan karena sebab-sebab sebagai berikut :



Mereka berhasil merealisasikan iman dan amal shalih

Lebih dahulu memeluk Islam dan lebih utama, dan terdapat hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa mereka adalah sebaik-baik generasi (sebaik-baik umat manusia, red)

Berbagai amal yang sangat agung yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang selain mereka, seperti terlibat dalam perang Badar dan Bai’atur Ridhwan

Mereka telah bertaubat dari dosa-dosa, sedangkan taubat dapat menghapus apa yang dilakukan sebelumnya.

Berbagai kebaikan yang akan menghapuskan berbagai amal kejelekan

Adanya ujian yang menimpa mereka, yaitu berbagai hal yang tidak disenangi yang menimpa orang; sedangkan keberadaan musibah itu bisa menghapuskan dan menutup bekas-bekas dosa.

Kaum mukminin senantiasa mendo’akan mereka

Syafa’at dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan mereka adalah umat manusia yang paling berhak untuk memperolehnya.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan itulah maka perbuatan sebagian mereka yang diingkari (karena salah) adalah sangat sedikit dan tenggelam dalam (lautan) kebaikan mereka. Hal itu dikarenakan mereka adalah sebaik-baik manusia setelah para Nabi dan juga orang-orang terpilih di antara umat ini, yang menjadi umat paling baik. Belum pernah ada dan tidak akan pernah ada suatu kaum yang serupa dengan mereka.” (Mudzakkirah ‘alal ‘Aqidah Wasithiyah, hal. 83-84)



Cintailah mereka!

Abu Ja’far Ath Thahawi rahimahullah mengatakan, “Kami -Ahlus Sunnah- mencintai para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami tidak melampaui batas dalam mencintai salah seorang di antara mereka. Dan kami juga tidak berlepas diri dari seorangpun di antara mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka dan kami juga membenci orang yang menceritakan mereka dengan cara yang tidak baik. Kami tidak menceritakan mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah termasuk agama, iman dan ihsan. Sedangkan membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan dan pelanggaran batas.” (Syarah ‘Aqidah Thahawiyah cet. Darul ‘Aqidah, hal. 488)



www.abumushlih.com
Jalan Nabi dan Pengikutnya




February 27th, 2010 Author: Abu Mushlih



Allah ta’ala berfirman,



قُلْ هٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ



“Katakanlah -hai Muhammad-: Inilah jalanku, aku mengajak untuk -mentauhidkan- Allah di atas landasan bashirah/ilmu. Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku. Maha suci Allah, aku bukan tergolong bersama golongan orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)



Ayat yang mulia ini mengandung banyak pelajaran berharga bagi kita, di antaranya:



Yang dimaksud dengan dakwah ila Allah (mengajak manusia kepada Allah) adalah mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah, bukan dalam rangka meraih ambisi dunia, kepimpinan (baca: kursi), dan tidak juga kepada hizbiyah/fanatisme golongan (lihat al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 45). Dan perlu diingat bahwa yang dimaksud dengan dakwah tauhid di sini bukanlah sekedar meyakinkan umat manusia bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta, penguasa dan pengatur alam semesta (tauhid rububiyah). Akan tetapi yang dimaksud adalah mengajak mereka untuk bertauhid uluhiyah. Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “…para rasul tidak diutus untuk menetapkan tauhid rububiyah karena hal itu sudah ada, hanya saja hal itu tidak mencukupi. Akan tetapi Allah mengutus mereka untuk menetapkan tauhid uluhiyah, yaitu mengesakan Allah ta’ala dalam beribadah. Itulah agama para rasul dari sejak yang pertama hingga yang terakhir.” (Syarh Kitab Kasyfu Syubuhat, hal. 20). Kemudian, perlu diingat juga bahwa dakwah tauhid ini tidak sekedar mengajak manusia untuk mengucapkan la ilaha illallah tanpa memahami dan melaksanakan kandungannya [!]. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz ketika mengutusnya untuk berdakwah, “Hendaklah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka adalah agar mereka beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla…” (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafazh Muslim. Lihat Syarh Muslim [2/49]). Maka bunyi hadits ini merupakan penafsiran riwayat lainnya yang berbunyi, “Jadikanlah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka adalah syahadat la ilaha illallah dan aku adalah utusan Allah…” (lihat Syarh Muslim [2/47]). Ini menunjukkan bahwa sekedar mengucapkan la ilaha illallah tanpa diiringi dengan ketundukan beribadah kepada Allah belumlah mencukupi. Hal ini sekaligus mengisyaratkan bahwa ibadah kepada Allah tidak akan diterima kecuali apabila ikhlas untuk Allah (kandungan syahadat la ilaha illallah) dan dilakukan dengan mengikuti syari’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (kandungan syahadat Muhammad rasulullah). Hal ini juga menunjukkan bahwa inti dakwah tauhid adalah mengajak manusia untuk mencampakkan semua sesembahan selain Allah dan mempersembahkan semua ibadah hanya kepada Allah serta meninggalkan semua panutan yang menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di dalam ayat ini terdapat peringatan untuk menjaga keikhlasan dalam berdakwah. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Karena sesungguhnya kebanyakan orang jika mengajak/berdakwah kepada kebenaran maka seringkali -menyimpang- sehingga justru mengajak orang lain untuk mengikuti dirinya sendiri.” (Kitab at-Tauhid yang dicetak bersama al-Qaul al-Sadid, hal 28). Orang yang ikhlas mengajak kepada kebenaran tentu saja akan merasa senang menerima kebenaran darimana pun datangnya, meskipun bukan melewati dirinya. Maka ayat di atas menunjukkan wajibnya ikhlas dalam berdakwah ila Allah (lihat al-Jadid, hal. 63)

Ayat ini menunjukkan bahwa jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengikutnya adalah mendakwahkan tauhid di atas ilmu. Hal ini sekaligus menunjukkan wajibnya mempelajari tauhid dan anjuran untuk memahaminya dengan sebaik-baiknya. Sehingga seorang muslim harus bersemangat dalam mempelajari akidah yang benar dan menyebarkannya. Inilah salah satu keistimewaan manhaj salaf! Syaikh Dr. Muhammad Sa’id Ruslan hafizhahullah mengatakan, “Salah satu keistimewaan pengikut manhaj salaf adalah bersemangat dalam menyebarkan akidah yang benar dan ajaran agama yang lurus. Bersemangat dalam memberikan pengajaran dan kebaikan kepada umat manusia. Dan bersemangat dalam membantah orang-orang yang menyimpang dan ahli bid’ah.” (Ceramah beliau yang berjudul Da’a-im Minhaj Nubuwwah)

Ayat ini juga menunjukkan bahwa seorang da’i harus mengetahui dengan jelas apa yang dia dakwahkan dan apa yang dia larang (lihat al-Mulakhash, hal. 46, al-Jadid, hal. 63). Dengan kata lain, wajib berilmu sebelum berdakwah. Sehingga hal ini menepis ajakan sebagian kelompok yang menghasung kaum muslimin untuk berdakwah kesana kemari namun tidak memperhatikan kapasitas keilmuan yang dimiliki. Bahkan di antara mereka demikian bersemangat untuk mengorbitkan kadernya supaya bisa menduduki posisi-posisi penting dalam organisasi kampus, lembaga pemerintahan, atau dewan perwakilan dengan dalih ‘untuk memberikan warna Islam dan memperbaiki dari dalam’. Padahal, ketika dicermati ternyata bekal ilmu yang mereka miliki untuk berdakwah sangatlah minim! Subhanallah, orang Arab bilang ‘Faaqidus syai’i laa yu’thii’ (orang yang tidak punya, tidak bisa memberi apa-apa). Bagaimana mereka mau mewarnai sementara mereka sendiri tidak tahu seperti apakah warna Islam yang sejati? Bagaimana mereka bisa memperbaiki sementara mereka sendiri tidak tahu seperti apa kebaikan yang sejati? Ya, nantinya mereka akan mengalami kejadian seperti yang dikatakan oleh salah seorang tokoh mereka sendiri, “Diwarnai dan bukannya mewarnai.” Dia juga mengatakan, “Sekarang sudah punya kekuasaan, berani nggak mendakwahkan tauhid dan memberantas syirik?”. Nah, apa ya mereka itu tidak mau berpikir? Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak punya ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati itu semua akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. al-Israa’: 36). Kami tak perlu meminta, namun bukti dan saksi telah berbicara…, bertaubatlah wahai harakiyyin!

Ayat ini menunjukkan wajibnya berlepas diri dan membenci syirik dan pelakunya (lihat al-Jadid, hal. 63). Itu artinya seorang muslim juga semestinya menjauhkan diri dari orang-orang musyrik dan tidak bergabung dengan komunitas mereka, sehingga semata-mata tidak berbuat syirik belum cukup baginya (lihat al-Mulakhash, hal. 47). Inilah yang dimaksud dengan istilah bara’ di dalam bab akidah, yaitu ‘memutus keterikatan hati dengan orang-orang kafir, tidak mencintai mereka, tidak membela mereka dan tidak menetap di negeri mereka -tanpa kepentingan yang dibenarkan-’ (lihat Kitab at-Tauhid li Shaff Awwal al-’Aali, hal. 96).

Membekali diri dengan ilmu merupakan kewajiban. Karena mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebuah kewajiban. Sementara hal itu tidak mungkin terwujud tanpa ilmu (lihat al-Mulakhash, hal. 46). Oleh sebab itu mempelajari tauhid -sebelum mendakwahkannya- adalah sebuah kewajiban, bahkan ia termasuk kewajiban yang paling agung!

Ayat ini juga menunjukkan salah satu rambu-rambu dakwah -sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Ali al-Halabi hafizhahullah dalam ceramahnya Manhaj al-Anbiya’ fi Da’wah ila Allah- bahwa dakwah semestinya ditegakkan secara berjama’ah (bersatu padu), bukan sendiri-sendiri (bercerai-berai). Sebagaimana diisyaratkan oleh ayat ini, “Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku”. Ini mengisyaratkan adanya persatuan/jama’ah. Sebagaimana dalam ayat lain Allah ta’ala menyebutkan, “Saling menasehati dalam kebenaran dan saling nenasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 3). Sebagaimana pula dalam ayat lain yang secara tegas memerintahkan, “Berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah berpecah belah…” (QS. Ali Imran: 103). Dan juga ayat-Nya (yang artinya), “Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang musyrik, yaitu yang memecah belah agamanya sehingga menjadi bergolong-golongan. Masing-masing merasa bangga dengan apa yang ada pada diri mereka.” (QS. ar-Ruum: 31-32). Dan perkumpulan apa pun yang dibuat oleh manusia tentu saja menuntut adanya sikap saling pengertian, bukan sikap ingin menang sendiri dan saling meremehkan. Kalau orang yang di pasar saja dengan akidah dan manhaj yang berbeda-beda bisa ‘bersatu’ demi mendapatkan keuntungan dunia, lalu mengapa para da’i -yang konon katanya memiliki akidah dan manhaj yang sama- yang menginginkan keuntungan akherat dengan dakwahnya justru bertikai dan memusuhi sesamanya? Apakah kita telah melupakan prinsip yang agung ini ayyuhal ikhwah?

http://www.abumushlih.com/

foto....akhi Nurman

Sabtu, Maret 13, 2010

Allah Pun Tertawa Karenanya

Allah Pun Tertawa Karenanya



Catatan Abu Mushlih Ari Wahyudi
Hari ini jam 14:35








Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, aku mengetahui orang yang paling terakhir keluar dari neraka dan orang yang paling terakhir masuk surga. Dia adalah seorang lelaki yang keluar dari neraka sembari merangkak. Allah tabaraka wa ta'ala berkata kepadanya, 'Pergilah kamu, masuklah ke dalam surga.' Kemudian diapun mendatanginya dan dikhayalkan padanya bahwa surga itu telah penuh. Lalu dia kembali dan berkata, 'Wahai Rabbku, aku dapati surga telah penuh.' Allah tabaraka wa ta'ala berfirman kepadanya, 'Pergilah, masuklah kamu ke surga.'.” Nabi berkata, “Kemudian diapun mendatanginya dan dikhayalkan padanya bahwa surga itu telah penuh. Lalu dia kembali dan berkata, 'Wahai Rabbku, aku dapati surga telah penuh.' Allah tabaraka wa ta'ala berfirman kepadanya, 'Pergilah, masuklah kamu ke surga. Sesungguhnya kamu akan mendapatkan kenikmatan semisal dunia dan sepuluh lagi yang sepertinya' atau 'Kamu akan memperoleh sepuluh kali kenikmatan dunia'.” Nabi berkata, “Orang itu pun berkata, 'Apakah Engkau hendak mengejekku, ataukah Engkau hendak menertawakan diriku, sedangkan Engkau adalah Sang Raja?'.” Ibnu Mas'ud berkata, “Sungguh, ketika itu aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tertawa sampai tampak gigi taringnya.” Periwayat berkata, “Maka orang-orang pun menyebut bahwa dialah sang penghuni surga yang paling rendah kedudukannya.” Dalam riwayat lain disebutkan: Maka Ibnu Mas'ud pun tertawa, lalu berkata, “Apakah kalian tidak bertanya kepadaku mengapa aku tertawa?”. Mereka menjawab, “Mengapa engkau tertawa?”. Beliau menjawab, “Demikian itulah tertawanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. -Ketika itu- mereka -para sahabat- bertanya, 'Mengapa anda tertawa wahai Rasulullah?'. 'Disebabkan tertawanya Rabbul 'alamin tatkala orang itu berkata, 'Apakah Engkau mengejekku, sedangkan Engkau adalah Rabbul 'alamin?'. Lalu Allah berfirman, 'Aku tidak sedang mengejekmu. Akan tetapi Aku Maha kuasa melakukan segala sesuatu yang Kukehendaki.'.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [2/314-315])



Hadits yang agung ini memberikan pelajaran, di antaranya:



1.Beriman terhadap keberadaan surga dan neraka. Surga merupakan tempat tinggal bagi orang-orang yang beriman, sedangkan neraka merupakan tempat tinggal orang-orang yang kufur kepada Rabbnya



2.Iman kepada hari akhir serta pembalasan amal manusia kelak di akherat



3.Iman kepada perkara gaib



4.Iman bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah benar-benar utusan Allah yang berbicara berlandaskan wahyu dari-Nya, bukan menyampaikan dongeng atau cerita yang beliau karang sendiri



5.Dorongan untuk beramal salih agar termasuk penduduk surga, dan peringatan dari kemaksiatan yang dapat menyeret pelakunya ke dalam jurang neraka



6.Boleh tertawa, dan hal itu bukanlah perkara yang dibenci dalam sebagian kondisi dan kesempatan. Hal itu juga tidak menyebabkan jatuhnya muru'ah/kehormatan selama tidak sampai melampaui batas kewajaran (lihat Syarh Muslim [2/315])



7.Boleh menirukan tertawanya orang lain dengan tujuan menggambarkan keadaan sosok yang patut diteladani sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Mas'ud menirukan tertawanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (lihat Fath al-Bari [11/503])



8.Pada hari kiamat kelak, Allah berbicara kepada hamba-hamba-Nya (lihat Shahih al-Bukhari, Kitab at-Tauhid, hal. 1490-1491)



9.Allah Maha kuasa atas segala sesuatu



10.Allah adalah Sang Raja (al-Malik) yang menguasai jagad raya



11.Allah adalah Rabb (pemelihara dan pengatur) alam semesta



12.Allah Maha berkehendak



13.Allah pun bisa tertawa, namun tertawanya Allah tidak sebagaimana makhluk. Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11). Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Para salaf telah bersepakat menetapkan 'tertawa' ada pada diri Allah. Oleh sebab itu wajib menetapkannya (menerimanya, pent) tanpa menyelewengkan maknanya, tanpa menolaknya, tanpa membagaimanakan sifatnya, dan tidak menyerupakannya. Itu merupakan tertawa yang hakiki yang sesuai dengan -keagungan- Allah ta'ala.” (lihat Syarh Lum'at al-I'tiqad, hal. 61)



14.Kenikmatan yang ada di Surga jauh berlipat ganda daripada kenikmatan di alam dunia (lihat Shahih Bukhari, Kitab ar-Riqaq, hal. 1329). Oleh sebab itu tidak selayaknya kenikmatan yang sedemikian besar 'dijual' demi mendapatkan kesenangan dunia yang sedikit dan sementara saja, bahkan tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan akherat



15.Khayalan atau perasaan tidak bisa dijadikan sebagai pegangan, tetapi yang dijadikan pegangan adalah wahyu/dalil atau perkataan orang yang benar-benar mengetahui/berilmu



16.Wajib mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya



17.Luasnya rahmat Allah ta'ala, tatkala orang yang paling terakhir keluar dari neraka pun masih merasakan kenikmatan surga yang sepuluh kali lipat dari kenikmatan dunia



18.Orang mukmin yang dihukum di neraka karena dosa besarnya maka suatu saat akhirnya diapun akan dikeluarkan darinya dan masuk ke dalam surga. Sehingga ini merupakan bantahan bagi Khawarij yang beranggapan bahwa pelaku dosa besar kekal di dalam neraka (lihat Syarh Muslim [2/323])



19.Ada sebagian orang beriman yang 'mampir' dulu ke neraka sebelum dimasukkan ke dalam surga, tentu saja hal itu bukan karena kezaliman Allah namun karena dosa besar yang mereka lakukan



20.Peringatan atas bahaya dosa-dosa besar bagi pelakunya di akherat kelak -apabila dia belum bertaubat darinya-, karena pelakunya termasuk golongan orang yang diancam dengan siksa neraka, wal 'iyadzu billah



21.Tidak boleh bersikap meremehkan dosa-dosa besar



22.Orang yang benar-benar memahami keutamaan tauhid bukanlah orang yang menganggap sepele dosa-dosa besar. Oleh sebab itu Ibnu Mas'ud pernah berkata, “Seorang mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah dia sedang duduk di bawah bukit yang dia khawatir akan runtuh menimpa dirinya. Adapun orang fajir melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di atas hidungnya kemudian cukup dia usir dengan cara seperti ini -yaitu dengan menggerakkan tangannya semata-.” (lihat Fath al-Bari [11/118])



23.Hadits ini juga menunjukkan keadilan Allah ta'ala dimana Allah memberikan hukuman kepada orang-orang yang berbuat dosa besar kelak di akherat sesuai dengan kehendak-Nya, meskipun bisa saja Allah berkehendak untuk mengampuninya (untuk sebagian hamba-Nya)



24.Hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang lebih dulu masuk surga



25.Anjuran untuk berlomba-lomba dalam beramal supaya bisa menjadi golongan orang yang terdahulu masuk surga



26.Orang yang masuk surga itu bertingkat-tingkat dalam hal keutamaan diri dan balasan yang mereka dapatkan



27.Hadits ini menunjukkan keutamaan tauhid, karena tidaklah orang masuk surga kecuali karena tauhid yang dilaksanakannya ketika di dunia



28.Hadits ini juga menunjukkan bahaya syirik dan kekafiran, karena tidaklah seorang kekal di dalam neraka melainkan karena sebab dosa syirik besar dan kekafiran yang dilakukan olehnya

SEORANG AYAH BERTAUBAT DENGAN SEBAB ANAKNYA YANG MASIH BERUSIA 7 TAHUN





SEORANG AYAH BERTAUBAT DENGAN SEBAB ANAKNYA YANG MASIH BERUSIA 7 TAHUN


Februari 4, 2009
Fariq Gasim Anuz




Satu lagi, kisah nyata di zaman ini. Seorang penduduk Madinah berusia 37 tahun, telah menikah, dan mempunyai beberapa orang anak. Ia termasuk orang yang suka lalai, dan sering berbuat dosa besar, jarang menjalankan shalat, kecuali sewaktu-waktu saja, atau karena tidak enak dilihat orang lain.

Penyebabnya, tidak lain karena ia bergaul akrab dengan orang-orang jahat dan para dukun. Tanpa ia sadari, syetan setia menemaninya dalam banyak kesempatan.


Ia bercerita mengisahkan tentang riwayat hidupnya:


“Saya memiliki anak laki-laki berusia 7 tahun, bernama Marwan. Ia bisu dan tuli. Ia dididik ibunya, perempuan shalihah dan kuat imannya.


Suatu hari setelah adzan maghrib saya berada di rumah bersama anak saya, Marwan. Saat saya sedang merencanakan di mana berkumpul bersama teman-teman nanti malam, tiba-tiba, saya dikejutkan oleh anak saya. Marwan mengajak saya bicara dengan bahasa isyarat yang artinya, ”Mengapa engkau tidak shalat wahai Abi?”


Kemudian ia menunjukkan tangannya ke atas, artinya ia mengatakan bahwa Allah yang di langit melihatmu.


Terkadang, anak saya melihat saya sedang berbuat dosa, maka saya kagum kepadanya yang menakut-nakuti saya dengan ancaman Allah.


Anak saya lalu menangis di depan saya, maka saya berusaha untuk merangkulnya, tapi ia lari dariku.


Tak berapa lama, ia pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, meskipun belum sempurna wudhunya, tapi ia belajar dari ibunya yang juga hafal Al-Qur’an. Ia selalu menasihati saya tapi belum juga membawa faidah.


Kemudian Marwan yang bisu dan tuli itu masuk lagi menemui saya dan memberi isyarat agar saya menunggu sebentar… lalu ia shalat maghrib di hadapan saya.


Setelah selesai, ia bangkit dan mengambil mushaf Al-Qur’an, membukanya dengan cepat, dan menunjukkan jarinya ke sebuah ayat (yang artinya):


”Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa adzab dari Allah Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaithan” (Maryam: 45)


Kemudian, ia menangis dengan kerasnya. Saya pun ikut menangis bersamanya. Anak saya ini yang mengusap air mata saya.


Kemudian ia mencium kepala dan tangan saya, setalah itu berbicara kepadaku dengan bahasa isyarat yang artinya, ”Shalatlah wahai ayahku sebelum ayah ditanam dalam kubur dan sebelum datangnya adzab!”


Demi Allah, saat itu saya merasakan suatu ketakutan yang luar biasa. Segera saya nyalakan semua lampu rumah. Anak saya Marwan mengikutiku dari ruangan satu ke ruangan lain sambil memperhatikan saya dengan aneh.


Kemudian, ia berkata kepadaku (dengan bahasa isyarat), ”Tinggalkan urusan lampu, mari kita ke Masjid Besar (Masjid Nabawi).”


Saya katakan kepadanya, ”Biar kita ke masjid dekat rumah saja.”


Tetapi anak saya bersikeras meminta saya mengantarkannya ke Masjid Nabawi.


Akhirnya, saya mengalah kami berangkat ke Masjid Nabawi dalam keadaan takut… Dan Marwan selalu memandang saya.


Kami masuk menuju Raudhah. Saat itu Raudhah penuh dengan manusia, tidak lama datang waktu iqamat untuk shalat isya’, saat itu imam masjid membaca firman Allah (yang artinya),


”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syetan, maka sesungguhnya syetan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan munkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui” (An-Nuur: 21)


Saya tidak kuat menahan tangis. Marwan yang berada disampingku melihat aku menangis, ia ikut menangis pula. Saat shalat ia mengeluarkan tissue dari sakuku dan mengusap air mataku dengannya.


Selesai shalat, aku masih menangis dan ia terus mengusap air mataku. Sejam lamanya aku duduk, sampai anakku mengatakan kepadaku dengan bahasa isyarat, ”Sudahlah wahai Abi!”


Rupanya ia cemas karena kerasnya tangisanku. Saya katakan, ”Kamu jangan cemas.”


Akhirnya, kami pulang ke rumah. Malam itu begitu istimewa, karena aku merasa baru terlahir kembali ke dunia.


Istri dan anak-anakku menemui kami. Mereka juga menangis, padahal mereka tidak tahu apa yang terjadi.


Marwan berkata tadi Abi pergi shalat di Masjid Nabawi. Istriku senang mendapat berita tersebut dari Marwan yang merupakan buah dari didikannya yang baik.


Saya ceritakan kepadanya apa yang terjadi antara saya dengan Marwan. Saya katakan, “Saya bertanya kepadamu dengan menyebut nama Allah, apakah kamu yang mengajarkannya untuk membuka mushaf Al-Qur’an dan menunjukkannya kepada saya?”


Dia bersumpah dengan nama Allah sebanyak tiga kali bahwa ia tidak mengajarinya. Kemudian ia berkata, “Bersyukurlah kepada Allah atas hidayah ini.”


Malam itu adalah malam yang terindah dalam hidup saya. Sekarang -alhamdulillah- saya selalu shalat berjamaah di masjid dan telah meninggalkan teman-teman yang buruk semuanya. Saya merasakan manisnya iman dan merasakan kebahagiaan dalam hidup, suasana dalam rumah tangga harmonis penuh dengan cinta, dan kasih sayang.


Khususnya kepada Marwan saya sangat cinta kepadanya karena telah berjasa menjadi penyebab saya mendapatkan hidayah Allah.”



( “Da’i Cilik”, Fariq Gasim Anuz, Penerbit: Darul Falah, Jakarta, Indonesia )

___________________________________
foto Lombok.....

SERTAKANLAH NAMAKU BERSAMAMU DALAM DOAMU


SERTAKANLAH NAMAKU BERSAMAMU DALAM DOAMU


Januari 4, 2010 Fariq Gasim Anuz







‘Ala Banafi’ bekerja di sebuah toko di pusat kota di Jeddah. Ketika terjadi bencana alam “Tsunami” akhir tahun 2004 di Aceh dan wilayah lainnya, akhi ‘Ala aktif mengikuti berita musibah tersebut dan merasakan prihatin dan sedih atas bencana yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh. Beliau sempat memberikan sebuah artikel dari internet sebagai bahan masukan bagi saya saat menyusun buku “Hikmah dibalik Musibah”, semoga Allah memberikan ganjaran di dunia dan akhirat atas kebaikannya tersebut.



Pernah terjadi suatu peristiwa sekitar 15 tahun lalu yang sangat berkesan bagi ‘Ala, beberapa waktu setelah ayahnya wafat, turunlah hujan dengan derasnya di kota Makkah tempat mereka tinggal, sampai-sampai air hujan mulai masuk ke dalam rumah membuat penghuni rumah menjadi panik. Adik perempuan ‘Ala yang masih kecil tanpa sadar berteriak dan memanggil ayahnya, “Abi!, Abi!, tolong kami!”. Adiknya secara refleks tanpa sadar memanggil ayahnya yang sangat ia cintai untuk menolongnya, padahal ayahnya telah wafat, semoga Allah merahmatinya.



‘Ala mempunyai adik laki-laki yang cacat, usianya 19 tahun. Sejak lahir ia hanya di tempat tidur. Ia menceritakan bagaimana kesabaran ibunya yang sampai sekarang tetap telaten merawat adiknya. Ala berkata bahwa jalan menuju sorga itu bermacam-macam, dan mungkin jalan ibunya menuju sorga adalah kesabarannya, yang pertama ditinggal wafat suaminya ketika anak-anaknya masih kecil dan kedua kesabarannya merawat anaknya yang cacat. Semoga harapan dan doa ‘Ala dikabulkan oleh Allah.



Saya teringat dengan sebuah pesan yang disampaikan seorang penyandang cacat bisu tuli, ia bernama Nail Munir berusia 30 tahun, warga Negara Saudi Arabia keturunan Banten Indonesia.. Beliau datang mencari saya ke kantor Islamic Center Di Jeddah pada awal bulan safar 1430 H , kami berkomunikasi dengan tulisan sampai menghabiskan beberapa lembar kertas bolak balik. Beliau ingin konsultasi tentang masalah pribadinya. Disela-sela komunikasi kami ada beberapa hal yang membuat saya kagum dan terharu darinya. Yang membuat saya kagum, akhi Nail meskipun cacat bisu dan tuli, beliau tidak minder dan tetap percaya diri, beliau pandai mengemudikan mobilnya sendiri. Hal itu saya ketahui ketika kami pergi ke rumah makan untuk makan malam bersamanya. Beliau meskipun cacat bisu dan tuli tidak menjadi beban bagi orang lain, akhi Nail bekerja di bagian tata usaha memegang komputer di sebuah sekolah luar biasa di kota Jeddah. Akhi Nail meskipun cacat bisu dan tuli tidak menghalanginya untuk tetap bermasyarakat dan berkomunikasi dengan manusia, beliau pandai berkomunikasi dengan bahasa isyarat kepada sesamanya dan berkomunikasi dengan bahasa tulisan dan bahasa isyarat kepada orang-orang yang normal yang beliau jumpai di toko, rumah makan, kantor Islamic center, pom bensin dan tempat-tempat umum lainnya, ia tidak menyendiri dan menjauhi manusia. Beliau meskipun cacat bisu dan tuli tidak menghalanginya untuk belajar dan memperdalam agama Islam lewat internet atau vcd/ dvd dimana ustadznya Syaikh Abdurrahman Jumáh dan selainnya menyampaikan berbagai materi pelajaran seperti tafsir Al Quran, Sirah Nabawiyyah, Sejarah Islam, Aqidah, Fiqih dengan bahasa isyarat. Jika akhi Nail ingin bertanya tentang masalah keislaman maka beliau mengirim sms kepada gurunya lalu gurunya menjawab lewat sms juga. Hal yang membuat saya terharu ketika akhi Nail meminta secarik kertas dan menasihati saya melalui tulisannya berbahasa Arab,



أنت لازم تتعلم لغة الإشارة

“Kamu harus belajar bahasa isyarat”



Ketika saya tanyakan mengapa? Beliau menjawab,



“Kasihan saudara-saudara kita di Indonesia yang tertimpa musibah cacat bisu dan tuli, bagaimana mereka bisa belajar Islam dan mengerti tauhid jika tidak ada yang mengajari dan membimbing mereka?”



Saya terharu membaca tulisannya yang menunjukkan kepekaan dan kehalusan perasaannya…



Maka dalam kesempatan ini saya menukilkan pesan akhi Nail ini kepada para aktivis dakwah dan mubaligh serta para penuntut ilmu di Indonesia, mudah-mudahan ada diantara kita yang memiliki kesempatan waktu dan mendapatkan taufik dari Allah sehingga dapat belajar bahasa isyarat dan mampu untuk berdakwah (secara langsung atau sebagai penerjemah) kepada saudara-saudara kita yang cacat bisu dan tuli.



Diantara sms yang dikirim oleh akhi ‘Ala kepada saya berisikan permohonan jika saya berdoa memohon jannah agar menyertakan namanya, juga mengingatkan kita untuk banyak melakukan shalat dan sujud kepada Allah sebagai kunci kebahagiaan, ia juga mendoakan untuk saya. Isi sms nya:



"Ketika engkau memohon surga kepada Allah 



Sertailah namaku bersama doamu



Karena sesungguhnya saya menginginkan



berdampingan denganmu di surga.



Ingatlah bahwa kunci kebahagiaan adalah



shalat dan sujud dihadapan Allah



Semoga Allah menjadikanmu



Sebagai golongan orang-orang yang berbahagia



Semoga Allah melindungimu dan keluargamu semuanya



dari segala bala bencana,



amin"



—— (Dari buku “Surat-Surat Cinta” hal 62-66, Oleh: Fariq Gasim Anuz, Penerbit: DarusSunnah Jakarta, Cetakan kedua, January 2010)


______________________________
foto Lombok......

Minggu, Maret 07, 2010

Dosa Terbesar di sisi al-Jabbar



Catatan Abu Mushlih Ari Wahyudi:


Dosa Terbesar di sisi al-Jabbar

20 Februari 2010 jam 20:02



Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu'anhu, beliau berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam; Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?”. Maka beliau menjawab, “Engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dialah yang telah menciptakanmu.” Abdullah berkata, “Kukatakan kepadanya; Sesungguhnya itu benar-benar dosa yang sangat besar.” Abdullah berkata, “Aku katakan; Kemudian dosa apa sesudah itu?”. Maka beliau menjawab, “Lalu, kamu membunuh anakmu karena takut dia akan makan bersamamu.” Abdullah berkata, “Aku katakan; Kemudian dosa apa sesudah itu?”. Maka beliau menjawab, “Lalu, kamu berzina dengan istri tetanggamu.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [2/153])

Hadits yang mulia ini mengandung pelajaran berharga, di antaranya:

1.Kemaksiatan yang terbesar adalah syirik, kemudian setelah itu pembunuhan tanpa alasan yang benar. Para ulama madzhab Syafi'i mengatakan bahwa dosa besar yang terbesar setelah syirik adalah pembunuhan (lihat Syarh Muslim [2/154])

2.Sebagaimana amalan itu bertingkat-tingkat keutamaannya, demikian pula dosa. Ada dosa besar dan ada dosa kecil. Dosa besar pun bertingkat-tingkat, sedangkan dosa besar yang terbesar adalah yang terkait dengan hak Allah (ibadah) yaitu mempersekutukan Allah dalam hal ibadah. Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatan syirik itu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. an-Nisaa': 48). Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah mengatakan, “Maka jelaslah berdasarkan ayat ini bahwa syirik merupakan dosa yang paling besar.” (Fath al-Majid, hal. 70)

3.Tauhid rububiyah -pengakuan Allah sebagai satu-satunya pencipta- sudah tertanam di dalam hati manusia (lihat Shahih Bukhari, Kitab Tafsir al-Qur'an, hal. 924)

4.Yang dimaksud menjadikan sekutu bagi Allah adalah beribadah kepada selain-Nya di samping beribadah kepada-Nya. Artinya seseorang beribadah kepada Allah dan juga kepada selain Allah (lihat Shahih Bukhari, Kitab Tafsir al-Qur'an, hal. 1003).

5.Tauhid rububiyah merupakan dalil atas tauhid uluhiyah. Orang yang mengakui bahwa Allah yang menciptakan dirinya maka sudah semestinya dia mempersembahkan ibadahnya hanya kepada Allah. Oleh sebab itu Nabi mengatakan bahwa dosa terbesar itu -yaitu syirik- adalah, “Engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dialah yang telah menciptakanmu.” Sebagaimana Allah tidak bersekutu dalam hal rububiyah (penciptaan, penguasaan, dan pengaturan alam) maka demikian pula dalam hal uluhiyah. Metode semacam ini sering kita temukan dalam al-Qur'an. Contohnya, firman Allah (yang artinya), “Wahai umat manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 21). Tauhid rububiyah merupakan pintu gerbang menuju tauhid uluhiyah (lihat Kitab Tauhid li Shaffil Awwal, hal. 36)

6.Bertanya kepada ahli ilmu atau ulama. Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Bertanyalah kepada ahli ilmu jika kamu tidak mengetahui perkara apa saja.” (QS. an-Nahl: 43)

7.Perbuatan membunuh anak karena takut dia makan bersama orang tuanya (alasan ekonomi) adalah sebuah tindakan biadab (lihat Shahih Bukhari, Kitab al-Adab, hal. 1239)

8.Perzinaan adalah perbuatan yang sangat keji dan dosa yang sangat besar (lihat Shahih Bukhari, Kitab al-Muharibin, hal. 1368)

9.Hamba dan perbuatannya adalah ciptaan Allah ta'ala (lihat Shahih Bukhari, Kitab at-Tauhid, hal. 1494). Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat.” (QS. ash-Shaffat: 96). Meskipun demikian, perbuatan yang dilakukan oleh manusia tidak di bawah tekanan dan dia melakukan sesuatu dengan pilihan dan kemampuannya sendiri. Oleh sebab itu, pelaku maksiat tidak boleh berdalil dengan takdir untuk membenarkan kemaksiatannya. Sesungguhnya berdalih dengan takdir untuk membenarkan kemaksiatan merupakan karakter orang-orang musyrikin. Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang berbuat syirik itu benar-benar akan mengatakan; Seandainya Allah menghendaki niscaya kami tidak akan berbuat syirik demikian pula bapak-bapak kami. Dan kami juga tidak akan pernah mengharamkan apapun -yang sebenarnya tidak haram, pent-. Demikian itulah tindakan pendustaan yang dilakukan oleh orang-orang sebelum mereka sampai mereka merasakan hukuman Kami...” (QS. al-An'am: 148)

10.Kewajiban Nabi adalah sekedar menyampaikan risalah/wahyu dan ketetapan dari Allah, bukan menyampaikan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu dan perasaannya, ataupun menampung keinginan dan paham kebudayaan kaumnya terhadap agama ini. az-Zuhri rahimahullah berkata, “Risalah berasal dari Allah 'azza wa jalla. Kewajiban Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah menyampaikannya. Adapun kewajiban kita adalah taslim/pasrah.” (lihat Shahih Bukhari, Kitab at-Tauhid, hal. 1496-1497). Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah dia -Muhammad- berbicara dengan dasar hawa nafsunya, akan tetapi itu adalah semata-mata wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. an-Najm: 3-4). Allah juga berfirman (yang artinya), “Tidaklah kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan -wahyu- dengan jelas.” (QS. al-Ankabut: 18). Oleh sebab itu, Allah menyebut orang yang menaati Rasul telah menaati Allah. Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang taat kepada Rasul itu sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” (QS. an-Nisaa': 80). Sehingga ini semua menjadi bantahan yang sangat jelas bagi kaum Liberal dan Pluralis yang beranggapan bahwa ajaran al-Qur'an yang diterapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah sebuah produk budaya, bukan wahyu yang suci dan harus dijunjung tinggi! Maha suci Allah dari busuknya keyakinan mereka... Inilah akibatnya -wahai saudaraku- tatkala manusia berpaling dari manhaj salaf, maka yang terjadi adalah kerancuan, kebimbangan, dan kerusakan akal yang pada akhirnya akan menyeret pelakunya ke jurang kehancuran! Maha benar Allah dengan firman-Nya (yang artinya), “Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengkuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Allah pun telah menyediakan untuk mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Itulah kemenangan yang sangat besar.” (QS. at-Taubah: 100)

11.Membunuh jiwa yang diharamkan adalah dosa besar, maka bagaimanakah lagi jika yang dibunuh adalah anaknya sendiri? Demikian juga, berzina adalah dosa besar, maka bagaimanakah lagi jika yang menjadi korban -suka atau tidak suka- adalah istri tetangganya?

12.Hadits ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan kepada umat manusia untuk menjaga agama, nyawa, dan kehormatan mereka. Karena perkara-perkara ini termasuk dalam maqashid syari'ah yang harus dijaga.

13.Hadits yang agung ini menunjukkan bahwa sebesar apapun kebencian orang terhadap pembunuhan dan perzinaan, maka kebencian mereka terhadap kemusyrikan harus lebih besar dari itu semua. Karena syirik adalah sebesar-besar dosa besar! Bahkan, meskipun syirik tersebut digolongkan dalam syirik ashghar yang tidak sampai membuat pelakunya keluar dari agama secara total, maka kebencian kita kepadanya harus lebih besar! Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu'anhu berkata, “Sungguh, aku bersumpah dengan nama Allah tapi dusta itu lebih aku sukai daripada bersumpah dengan selain nama Allah meskipun jujur.” (dinukil dari Fath al-Majid, hal. 402). Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata, “Kalau sikap seperti itu yang diterapkan terhadap syirik ashghar, lantas bagaimanakah lagi sikap terhadap syirik akbar yang menyebabkan pelakunya kekal di neraka?” (Fath al-Majid, hal. 402). Maka perhatikanlah diri kita masing-masing, wahai saudaraku. Seberapakah kualitas kebencian kita kepada syirik, ataukah kita justru meremehkan dan seolah menganggap kita pasti terbebas darinya? Allahul musta'an.